Dark
Light
Dark
Light

Malam Lailatul Qadar: Keutamaan dan Kejadian di Dalamnya

Malam Lailatul Qadar: Keutamaan dan Kejadian di Dalamnya

Arina.id - Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh keberkahan dan kemuliaan dalam Islam. Malam ini memiliki keistimewaan yang luar biasa karena disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Salah satu keutamaan utama Lailatul Qadar adalah sebagai malam ampunan.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Suyuthi dalam kitab Dur Mansur, menyebut hadits ini menunjukkan bahwa siapa pun yang beribadah pada malam tersebut dengan penuh keikhlasan dan keyakinan akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Oleh karena itu, malam ini menjadi kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk bertobat dan memohon rahmat dari Allah.

Lebih lanjut, kata Imam Suyuthi, amal ibadah yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar, seperti bersedekah, sholat, dan membayar zakat, memiliki keutamaan yang melebihi amalan yang dilakukan selama seribu bulan. Hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT melipatgandakan pahala bagi siapa saja yang mengisi malam tersebut dengan kebaikan. 

Simak penjelasan Imam Suyuthi berikut:

العمل في ليلة القدر والصدقة والصلاة والزكاة أفضلُ من ألف شهر

Artinya: "Amalan pada malam Lailatul Qadar, seperti bersedekah, sholat, dan membayar zakat, lebih utama daripada seribu bulan." [Imam Suyuthi, Dur Mansur, Jilid XV , halaman 533].

Keutamaan lain dari malam Lailatul Qadar adalah turunnya Jibril dan para malaikat lain dengan membawa ketentuan dan rahmat dari Allah SWT. Malam ini disebut sebagai malam penuh kedamaian hingga fajar menyingsing, yang menandakan bahwa siapa pun yang mengisinya dengan ibadah akan mendapatkan ketenangan jiwa dan limpahan kasih sayang dari Allah. 

Sementara itu, Syekh Abdul Qadir Jailani dalam kitab Al-Ghunyah mengatakan bahwa Lailatul Qadar, malam penuh keberkahan yang hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad sebagai bentuk rahmat dan karunia dari Allah. Malam ini lebih baik dari seribu bulan, sehingga setiap amal kebaikan yang dilakukan pada malam tersebut akan mendapatkan pahala yang luar biasa. [Syekh Abdul Qadir Jailani, Kitab Al-Ghunyah, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1997 M], Jilid II, halaman 26].

Lebih jauh lagi, kata Syekh Abdul Qadir Jailani, malam ini dipenuhi dengan turunnya malaikat yang membawa kedamaian dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Malaikat Jibril turun bersama 70.000 malaikat, menyampaikan salam kepada orang-orang yang sedang beribadah, dan bahkan kepada mereka yang sedang tidur dalam keadaan suci dan beriman.

Namun ada yang menarik menurut Syekh Abdul Qadir Jailani, para malaikat yang turun ke bumi ini memberi salam kepada ahli ketaatan, tetapi tidak memberi salam kepada ahli maksiat. Di antara yang tidak mendapat salam dari malaikat adalah orang-orang zalim,  pemakan harta haram, pemutus tali silaturahmi, penyebar fitnah (namimah), dan pemakan harta anak yatim. Maka, musibah apa yang lebih besar daripada musibah ini?

وقيل: إن الملائكة تسلم على أهل الطاعات ولا تسلم على أهل العصيان، فمنهم الظلمة ليس لهم نصيب في سلام الملائكة، وآكل الحرام وقاطع الرحم والنمام وآكل أموال اليتامى، ليس لهم نصيب في سلام الملائكة، فأي مصيبة أعظم من هذه المصيبة؟.

Artinya: "Dikatakan bahwa para malaikat memberi salam kepada ahli ketaatan, tetapi tidak memberi salam kepada ahli maksiat. Di antara mereka ada orang-orang zalim yang tidak mendapatkan bagian dari salam para malaikat, begitu pula pemakan harta haram, pemutus tali silaturahmi, penyebar fitnah (namimah), dan pemakan harta anak yatim—mereka tidak mendapatkan bagian dari salam para malaikat. Maka, musibah apa yang lebih besar daripada musibah ini?" [Syekh Abdul Qadir Jailani, Kitab Al-Ghunyah, Jilid II, halaman 26]

Terkait turunnya malaikat, ditegaskan langsung Allah dalam surat Al-Qadr ayat 4, Allah berfirman: 

تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ۝٤

Artinya: "Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan." 

Mengenai ayat ini, Syekh Abdul Qadir berkata bahwa pada malam Lailatul Qadar, keberkahan dan rahmat Allah menyelimuti seluruh tempat yang dihuni oleh mukminin dan mukminat. Para malaikat turun ke bumi dalam jumlah yang tak terhitung, memenuhi setiap sudut yang dipenuhi dengan ibadah, sujud, dan doa. Mereka terus berdoa bagi orang-orang beriman, memohonkan kebaikan dan ampunan bagi mereka.

