Pada banyak karya sastra, rumah digambarkan tidak termiliki oleh perempuan. Perempuan diposisikan sebagai penjaga dan penata, tapi bukan pemilik. Perempuan Titik Nol (1977), novel asal Mesir gubahan Nawal El Saadawi dan Homeless Bird (2000), novel asal Amerika susunan Gloria Whelan menggambarkan hal demikian. Di Indonesia, gagasan antara perempuan dan rumah juga terekam dalam surat-surat Kartini.
Menengok kembali kehidupan Kartini di Jepara (1879-1904). Kartini menceritakan gagasan rumah dalam hidupnya melalui surat tanggal 6 November 1899, ditujukan kepada Stella Zeehandelaar: “Engkau bertanya, apakah asal mulanya aku terkurung dalam empat tembok tebal. Sangkamu tentu aku tinggal di dalam terungku atau yang serupa itu. Bukan Stella, penjaraku rumah besar, berhalaman yang luas sekelilingnya, tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami. Bagaimana juga luas rumah dan pekarangan kami itu, bila senantiasa harus tinggal disana, sesak juga rasanya”.
Kita mendapat keterangan makna rumah dengan metafora yang menggambarkan perasaan. Bagi Kartini, rumah bukan hanya tentang bangunan tetapi keadaan batin. Ia kerap menuliskan rasa bahagia, sedih dan sederet keadaan lain terikat oleh suasana bukan bangunan. ‘Kurungan’, ‘penjara’, ‘sesak’ mungkin maksud yang Kartini gunakan untuk menyebut rumah. Tempat tinggal bukan bangunan, melainkan aturan-aturan feodalisme dan kuasa patriarki.
Kartini lebih bersuka cita berada di luar rumah. Salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon tanggal 5 September 1900 menggambarkan kegirangannya saat akan ke rumah ibu Belandanya itu: “.. jadi ini bukan impian? Kami akan melihat Nyonya lagi? Dan di rumah Nyonya! Saya tidak tahu apa yang saya rasakan… Saya tidak dapat berpikir, mendesing sayup-sayup dan mendesir di telinga saya. Kami gembira luar biasa membayangkan akan melihat Nyonya lagi dan sudah dalam waktu dekat..”
Pengalaman berkunjung ke Rumah Nyonya Abendanon dikisahkan dalam surat tanggal 24 September 2024: “ Berat sekali bagi kami untuk berpisah dari Nyonya tercinta! Tidak sesaat pun, sejak kami meninggalkan rumah yang manis dan terbuka bagi tamu di Kebon Sirih, kami lupa akan Nyonya berdua. Alangkah senangnya kami disana!... Satu minggu di Kebon Sirih itu akan kami kenang seumur hidup. Kami merasa sangat bahagia di rumah kekasih tercinta!”
Kedua surat itu memberi keterangan Kartini senang berada di rumah Nyonya Abendanon. Ia berkali-kali mengungkapkan perasaan yang berkebalikan dengan rumahnya di Jepara. Meskipun tidak dijelaskan apakah Kartini menyukai bangunan pada rumah itu atau suasananya, kalimat “rumah yang manis dan terbuka bagi tamu” bisa kita duga sebagai rumah yang indah secara bangunan dan terbebas dari aturan yang kaku.
Hal itu berkebalikan dengan rumah yang ia huni. Pada banyak suratnya, Kartini menceritakan rumah yang dipenuhi aturan. Cara berjalan, duduk, hingga tertawa diatur menurut adat yang berlaku. Interaksi antar saudara lebih terlihat seperti orang lain. Adat tidak memberi ruang untuk memberikan ungkapan rasa kasih dengan ekspresif. Kita menduga, di rumah Nyonya Abendanon terjadi hal sebaliknya. Kartini senang, itulah rumah ideal baginya.
November 1904, Kartini pindah rumah. Ia pergi dari Jepara ke Rembang untuk menetap bersama sang suami. Ia tinggal di bangunan rumah yang baru tetapi tidak dengan isinya. Seperangkat aturan di dalamnya tetap sama, mengandung aroma feodalisme dan patriarki. Dalam surat tanggal 8 Juni 1904, kepada Nyonya abendanon, tujuh bulan setelah pernikahannya, Kartini menceritakan rutinitas kesehariannya di Rembang.
Ia membagi harinya antara suami, rumah tangga, dan anak-anak. Pembagian tubuh dan perhatiannya kepada orang lain dimulai sejak pagi hingga malam. Tidak disebutkan apakah Kartini masih memiliki waktu untuk merenung atau menulis dengan cukup panjang. Dalam suratnya, ia hanya mengakhirinya dengan kalimat: “Kami di sini masih sore sudah tidur, tidak seperti di Jepara. Tetapi, pagi-pagi sekali kami sudah bangun.”
Mula-mula Kartini berkeyakinan rumah baru itu bisa menjadi tempat bernaung bagi pikiran dan batinnya. Namun, sepertinya keadaan berbalik. Buku Kartini: Sebuah Biografi gubahan Sitisoemandari Soeroto menjelaskan nasib gadis Jepara itu. Di ruang publik, Kartini memang tetap mengadakan tindakan-tindakan kemajuan sosial, mendirikan sekolah dan kegiatan lainnya. Namun, tak bisa disangkal kehidupan di dalam Kabupaten Rembang tetap menunjukan mentalitas yang masih kolot.
Kurang lebih satu bulan setelah pernikahannya, Kartini hamil. Diduga Kartini mengandung atas dasar keinginan dari suaminya. Suaminya menginginkan seorang putra agara dapat menggantikannya kelak. Kita boleh menduga, peralihan peran yang begitu cepat dari seorang gadis yang cerdas dan aktif menjadi istri dan calon ibu membuat tubuh dan psikis Kartini tertekan.
Dalam surat tanggal 17 Juli 1904, Kartini menuliskan kondisinya ketika mengandung 7 bulan: “Meskipun saya sangat menginginkan, namun tidak mungkin lagi saya dapat menulis panjang dan sering. Lebih-lebih lagi sekarang, karena saya sering sakit. Baru-baru ini saya sakit keras… Dan o, saya harus tetap sehat untuk anak kami. Betapa beratnya anak bagi seorang ibu. Semua gangguan kesehatan itu dari sana asalnya. O ibu, saya harus hati-hati sekali dengan segalanya."
Setiap surat yang menggambarkan rasa sakit dan keadaan yang dideritanya, Kartini selalu menutup dengan pujian terhadap suaminya. Kita tidak menemukan surat yang menggambarkan secara jelas kondisi yang dialami Kartini sesungguhnya di Rembang tapi dalam salah satu suratnya, kita mencoba untuk menafsir keadaan yang dirasakan Kartini.
“…..sebab suamiku lebih senang kalau saya duduk menemani dia. Ia suka menyenangkan saya dengan permainan gamelan, diiringi oleh nyanyian pesinden. Saya senang duduk di samping suamiku. Hanya, bunyi gamelan itu terlalu besar pengaruhnnya padaku. Ia membawa pikiranku kembali pada masa yang lampau, yang tidak boleh ku kenang kembali. Ia membuat saya lesu dan rindu. Demikianlah hari-hariku berlalu tenang, tentram laksana anak sungai di tengah hutan, menenangkan dan menentramkan jiwa orang yang menikmati pemandangannya.”
Surat tanggal 8 Juni 1904 itu dikirimkan kepada Nyonya Abendanon. Kalimat dalam surat tersebut menyuguhkan kontradiksi perasaan yang ingin ditampilkan Kartini. Pada permulaan kata, ia mengungkapkan rasa senang suaminya terlebih dahulu ketimbang perasaannya sendiri, padahal permainan musik itu ditujukan untuk menyenangkan Kartini. Lalu suara gamelan yang dahulu selalu membuat hatinya merasa senang, kali ini ditolak telinganya lantaran mengingatkan pada masa lampau.
Jika keadaan di Rembang lebih menyenangkan dari kondisi di Jepara, tentu ia akan senang mengingat-ingat masa lalu karena berhasil melalui masa-masa yang sulit. Namun, kata yang ia gunakan justru “lesu dan rindu”. Menganalogikan hari-harinya laksana sungai tenang di hutan juga menimbulkan tanya pembaca.
Dahulu, Kartini selalu berupaya mengisi hari laksana riak-riak sungai bahkan melawan arus. Orang-orang seperti itu kerap tidak pernah tenang. Hidupnya selalu ditumbuhi semangat dan perenungan. Namun, surat Kartini menggambarkan sebaliknya. Kalimat ‘menenangkan dan menentramkan jiwa orang yang menikmati pemandangannya’ barangkali menggambarkan keadaan batin yang tertekan karena harus memenuhi ekspektasi orang-orang sekitar.
Surat tanggal 8 Agustus 1904, kepada Nyonya Abendanon makin memperkuat dugaan. Ia menulis: “Kami tiada keluar-keluar dan jarang menerima tamu, sungguhpun demikian kehidupan saya tetap berisi penuh. Senangnya, alangkah senangnya! Tiap-tiap hari, waktu saya, saya bagi diantara suami kesayangan saya itu, rumah tangga, dan anak-anak saya, anak-anak sendiri maupun anak angkat. Dan yang tersebut kemudian inilah yang sebanyak-banyaknya mengisi waktu saya tiap-tiap hari.”
Gagasan rumah dalam hidup Kartini mungkin tragis. Ia hidup dari tempat ke tempat sebagai penghuni, bukan pemilik. Impiannya pada rumah yang manis dan terbuka dikalahkan oleh aturan feodalisme dan budaya patriarki yang sekeras batu. Tempat tinggalnya di Jepara dan Rembang telah menentukan pembagian peran, gerak dan kuasa yang membentuk sekaligus menghancurkan hidupnya.
Editor: Kendi Setiawan


