Dark
Light
Dark
Light

Novel Duri dan Kutuk: Mengungkap Masalah Hak Kesehatan Reproduksi Remaja dan Victim Blaming

Novel Duri dan Kutuk: Mengungkap Masalah Hak Kesehatan Reproduksi Remaja  dan Victim Blaming

Sebuah novel setebal 190 halaman memuat banyak isu menarik. Cerita di dalamnya menggabungkan tema tubuh, tumbuhan, hak kesehatan reproduksi (HKSR) remaja, victim blaming, dan pelecehan seksual. Semua tema itu berhasil menghadirkan narasi yang kompleks tentang seksualitas, kedewasaan, dan kutukan.

Novel bergenre realis magis ini berjudul Duri dan Kutuk (GPU, 2024) susunan Cicilia Oday. Pembaca dikenalkan pada tiga tokoh kunci: Adam (anak laki-laki yang penyendiri dan sedang memasuki fase pubertas). Eva (Perempuan ajaib keturunan pohon tetangga Adam), Sara (Ibu adam yang ceroboh dan selalu meyakini bahwa pikirannya yang paling benar). 

Secara garis besar, Duri dan Kutuk bercerita tentang Adam dan hubungannya dengan Eva—tetangga barunya yang misterius dan penuh daya tarik.  Adam, bocah berusia 13 tahun yang baru memasuki masa pubertas mulai merasakan gejolak seksual dan kebingungan terhadap tubuhnya sendiri. Konflik bermula ketika Adam memilih menuruti seluruh gejolak nafsunya dengan mengintip Eva dari jendela kamar. Ia bermain fantasi seksual di kamarnya. Kejadian itu membuat tanaman milik Eva marah lalu memberi kutukan rasa sakit pada organ intim Adam. Sarah, sang Ibu yang melihat anaknya berubah mulai membangun narasi gegabah bahwa Eva telah melakukan pelecehan pada Adam. 

Dari banyaknya isu yang diangkat, saya tertarik untuk menyoroti masalah hak kesehatan reproduksi dan victim blaming karena persoalan ini sering ditemui dalam masyarakat. Cicilia Oday, penulis buku, berhasil mengangkat  kedua isu ini dengan sangat apik dan terasa ringan untuk diperbincangkan. 

Minim Akses Pengetahuan HKSR Pada Remaja 
“Pagi setelah ulang tahun yang ketiga belas, Adam terbangun dengan perasaan ada seorang laki-laki dewasa terjebak dalam tubuhnya.” hal.4

Kalimat pembuka dalam novel Duri dan Kutuk memberi clue bahwa tokoh Adam mengalami kebingungan atas perubahan yang terjadi pada tubuh, pikiran, dan perasaannya. Adam merasa seolah ada “orang dewasa” yang terjebak dalam tubuhnya. Ia mengalami kebingungan identitas, rasa bersalah, dan stigma sosial terkait seksualitas. Keinginan Adam untuk memahami tubuhnya bertabrakan dengan norma masyarakat yang menilai rasa ingin tahunya sebagai sesuatu yang tabu.

Kondisi itu membuatnya semakin lebih sering menyendiri dan membayangkan hal-hal berbau seksual. Baginya ini menyenangkan, hal wajar, dan benar, karena teman disekitarnya juga melakukan hal serupa. Puncaknya, ia menjadi pelaku pelecehan seksual pada Eva lewat kebiasaan buruknya mengintip. Ia memainkan fantasi liar atas tubuh Eva. Ketika kebiasaan mulai terbongkar, Adam justru tidak bertanggung jawab dan berakhir memposisikan dirinya sebagai orang yang dilecehkan.

Hal yang dihadapi Adam bisa jadi dialami banyak remaja laki-laki yang mengalami kebingungan dengan perubahan tubuh dalam dirinya. Minimnya akses terhadap informasi kesehatan reproduksi menjadi masalah utama. Padahal, kelompok usia ini sangat membutuhkan pemahaman yang tepat, namun sering kali tidak memiliki sumber rujukan yang jelas.