Di antara para malaikat yang turun adalah Jibril yang memiliki tugas istimewa. Ia tidak melewatkan satu pun dari kaum mukminin dan mukminat tanpa memberikan salam kepadanya. Bagi mereka yang dalam ketaatan, ia memberi salam dengan kabar penerimaan dan kebaikan. Sedangkan, bagi yang tengah bermaksiat, ia tetap menyampaikan salam dengan harapan pengampunan dari Allah. 

Pun, bagi mereka yang sedang tidur, salamnya adalah doa agar mereka mendapatkan keridhaan Allah. Sementara bagi mereka yang telah berada di dalam kubur, salam Jibril adalah doa ketenangan dan kenikmatan. Malam Lailatul Qadar benar-benar merupakan malam penuh kasih sayang dan keberkahan, di mana seluruh penduduk langit turut serta dalam mendoakan kebahagiaan bagi orang-orang beriman. [Al-Ghunyah, Jilid II, halaman 26]

Pada sisi lain, Imam Al-Baghawi dalam kitab tafsir Maalim at-Tanzil, menyebut bahwa ayat ini menjelaskan tentang turunnya para malaikat dan Ruh Amin, yakni Jibril pada malam Lailatul Qadar. Sejatinya, malaikat turun dengan membawa segala urusan yang penuh kebaikan dan keberkahan atas perintah Allah. 

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 yang menyatakan bahwa para malaikat menjaga manusia sesuai dengan ketetapan Allah. Turunnya malaikat ini menandakan bahwa malam tersebut adalah malam yang penuh dengan rahmat dan keberkahan, di mana ketentuan Allah diturunkan untuk hamba-hamba-Nya.  

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ ۝١١

Artinya: "Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." [QS. Ar-Ra’du ayat 11]

Lebih lanjut, Imam Al-Baghawi juga mengutip pendapat Atha’ dan Asy-Sya’bi mengenai makna “سلام” (kedamaian) dalam ayat tersebut. Atha’ berpendapat bahwa malam tersebut membawa keselamatan bagi para wali Allah dan orang-orang yang taat kepada Allah. 

Sementara Asy-Sya’bi menafsirkan bahwa pada malam Lailatul Qadar, para malaikat memberikan salam kepada penghuni masjid sejak matahari terbenam hingga fajar menyingsing. Sejatinya, ini menggambarkan keistimewaan malam Lailatul Qadar sebagai malam yang penuh kedamaian. Para malaikat turun untuk menyampaikan salam dan keberkahan kepada orang-orang yang beribadah.

قوله - عز وجل - : ( تنزل الملائكة والروح ) يعني جبريل - عليه السلام - معهم ، ( فيها ) أي في ليلة القدر ، ( بإذن ربهم من كل أمر ) أي بكل أمر من الخير والبركة ، كقوله : “ يحفظونه من أمر الله “ ( الرعد - 11 ) أي بأمر الله . ( سلام ) قال عطاء : يريد : سلام على أولياء الله وأهل طاعته . وقال الشعبي : هو تسليم الملائكة ليلة القدر على أهل المساجد من حيث تغيب الشمس إلى أن يطلع الفجر

Artinya: "Firman Allah SWT: “تنزل الملائكة والروح” (Turunlah para malaikat dan Ruh) – yang dimaksud dengan Ruh di sini adalah Jibril ‘alaihissalam, yang turun bersama para malaikat. “فيها” (di dalamnya) – maksudnya adalah pada malam Lailatul Qadar. “بإذن ربهم من كل أمر” (dengan izin Tuhan mereka untuk setiap urusan) – yakni membawa segala ketetapan yang berisi kebaikan dan keberkahan. Sebagaimana dalam firman Allah: “يحفظونه من أمر الله” (Ar-Ra’d: 11) yang bermakna dengan perintah Allah. “سلام” (sejahtera) – menurut Atha’, maksudnya adalah keselamatan bagi para wali Allah dan orang-orang yang taat kepada-Nya. Sedangkan menurut Asy-Sya’bi, yang dimaksud adalah para malaikat memberikan salam kepada para penghuni masjid dari waktu terbenamnya matahari hingga terbit fajar pada malam Lailatul Qadar." [Imam Baghawi, Ma’alim Tanzil, [Saudi Arabia, Dar Thaibah, tt], jilid VIII, halaman 492]. 

Dengan demikian, Lailatul Qadar adalah malam istimewa yang dianugerahkan Allah kepada umat Islam sebagai kesempatan untuk meraih ampunan, penerimaan amal, dan pembebasan dari neraka. Keutamaannya lebih baik daripada seribu bulan, dan pada malam ini para malaikat turun ke bumi untuk memberikan salam dan memohonkan ampun bagi umat Islam. 

Untuk itu, seyogianya setiap Muslim seharusnya bersungguh-sungguh dalam mencari malam ini dengan memperbanyak ibadah, dzikir, dan doa agar mendapatkan keberkahan dan rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo