….Saya tahu bahwa profesiku ini telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dunia dunia kita, yang di bumi ini, dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas daripada seorang istri yang diperbudak.
Paragraf yang mengandung kemarahan dan sengatan itu ditulis Nawal el-Saadawi setengah abad lalu sebagai bentuk kritik atas dominasi budaya patriarki yang begitu mengakar di Mesir, termasuk dalam ruang privat. Paragraf itu ditemukan dalam novel Perempuan di Titik Nol (Buku Obor, cet.20, 2025).
Perempuan di Titik Nol pertama kali diterbitkan dalam bahasa Arab di Beirut, Lebanon sekitar tahun 1975 atau 1977, sebelum diterjemahkan ke berbagai bahasa lain, termasuk bahasa Inggris tahun 1983. Novel ini memuat perjalanan hidup Firdaus, perempuan yang menunggu pelaksanaan hukuman matinya di penjara. Ia didakwa telah membunuh seorang laki-laki. Saya tak ingin melangkahi para pembaca untuk membaca sendiri kisah yang begitu tajam, penuh kejutan, rasa sakit, dan protes terhadap perlakukan tidak adil terhadap perempuan sejak menjadi anak, istri, dan ibu.
Perlu pengorbanan yang besar dari sang penulis, Nawal el-Saadawi, untuk memungkinkan buku ini ada di tangan para pembaca. Ia mesti memikul reaksi masyarakat Mesir yang tidak bisa dianggap sepele. Akibat pandangannya yang dianggap tidak menguntungkan oleh penguasa, Nawal menghadapi banyak tekanan politik dan sosial, bahkan menyebabkannya dipenjara lalu diasingkan dari Mesir selama beberapa waktu.
Meski begitu, buku ini mendapat sambutan positif dari para aktivis perempuan, feminis, dan intelektual progresif. Bagi banyak perempuan, novel ini menjadi penyambung lidah bagi suara mereka yang terbungkam dalam masyarakat patriarki Mesir.
Di halaman awal buku, Mochtar Lubis memberi pengantar pada para pembaca–khususnya laki-laki–untuk membuka hati dan pikiran ketika membaca novel ini sebab akan ditemukan begitu banyak serangan dan kutukan begitu dahsyat dari Firdaus, tokoh sentral dalam isi cerita. Meski pedas, bacaan ini dicetak kembali, tak lain sebagai dorongan untuk sungguh-sungguh memikirkan masalah dan kedudukan perempuan di Indonesia. Sebab meski masyarakat terdengar amat mudah mengucapkan bahwa perempuan sangat dipuja dan dihormati dalam kebudayaan, nyatanya di lapangan masih ditemukan perempuan yang hidup dalam bayangan ketidakadilan dan peminggiran.
Usia novel ini bisa dikatakan sudah cukup tua. Beberapa permasalahan yang dikritik dalam cerita tersebut bisa jadi sudah tidak menemukan tempatnya karena waktu banyak membawa perubahan. Mesir kini telah mengadopsi sejumlah kebijakan yang pro-perempuan dalam beberapa tahun terakhir. Upaya ini didorong oleh komitmen terhadap Strategi Nasional Pemberdayaan Perempuan Mesir 2030. Beberapa kebijakan tersebut menyasar pada pemberdayaan politik dan kepemimpinan, pemberdayaan ekonomi, dan pemberdayaan sosial dan perlindungan hukum. Upaya itu terus dilakukan meskipun tantangan dalam mengubah norma budaya dan sosial yang membatasi masih terus dihadapi.
Jika ditarik lebih dekat, apa relevansinya bagi kita, pembaca di Indonesia? Saya menaruh minat pada halaman-halaman awal buku ketika Firdaus menceritakan sosok ibunya. Bagi saya, tokoh ini justru memegang peran penting dalam menentukan arah cerita.
Firdaus menceritakan posisi ibunya di dalam rumah. Pada halaman 26, ia menggambarkan: “Jika salah satu anak perempuannya mati, Ayah akan menyantap makan malamnya, Ibu akan membasuh kakinya, dan kemudian ia akan pergi tidur, seperti ia lakukan setiap malam. Apabila yang mati itu seorang anak laki-laki, ia akan memukul Ibu, kemudian makan malam dan merebahkan diri untuk tidur.”