Informasi kesehatan reproduksi tidak hanya mengungkap perubahan yang terjadi secara fisik tetapi mencakup serangkaian hak dasar yang berkaitan dengan  seksualitas, dan reproduksi manusia. Hak ini menegaskan bahwa setiap orang berhak untuk hidup sehat, aman, dan bermartabat dalam menjalani kehidupan seksual maupun reproduksinya.

Sayangnya di lingkungan masyarakat, pengetahuan yang remaja dapatkan kerap berasal dari jalur tidak resmi, seperti obrolan antar teman atau cerita yang tidak berdasarkan ilmu kesehatan. Informasi semacam ini sering menimbulkan kesalahpahaman dan menyesatkan. Selain itu, usaha remaja untuk mencari tahu sering terbentur stigma sosial. Mereka yang berupaya memahami tubuh dan fungsi reproduksinya kerap dicap terlalu cepat dewasa atau dianggap melanggar norma kesopanan.

Di lingkungan sebaya, isu kesehatan reproduksi bahkan sering dijadikan bahan ejekan, candaan, atau dikaitkan dengan bacaan seksual yang tidak mendidik. Situasi ini semakin menjauhkan remaja dari pemahaman yang sehat, aman, dan bertanggung jawab mengenai reproduksi. Akibatnya, banyak remaja memilih untuk diam dan menjauh dari pembahasan tersebut.

Padahal, tanpa bekal pengetahuan yang benar, remaja berisiko membuat keputusan yang membahayakan kesehatan serta masa depan mereka. Minimnya edukasi juga dapat memperkuat stigma dan kesalahpahaman yang terbawa hingga dewasa. Inilah yang terjadi pada Adam. Ia tak mendapatkan pengetahuan soal HKSR yang tepat dari orang tua maupun lembaga pendidikan. Keputusannya berakhir tidak hanya membahayakan dirinya sendiri tetapi juga orang sekitar. 

Victim Blaming
Dalam novel Duri dan Kutuk, Eva dituduh melecehkan Adam pertama-tama oleh Sara lalu menjalar pada seluruh warga. Tuduhan ini tidak berdasarkan bukti melainkan hanya dari prasangka karena Eva memilih menjalani hidup dengan cara yang berbeda dari orang-orang sekitarnya. Eva divonis bersalah karena ia punya bentuk tubuh dan pemikiran yang berbeda. Perbedaan ini dijadikan umpan untuk  menarik sebuah kesimpulan yang tidak tepat. Padahal, Eva adalah korban. 

Situasi yang dialami Eva disebut victim blaming. Victim blaming adalah praktik menyalahkan korban atas kekerasan yang menimpanya. Korban dianggap bertanggung jawab karena pakaian, perilaku, atau gaya hidupnya, padahal tanggung jawab sepenuhnya ada pada pelaku. 

Pola pikir victim blaming muncul dari anggapan bahwa ada sesuatu yang salah dengan korban. Korban dianggap harus mengubah sikap atau perilaku. Ini yang dilakukan Sara pada Eva, meskipun ia tahu anaknya yang bersalah. Dampak victim blaming bagi korban tidak mudah, secara psikologis korban akan merasa bersalah, trauma, menarik diri dari lingkungan sosial  dan membuat korban enggan melapor. Situasi ini yang dialami Eva. 

Setelah dituduh sebagai pelaku kekerasan, dan mengetahui bahwa ia sebenarnya korban pelecehan dari Adam, Eva memilih untuk tidak melapor tetapi menarik diri dari masyarakat. Bentuk penarikan itu disimbolkan lewat keputusan Eva memerintahkan para tanaman untuk tumbuh besar, mengisolasi rumahnya dengan pepohonan amat tinggi dan rapat. Tak ada lagi yang melihat Eva muncul. Perempuan itu seperti tenggelam dalam keheningan hutan. 

Dari novel Duri dan Kutuk, pembaca bisa mengetahui bahwa masalah pelecehan seksual tidak hanya melibatkan pelaku dan korban, di dalamnya ada sistem yang gagal dalam memberikan edukasi pada para pelaku dan budaya stereotip yang terus dibiarkan tumbuh subur dalam lingkungan masyarakat. 

Identitas buku
Judul Novel    : Duri dan Kutuk
Penulis    : Cicilia Oday
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Hal   : 190 Halaman
ISBN        : 9786020676005
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo