Dark
Light
Dark
Light

Kartini, Kekerasan Seksual dan Revisi Tafsir Agama

Kartini, Kekerasan Seksual dan Revisi Tafsir Agama

Jakarta, Arina.id — Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April selalu menjadi momentum untuk refleksi. Tahun demi tahun, perayaan ini mengingatkan kita bahwa masih banyak persoalan yang membelit kaum perempuan. Belum tuntas satu masalah, muncul lagi kasus lain yang menyayat.

Kasus kekerasan seksual terbaru yang dilakukan oleh seorang dokter residen di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat, menambah deretan panjang kejahatan terhadap perempuan. Pelaku membius keluarga pasien, lalu memperkosa korban—menyisakan luka, trauma, dan ironi yang tak kunjung reda.

Pada 2024, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat 14.374 kasus kekerasan seksual. Angka tersebut naik dibanding tahun sebelumnya, 2023, yang mencatat 12.836 kasus. Lonjakan ini menandakan satu hal sistem perlindungan kita masih timpang dan belum berpihak penuh pada korban.

Tak jarang, sebagian kita menyudutkan perempuan. Sayangnya, alih-alih berdiri bersama para korban, sering kali justru melempar tuduhan: Mengapa tidak bersama mahram? Mengapa tidak ke dokter perempuan saja? Mengapa keluar malam? Padahal, kekerasan seksual bukan soal pakaian, jam keluar, atau siapa yang menemani—tapi soal kuasa, soal dominasi, soal rusaknya moral pelaku.

Pandangan seperti ini masih banyak terjadi. Perempuan kerap disalahkan atas kondisi yang bahkan bukan kesalahannya. Ketika memilih berkarier, mereka disalahkan karena khawatir terjadi fitnah. Ketika menjadi korban, mereka dianggap tak pandai menjaga diri.

Namun, sejarah panjang tafsir agama tidak selalu berpihak pada perempuan. Banyak teks-teks keagamaan ditafsirkan secara sepotong, lalu dijadikan alat untuk menekan.

Istri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah Wahid, menyampaikan bahwa seringkali ada penafsiran yang salah dalam menempatkan perempuan dalam masyarakat.

"Padahal, Tuhan menciptakan manusia dengan derajat yang sama," ucap Nyai Sinta, sapaan akrabnya. 

Dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 187 disebutkan: “Hunna libaasul lakum wa antum libaasul lahunna” yang berarti “Mereka (istrimu) adalah pakaian untukmu, dan kamu (suami) pun pakaian untuk mereka.” Ayat ini menegaskan kesetaraan perempuan dan laki-laki.

"Berangkat dari situ maka tidak boleh ada perbedaan, saling merendahkan, atau saling di atas," ucap Nyai Sinta, sapaan akrabnya, dalam wawancara bersama Rosi di Kompas TV, Jumat (18/4/2025).

Menurut Nyai Sinta, baik perilaku, sikap, maupun peran haruslah setara. “Kalau tidak sama, tentu tidak benar,” ujarnya.

Agama, tambahnya, mengajarkan nilai-nilai kesetaraan. Ketika ada orang mengatakan bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki pemahaman yang keliru dan bersifat patriarkal. 

Nyai Sinta berpendapat bahwa pandangan seperti itu lahir dari pembacaan agama yang tidak utuh. “Biasanya diartikan sepotong, tidak dilanjutkan terusannya. Karena sepotong jadinya buntung, itu keliru,” tuturnya.

Kalau dibaca seluruhnya, imbuhnya, maka bukan berarti perempuan harus tunduk patuh kepada suami, atau sebaliknya. “Perempuan dan laki-laki saling melengkapi. Mengisi kekurangan: istri dilengkapi suami dan kekurangan suami dilengkapi istri.”

Namun kenyataannya, perempuan masih menerima stereotipe, diskriminasi, bahkan hidup dalam sistem yang misoginis. Itulah yang mendorong Nyai Sinta dan Yayasan Puan Amal Hayati untuk tidak tinggal diam.

Gebrakan yang dilakukan Nyai Sinta dan pengurus Puan Amal Hayati merevisi kitab Uqudulijain fi Bayani, kitab yang selama ini dipelajari di pesantren dan membahas relasi suami-istri.  

Nyai Sinta menyebut salah satu contohnya: hadis yang menyebut bahwa perempuan akan dilaknat malaikat jika menolak panggilan suaminya. Setelah dikaji, hadis itu ternyata maudhu—palsu. Bahkan, banyak hadis semacam itu lahir dari konstruksi budaya patriarki.

“Itu perlu diluruskan. Hadis itu ternyata maudhu, hadis palsu yang dibuat oleh orang Arab laki-laki untuk memenangkan dirinya sendiri,” katanya.

“Banyak hadis palsu yang dipakai untuk memenangkan kemauan laki-laki dan melemahkan perempuan,” lanjutnya.

Yayasan Puan Amal Hayati tidak hanya menulis ulang, tetapi juga merevisi arti atau tafsir secara utuh. Karena kitab tersebut banyak dibaca di pesantren, terutama saat Ramadhan, mereka mengundang para tokoh pesantren untuk berdiskusi bersama.

“Kita ajak membaca kembali arti yang sebenarnya. Melatih mereka, mengajak berdiskusi bahwa kebenarannya ada di mana. Agama tidak merendahkan makhluk ciptaan-Nya,” kata Nyai Sinta, yang pernah menamatkan pendidikan Kajian Perempuan di Universitas Indonesia (UI).

Dalam berbagai diskusi dan kajian, ditegaskan bahwa agama tidak pernah merendahkan perempuan—justru memuliakan mereka. Rasulullah sendiri pernah ditanya, siapa yang harus dimuliakan? “Ibumu, ibumu, ibumu, baru yang keempat bapakmu,” begitu sabdanya.

Menurut Nyai Sinta, orang-orang konservatif ingin membalik kenyataan tersebut dengan menempatkan laki-laki sebagai pusat segalanya. Ini berbahaya.

Kekerasan dan pelecehan yang masih terjadi, menurutnya adalah cerminan bahwa kelompok terdidik sekalipun bisa melakukan perbuatan paling rendah. “Itu perbuatan yang rendahnya sudah di batas paling bawah,” tegasnya.

Mereka yang melakukan tindakan itu, kata Nyai Sinta, adalah orang-orang yang moralnya sudah rusak. “Apalagi yang bisa kita katakan kalau bukan moralnya yang rusak?” tanyanya.

Bagi korban, pilihan yang tersedia kerap seperti jalan buntu. Jika bicara, maka aib terbuka, nama keluarga dipertaruhkan. Jika diam, pelaku bebas melenggang tanpa beban. “Ini bukan pilihan yang adil. Yang harus kita hajar adalah pelakunya, bukan korbannya,” ujar Nyai Sinta. 

Menurutnya, semua pihak harus terlibat. Bukan hanya tokoh agama, tapi siapa pun yang punya kuasa untuk melindungi dan menyuarakan keadilan.

Nyai Sinta berkataa bahwa laki-laki lupa bahwa sekuat-kuatnya laki-laki, mereka tetap lahir dari perempuan. Yang mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan, dan mencintai tanpa syarat adalah perempuan.

“Itu yang harus diingatkan kepada laki-laki. Selalu diingatkan. Ingat waktu kecil, waktu sakit, siapa yang tidak tidur semalaman menunggu kamu sakit?” ungkapnya.

Apalagi jika laki-laki itu punya anak atau saudara perempuan. Bagaimana jika hal seperti itu terjadi pada mereka?

“Sudah tidak suci, tidak bisa dijadikan panutan, masa depan hancur. Itu yang dialami korban,” kata Nyai Sinta.

Bagi Nyai Sinta, perjuangan perempuan tak boleh dipikul sendiri. Ia mengajak perempuan untuk bersatu. 

Nyai Sinta berharap para korban berani speak up, “Bicaralah. Bicaralah dengan sangat terbuka, bahwa kesalahan itu bukan kesalahan perempuan, bukan kesalahan keluarga, tapi kesalahan yang melakukan perbuatan itu. Kita bersama korban," tandasnya.

Perjuangan perempuan hari ini bukan hanya soal hak, tapi juga soal keberanian menafsirkan dunia secara adil—termasuk menafsirkan ulang apa yang selama ini dianggap ‘kodrat’. Seperti kata Kartini: Habis gelap terbitlah terang. Tapi terang itu harus kita jemput bersama.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo