Mencium tangan adalah tanda penghormatan dan kecintaan. Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw., ada beberapa tangan yang pernah mendapatkan kehormatan untuk dicium oleh Rasulullah. Hal ini tentu memiliki makna dan nilai spiritual yang mendalam. Peristiwa ini mengandung pelajaran besar tentang penghormatan, kerendahan hati, dan penghargaan kepada individu-individu yang dimuliakan oleh Allah Swt.
Tangan yang pernah dicium oleh Rasulullah ialah tangan seorang kuli batu. Dalam satu riwayat yang dikisahkan Anas ibn Malik, ketika Nabi Muhammad Saw. baru saja pulang dari ekspedisi Perang Tabuk, beliau melihat seorang tukang batu bernama Sa’ad ibn Mu’adz sedang bekerja keras di tengah teriknya matahari gurun pasir. Pekerjaan yang berat itu membuat tangannya menjadi hitam, kasar, melepuh dan terluka. Pekerjaan itu ia lakukan sehari-hari demi memenuhi kebutuhan anak dan istrinya di rumah:
عن أنس بن مالك قال: أقبل رسول الله صلى الله عليه وسلم من غزوة تبوك فاستقبله سعد بن معاذ الأنصاري، فصافحه النبي صلى الله عليه وسلم ثم قال له: ((ما هذا الذي أكفت يداك؟)) فقال: يا رسول الله أضرب بالمر والمسحاة في نفقة عيالي، قال: فقبل النبي صلى الله عليه وسلم يده وقال: (هذه يد لا تمسها النار)
Artinya: Dari Anas bin Malik Ra. berkata: ‘Rasulullah Saw. pulang dari peperangan Tabuk lalu disambut oleh Saad bin Muadz al-Ansari, lantas Nabi Saw. bersalaman dengannya kemudian Baginda bertanya: ‘Apakah yang menyebabkan tanganmu menjadi kasar?’ Dia pun menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku selalu memukul dengan tali dan penyodok tanah untuk menafkahi keluargaku.’ lalu Nabi Saw. pun mencium tangannya dan bersabda: ‘Inilah tangan yang tidak akan disentuh api neraka.
Pada kesempatan lain, Rasulullah Saw. juga pernah mencium tangan Sahabat Mu’adz bin Jabal. Ketika sedang bersalaman dengan Rasulullah, tangannya terasa kasar dan kapalan. Rasulullah bertanya mengapa tangannya menjadi demikian. Mu’adz menjelaskan bahwa kerja kerasnya selama ini yang membuat tangannya menjadi demikian. Rasulullah lantas mencium tangan tersebut seraya berkata: “Tangan ini dicintai Allah dan Rasul-Nya, serta tidak akan tersentuh api neraka”.
Peristiwa lainnya ialah Rasulullah Saw. pernah mencium tangan puteri tercintanya yaitu Sayyidah Fatimah Az Zahra. Alasan beliau mencium tangan Sayyidah Fatimah bukan semata karena ia adalah putri kesayangan Rasulullah, namun karena tangan itu kasar dan melepuh akibat Sayyidah Fatimah terlalu rajin bekerja keras menggiling gandum untuk menyiapkan makan bagi putra-putrinya.
Dari kisah ketiga tangan yang dicium oleh Rasulullah di atas, kita bisa mengetahui bahwa tangan yang dipilih oleh Rasulullah untuk dicium sebagai tanda cinta dan penghormatan, bahkan dinyatakan terbebas dari api neraka, bukanlah tangan seorang pemimpin suku/kabilah, bukan pula tangan seorang saudagar kaya raya, atau seorang alim cerdik cendekia. Malahan yang dipilih oleh Rasul untuk dicium ialah tangan seorang pekerja keras demi mendapatkan rezeki yang halal bagi keluarganya.
Rasulullah Saw. begitu menyanjung seseorang yang bekerja keras untuk mendapatkan rezeki yang halal. Hingga pada kesempatan yang lain, beliau juga bersabda:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
Artinya: “Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya (bekerja) sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud as. memakan makanan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari)
Terlebih lagi jika pekerjaan yang dilakukan tersebut diniatkan untuk memberi nafkah keluarganya:
مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا أَطْيَبَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَخَادِمِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ
Artinya: Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya (bekerja) sendiri. Dan apa saja yang dinafkahkan oleh seorang laki-laki kepada diri, istri, anak dan pembantunya adalah sedekah. (HR. Ibnu Majah)
Bekerja untuk menafkahi anak istri dan orang-orang lainnya yang wajib dinafkahi adalah sebuah ibadah. Hal yang demikian lebih mulia daripada meminta belas kasihan orang lain, karena sesungguhnya orang yang suka meminta-minta sama halnya seperti orang yang menutup wajahnya dengan topeng.
Rasulullah Saw. bersabda:
إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ
Artinya: Sesungguhnya, meminta-minta itu adalah topeng yang dikenakan seseorang pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa. (HR Tirmidzi)
Kesimpulannya, para pekerja keras yang melakukan pekerjaan untuk mendapatkan rezeki halal bagi dirinya dan keluarganya merupakan orang-orang yang sangat spesial di hadapan Rasulullah Saw. oleh karena itu, hikmah yang bisa kita ambil adalah kita perlu bekerja dengan keras bahkan hingga tangan kita menjadi kasar dan melepuh sekalipun tak mengapa. Karena justru tangan semacam itulah yang layak dicium oleh Rasulullah Saw.
Editor: Muhammad Zunus


