Arina.id - Ka'bah, bangunan suci berbentuk kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram, Makkah, adalah pusat perhatian umat Islam di seluruh dunia. Ada sebuah kepercayaan populer yang beredar, baik di kalangan jemaah haji maupun masyarakat umum: konon katanya, burung tidak bisa terbang di atas Ka'bah. Benarkah demikian?
Asal-Usul Keyakinan
Keyakinan bahwa burung tidak bisa terbang melintasi Kabah banyak diungkapkan oleh ulama-ulama tafsir, khususnya ketika mereka membahas ayat ke 96-97 surat Ali imran:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَٰلَمِينَ. فِيهِ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ
Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya (Baitullah) terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.
Saat menafsiri kalimat “padanya (Baitullah) terdapat tanda-tanda yang nyata”, banyak ulama tafsir yang menyatakan bahwa salah satu tanda yang nyata tersebut adalah ketidakmampuan burung terbang melintasinya.
Seperti bisa kita lihat dalam kitab tafsir karya Syekh Nawawi Al-Bantani, Marahul Labid, J. I, h. 142:
فيه ءايت بينت. اى علامات واضحة كانحراف الطيور عن موازاة البيت فلا تعلو فوقه بل اذا قابل هواه و هو في الجو انحرف عنه يمينا و شمالا، و لا يستطع ان يقطع هواه الا اذا حصل له مرض فيدخل هواه للتداوى
Artinya: “Pada baitullah terdapat tanda-tanda yang nyata, maksudnya tanda tanda yang jelas seperti menyingkirnya burung burung dari sejajar dengan baitullah, maka burung burung tidak terbang di atasnya, tetapi ketika berhadapan dengan udaranya baitulah sedangkan burung tersebut di angkasa maka dia menyingkir ke kanan dan ke kiri dan tidak mampu memasuki udaranya baitullah kecuali jika dalam keadaan sakit maka bisa memasukinya untuk berobat”.
Hal yang sama diungkapkan pula dalam kitab Tafsir Al-Baghawi:
ومن الآيات في البيت أن الطير تطير فلا تعلو فوقه
Artinya: “Termasuk tanda-tandanya baitullah adalah sesungguhnya burung yang sedang terbang tidak terbang di atasnya”.
Demikian juga ditulis oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab Tafsir Kabir:
الفضيلة الرابعة : أن الطيور تترك المرور فوق الكعبة عند طيرانها في الهواء بل تنحرف عنها إذا ما وصلت إلى فوقها .
Artinya: “Keutamaan yang ke empat adalah sesungguhnya burung tidak melewati diatas Ka'bah ketika terbang di udaranya tetapi mereka menyingkir darinya ketika sampai diatas Ka'bah”.
Meskipun demikian, tidak ditemukan satupun hadits yang membicarakan perihal tentang burung yang tidak bisa terbang melintasi Ka'bah.
Fakta Ilmiah
Secara ilmiah, tidak ada hukum alam yang melarang burung untuk terbang di atas Ka'bah. Burung adalah makhluk bebas, dan banyak spesies burung memang terbang melintasi wilayah Masjidil Haram. Bahkan, kabar bahwa pesawat terbang tidak bisa melintasi Ka'bah karena adanya medan magnet juga terbantahkan oleh fakta ilmiah bahwa di area tersebut tidak ada medan magnet. Kalaupun pesawat terbang tidak melintasinya adalah karena sebab ideologis dan penghormatan terhadap Ka’bah belaka.
Bahkan, pada tanggal 25 Agustus 2021, akun Inside the Haramain atau @insharifain mengunggah foto burung yang hinggap di Ka’bah, tepatnya di kain kiswah yang mengelilingi Ka’bah. Sehingga bisa dikatakan bahwa secara ilmiah, burung tidak bisa terbang melintasi Ka’bah hanyalah mitos belaka.
Sikap Bijak
Lantas apakah Imam Nawawi salah? Aapakah mayoritas ulama tafsir salah? Bagi penulis pribadi, kemungkinan besar para ulama yang membuat pernyataan bahwa burung tidak bisa terbang di atas Ka’bah sedang berusaha menggambarkan kepada para pembaca di zamannya tentang betapa istimewanya Ka’bah. Setelah mereka melakukan pengamatan pada saat itu, mereka menyaksikan dan memiliki keyakinan bahwa salah satu keistimewaan Ka’bah adalah hal tersebut.
Kita masih bisa berbaik sangka kepada para penafsir tersebut dengan ber-alibi bahwa mungkin saja burung yang hinggap di Ka’bah tersebut adalah burung yang sedang sakit untuk bertobat sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Nawawi.
Penulis pribadi lebih cenderung meyakini bahwa keistimewaan Ka’bah adalah sakralitas yang berada di dalamnya, di mana sepanjang sejarah begitu banyak doa yang dipanjatkan di tempat tersebut. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