Di halaman lain, Firdaus menceritakan sikap ibunya: “…maka pada suatu hari saya bertanya kepada Ibu tentang dia. Apa sebabnya Ibu sampai melahirkan saya tanpa seorang ayah? Mula-mula ia memukul saya. Kemudian ia membawa seorang wanita yang membawa sebilah pisau kecil atau barangkali pisau cukur. Mereka memotong daging di antara kedua paha saya.”
Posisi perempuan sebagai istri dan ibu dalam cerpen Nawal memang sangat tidak diuntungkan dalam hal apapun, baik fisik, psikologis, hingga ekonomi. Kondisi dipicu budaya patriarki yang terus dibawa hingga ke ruang privat. Permasalahan yang ditanggung oleh Firdaus–menghadapi kematian– pada mulanya dipicu oleh posisi Ibu yang tak memiliki suara dalam relasi pernikahan dan kebudayaan.
Posisi ibu yang rentan secara pengetahuan, fisik, dan kendali membuatnya tak bisa mengungkapkan apalagi protes tentang pengalaman yang ia terima selama hidup. Kekerasan yang diterima sejak turun temurun, dinormalisasi oleh aturan dan budaya yang berlaku, membuat ibu tak punya pilihan selain kembali menurunkannya pada orang terdekat, yaitu anak.
Kondisi serupa tak hanya terjadi di Mesir setengah abad lalu, tapi juga di Indonesia. Singkatnya, sosok ibu yang kerap dianggap mulia dan penuh penghormatan sebenarnya menyimpan banyak luka. Meski ada kemajuan, permasalahan para ibu di indonesia masih begitu banyak mencakup tingginya angka kematian, keterbatasan akses pelayanan kesehatan, ketimpangan gender, serta beban ganda antara pekerjaan dan rumah tangga.
Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi, sekitar 189 per 100.000 kelahiran hidup (2020), menjadikan Indonesia salah satu yang tertinggi di ASEAN. Selain itu, kasus kekerasan terhadap perempuan atau ibu juga masih tinggi, lebih dari 11.850 kasus kekerasan dilaporkan sepanjang tahun 2025 oleh Kementerian PPPA. Ini belum ditambah dengan peminggiran dalam karir. Status sebagai ‘ibu’ sangat rentan mengalami peminggiran dalam pekerjaan di ruang publik.
Saya membayangkan jika permasalahan yang terjadi pada para ibu di indonesia tetap dibiarkan menggunung, apa yang bisa menjadi jaminan generasi muda bisa tumbuh dengan cerdas dan kuat? Pemerintah sangat berambisi mendorong terwujudnya Indonesia emas tapi tindakan yang dilakukan justru menjauhkan dari hal tersebut.
Beberapa contoh, misalnya persoalan MBG. Untuk menjalankan proyek mega besar ini, ada begitu banyak PHK terjadi. Keputusan ini jelas tidak hanya berimbas pada pekerjaan tapi juga kesejahteraan orang tua yang nantinya turut dirasakan anak. Dalam sebuah keluarga yang pada awalnya ibu hanya memegang peranan domestik kini mesti merangkap bekerja demi memenuhi kebutuhan. Pola ini menyebabkan perempuan mesti memikul beban berlapis–salah satu bentuk kekerasan berbasis gender yang sering dialami perempuan.
Selain itu jaminan keselamatan bagi para ibu yang bekerja sebagai buruh–khususnya pekerja rumah tangga (PRT) sangat lambat disahkan. Penundaan ini membuka peluang terjadinya kekerasan dan eksploitasi bagi para ibu yang bekerja tanpa jaminan perlindungan. Pemulihan psikologis perempuan setelah melahirkan juga turut menjadi PR besar bagi pemerintah.
Sejarah mencatat, ibu punya pengaruh amat besar bagi kesejahteraan anak hingga masa depannya. Salah satunya terjadi pada penulis besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Dalam sebuah wawancara ia mengisahkan mula-mula yang menanamkan sikap mandiri dan teguh dalam harinya adalah sosok ibunya. Pengalaman itu juga terjadi pada Nawal, penulis Perempuan di Titik Nol. Belajar dari kisah Firdaus, sulit membayangkan sebuah dunia yang cerah dan damai jika didalamnya posisi istri atau ibu diperlakukan jauh dari kata keadilan.
Editor: Kendi Setiawan


