Dark
Light
Dark
Light

Haji, Arafah dan Humanisme Universal

Haji, Arafah dan Humanisme Universal

Hari Sabtu, 9 Dzulhijah atau 15 Juni 2024 jemaah haji seluruh dunia memulai kegiatan wukuf di Arafah Mekah. Wukuf di Arafah ini yang membedakan ibadah haji dengan ibadah yang lain. Bahkan, Arafah adalah subtansi haji. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw: “al-hajju Arafah”. Haji adalah wukuf Arafah (HR. Abu Dawud). 

Berbondong-bondong dua juta lebih jemaah haji dari seluruh penjuru dunia datang memenuhi panggilan Allah Swt. Labbaikallahumma labbaik. Labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan nikmata laka wal mulk. La syarikalaka. (Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya pujian dan kenikmatan hanya milik-Mu, dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).

Haji adalah panggilan Ilahiyah, sesuai dengan firman Allah Swt:  "(Wahai Ibrahim), serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 23). Dengan demikian, haji bukan soal kekayaan yang melimpah atau jabatan yang tinggi, namun karena semata-mata panggilan dari Sang Maha Esa. 

Seolah ‘mengabaikan’ kesehatan dan kepayahan, para jemaah haji datang ke Baitullah. Tua, muda bahkan lanjut usia --yang kadang merasakan masyaqqat dalam perjalanan ke Baitullah. Namun, semua tidak dihiraukannya karena semua jemaah haji sejatinya adalah para pecinta Allah Swt. Para pecinta tidak merasakan lelah, kesulitan ataupun kepayahan. Jemaah haji ini datang dari berbagai negara dunia. Mereka bermacam-macam; ada yang berkulit hitam, berkulit putih, berkulit kuning, sawo matang, dan lain sebagainya. Bahasa pun berbeda-beda. Pada haji inilah, momentum manusia saling mengenal berbagai suku bangsa dunia.   

Jika kita merefer pada Al-Qur’an, fenomena ‘perkenalan global’ ini diabadikan dengan indah dalam Al-Qur’an: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal (li ta'aarafuu). Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu”. (QS. Al-Hujurat: 13).

Dalam gramatikal Arab, asal kata lita’arafuu dalam ayat ini adalah ta’aarafa. Kata ta’arafa berasal dari kata ‘arafa yang berarti mengetahui atau mengenal. Dengan menjadi ta’arafa, berarti saling mengetahui atau saling mengenal. Lita’arafuu berarti agar supaya kamu saling kenal-mengenal. Dalam haji ini, kita bisa saling mengenal dengan berbagai Muslim dunia; Turki, Bangladesh, India, Pakistan, Tiongkok, Jepang, Uzbekistan, Bosnia, Belanda, dan lain sebagainya. Dengan hanya menggunakan timing haji, kita pun bisa bertemu dengan berbagai karakter dan budaya manusia dari lima benua dunia; Asia, Afrika, Amerika, Australia dan juga Eropa. 

Ayat ini secara implisit juga berbicara tentang humanisme universal dimana tidak ada manusia yang lebih tinggi derajatnya atas manusia yang lain. Semuanya sama derajatnya di hadapan Allah Swt. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw: “Laa fadla li ’arabiyyin ‘ala a’jamiyin wa la li ’ajamiyin ‘ala arabiyyin wala li abyadla ‘ala ahmara wala li ahmara ‘ala abyadla illa bit taqwa.”. (HR. Ahmad). Orang Arab tidak lebih baik daripada orang non-Arab. Sebaliknya, orang Non-Arab tidak lebih baik daripada orang Arab. Orang kulit hitam tidak lebih baik dari pada orang kulit merah. Orang kulit merah tidak lebih baik daripada orang kulit hitam kecuali dengan takwa.

Tidak hanya itu, ayat di atas tidak semata berbicara humanisme universal per se, melainkan juga berbicara subtansi yang berharga dalam peradaban manusia.  Bukan material kekayaan, jabatan, kedudukan dan pangkat yang tinggi, namun berupa orientasi hidup yang abadi bernama ketakwaan. Dari ketakwaan inilah, derajat ketinggian manusia diukur.  Meskipun kita sadar, Dzat yang mengukur ketakwaan manusia adalah Allah Swt, bukan sesama manusia lainnya. 

Dalam konteks ini, maka Allah Swt. berfirman: “Inna akramakun inddallahi atqaakum”. (QS. Al Hujurat: 13). Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Mereka yang bertakwa adalah yang paling taat menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.  

Ketika wukuf di Arafah, saat manusia menghadap Allah Swt dalam keadaan aslinya; tak ada kosmetika, tak ada wangi-wangian, tak ada juga pakaian kebesaran, tak ada jabatan, dan sebagainya. Di sinilah, hakikat ketakwaan manusia yang bersifat abadi itu diukur. Hanya dua helai pakaian ihram putih yang dibawa di Arafah. Oleh karenanya, pesan di Arafah adalah satu hal: semua di dunia tak ada ada yang lebih penting, kecuali ketakwaan.

Haji, oleh karenanya, mengajarkan manusia untuk memburu ketakwaan yang bersifat abadi. Karena dengan ketakwaan ini manusia diangkat derajatnya selama-lamanya. Ketakwaan ini yang seyogyanya kita banggakan seperti perkataan Ibnu Athailah al-Iskandari dalam magnum opus-nya Kitab Hikam (tt). “In aradta an yakuuna ‘izzun laa yafna, fala tastaizzanna bi’izzin yafna. Jika kau ingin kemuliaan yang selama-lamanya, maka jangan kau banggakan kemuliaan yang fana”. Kemuliaan yang selamanya adalah kemuliaan karena takwa. Kemuliaan yang sementara adalah kemuliaan karena harta, pangkat dan jabatan fana lainnya. Kita tidak boleh bangga dengan kemuliaan yang fana berupa harta, pangkat dan jabatan, namun banggalah dengan kemuliaan yang selama-lamanya berupa ketakwaan.  

Dalam haji, manusia diajari untuk berburu kemuliaan yang selamanya. Kemuliaan selamanya ini menjadi sesuatu yang berada dan langgeng di sisi Allah Swt. Allah Swt berfirman: “Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal”. (QS. An-Nahl: 96). 

Di sinilah, dalam hemat saya, salah satu sumbangan Islam pada peradaban dunia. Seperti pengakuan HAR. Gibb, seorang Orientalis tentang Islam, “Islam is indeed much more than a theology its complete civilization”. Islam tidak hanya sekadar berisikan ajaran teologi, tetapi ia sarat dengan peradaban. Haji adalah salah satu sumber nilai peradaban dunia sendiri. Semoga. 

Penulis adalah Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Sidiq Jember, Direktur World Moslem Studies Center


$data['detail']->authorKontri->kontri

M Noor Harisudin
Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Sidiq Jember, Direktur World Moslem Studies Center


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo