Arina.id - Menelusuri sejarah Ka’bah yang ada dalam Masjidil Haram menjadi daya tarik tersendiri. Pasalnya, tiap bagiannya memiliki sejarah, seperti rukun Yamani, Multazam, Hajar Aswad, Mizab, Makam Ibrahim, Hijir Ismail, dan Air Zamzam. Berkenaan dengan hal ini, kiranya perlu mengenal satu persatu item di Masjidil Haram, khususnya yang terdapat dalam Ka’bah, misal Mizab Ka’bah atau talang air Ka’bah.
Mizab atau talang air Ka’bah terletak di bagian atas Ka'bah, tepat berada di arah Hijr Isma'il atau disebelah barat daya Ka'bah. Talang ini berada sekitar 60 cm di bawah atap Ka'bah. Mizab ini berfungsi untuk memperlancar jalannya air saat hujan atau saat pencucian Ka'bah.
Pada bagian depan Mizab Ka’bah terdapat tulisan: Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah. Sedangkan di sisi kirinya tertulis kalimat dalam bahasa Arab:
جدد هذا الميزاب من خادم الحرمين الشريفين الملك فهد بن عبد العزيز ال سعود ملك المملكة العربية السعودية سنة 1417 هجرية
Artinya: "Talang ini diperbaharui oleh pelayan dua Tanah Suci, Fahd bin 'Abdul Aziz Al-Sa'ud, Raja Saudi Arabia tahun 1417 Hijriah."
Ibnu Hisham meriwayatkan dari Ibnu Ishaq, yang berkata: "Ketika Rasulullah berusia 35 tahun, kaum Quraisy berkumpul untuk membangun kembali Ka’bah. Mereka bermaksud untuk membangunnya dengan atap, tetapi mereka takut untuk menghancurkannya. Akan tetapi, Ka'bah itu hanya berupa tumpukan puing yang tingginya lebih dari kepala manusia, sehingga mereka ingin meninggikannya dan memasang atap, karena ada orang yang mencuri harta karun milik Ka’bah.”
Dulu, bangunan Ka’bah bentuknya terbuka tidak ada atapnya. Kemudian oleh kaum Quraisy diadakan pembangunan dengan menutup atap Ka’bah degan dua lapis atap. Pada atap bagian atas berlapis dengan marmer putih yang dikelilingi pagar tembok yang menyatu dengan tembok pada Ka’bah dengan tinggi 80 cm. Kemudian di atasnya menancap kayu-kayu kokoh sebagai tempat mengikat tali kiswah.
Di atap juga terdapat pintu dari besi baja dengan ukuran 1,27 m x 1 m untuk memudahkan petugas naik turun ke atas guna mencuci dan membersihkan Ka’bah. Talang emas Ka’bah yang sekarang ini adalah yang ke-12 sejak pertama dibangun oleh kaum Quraisy.
Talang emas Ka’bah dibangun oleh Kesultanan Turki Utsmani yaitu Sultan Abdul Majid Khan di Konstatinopel/Istanbul. Kemudian disempurnakan oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz dengan penambahan paku-paku di atasnya. Sekarang talang emas Ka’bah mempunyai panjang 1,96 meter, tinggi 23 cm, dan memiliki lebar 26 cm. Talang ini dibuat dari tembaga berlapis emas sehingga disebutlah sebagai talang emas Ka’bah.
Secara urutan waktu perubahan mizab sebagai berikut:
- Mīzāb (talang air) pertama yang digunakan untuk Ka’bah adalah yang dibuat oleh kaum Quraisy ketika membangunnya sebelum masa kenabian.
- Masa Abdullah bin Zubair ketika ia membangun kembali Ka'bah pada tahun 684 M.
- Masa Al-Hajjaj bin Yusuf yang membangun kembali Ka'bah pada tahun 692 M.
- Masa Syekh Abu al-Qasim Ramesht, yang dicapai budaknya setelah kematiannya pada tahun 1142 M.
- Masa Al-Muqtafi pada tahun 1146 M.
- Masa Al-Nasir pada tahun 1279 M.
- Masa Sulaiman Agung pada tahun 1551 M.
- Talang air yang dibuat dari Mesir pada tahun 1554 M.
- Masa Sultan Utsmaniyah Ahmed I bin Muhammad III pada tahun 1612 M.
- Masa Sultan Abdulmejid I pada tahun 1856 M.
- Kemudian talang air yang dikirim bersama Haji Rida Pasha pada tahun 1859 M.
- Masa pemerintahan Raja Fahd bin Abdulaziz pada tahun 1997, yang sekarang ini lebih kuat.
Dari sini dapat dipahami bersama bahwa sejak masa Rasulullah hingga sekarang, talang air Ka'bah telah melewati beberapa kali perbaikan yang kemudian pembaruan menggunakan lapisan emas oleh Fahd bin 'Abdul Aziz Al-Sa'ud, Raja Saudi Arabia pada tahun 1417 Hijriah lebih kuat dan kokoh.
Biasanya jika hujan turun, banyak jamaah umrah dan haji berebut untuk berada di bawah talang air emas ini. Sebab keutamaannya menurut para ulama salaf jika berdoa di bawah Mizab itu doanya mustajab. Oleh sebab itu, banyak jamaah yang ingin berada di kawasan ini. Menyaksikan dari dekat keberadaan talang emas sekaligus berada di kawasan Hijir Ismail. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


