Dark
Light
Dark
Light

NU dan Diplomasi Kultural di Bumi Sakura: Menyambut Konfercabis III PCINU Jepang, 13-14 September 2025

NU dan Diplomasi Kultural di Bumi Sakura: Menyambut Konfercabis III PCINU Jepang, 13-14 September 2025

Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama Jepang—selanjutnya disingkat NU Jepang—akan menggelar Konferensi Cabang Istimewa Ke-3 pada Sabtu dan Minggu, 13-14 September 2025. Rencananya, Konfercabis ini akan dilangsungkan di Niigata, salah satu prefektur di Jepang. Konferensi Cabang Istimewa NU Jepang yang pertama dan kedua dilaksanakan di Koga Prefektur Ibaraki Jepang. Koga adalah ‘Jombang’-nya Jepang, yang sekaligus menjadi think thank dan pusat gerakan NU. Tampaknya, pilihan Niigata, ingin menegaskan bahwa NU Jepang juga berkibar di prefektur yang lain, selain Tokyo dan Ibaraki.   

Di antara Pengurus Cabang Istimewa NU dunia, NU Jepang—sebagai perwakilan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di luar negeri—termasuk organisasi NU dunia yang progresif. Buktinya, NU Jepang telah memiliki 17 Majelis Wakil Cabang Istimewa (MCWI) NU—setingkat organisasi di tingkat kecamatan di Indonesia. MWCI NU ini tersebar di 17 prefektur dari total 47 prefektur di Jepang. Nama-nama MWCI NU adalah MWCI NU Hokkaido, ⁠Niigata, ⁠Miyagi, ⁠Nagano, ⁠Toyama, ⁠Ishikawa, ⁠Tokyo, ⁠Saitama, ⁠Ibaraki, ⁠Shizuoka, ⁠Aichi, ⁠Gifu, ⁠Kyoto, ⁠Osaka, ⁠Wakayama, ⁠Hiroshima dan ⁠Fukuoka. Infonya, organisasi ini akan terus bertambah lagi seiring dengan perkembangan waktu. 

Dengan kata lain, NU Jepang telah ‘menguasai’ sepertiga lebih negara Sakura. Persebaran yang merata dengan kepengurusan yang aktif menjadikan NU Jepang benar-benar hadir di bumi Sakura tersebut. Selain geliat MWCI NU, kita juga bisa melihat geliat organ lain yang juga progresif di bawah NU Jepang seperti Muslimat, Fatayat, Lakpesdam, Ikatan Sarjana NU, LAZISNU, dan sebagainya. Geliat ini semakin dahsyat karena pengkaderan yang diselenggarakan di sini melalui Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD PKPNU) dan Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) di Jepang. 

Dus, jumlah warga NU (Nahdliyin) di sini juga lumayan banyak. Jika menengok data statistik, hingga awal tahun 2025, jumlah orang Indonesia di Jepang mencapai 200 ribu lebih. Dari sini jumlah total Muslimnya diperkirakan 151.095 orang. Sementara, asumsi warga NU di Jepang—berdasarkan survei Lembaga Survei Indonesia—berjumlah 74.792 orang. Jumlah total warga Jepang sendiri pada tahun 2023 mencapai kurang lebih 125 juta orang. Tentu, jumlah Nahdliyin yang banyak merupakan kekuatan sosial keagamaan yang tidak dapat diremehkan. 

Menggemakan Islam Moderat
NU Jepang menyebarkan Islam moderat melalui masjid-masjid yang tersebar di seantero bumi Sakura. Misalnya Masjid Ueda di Nagano, Masjid Al-Ikhlas Kabukico Tokyo, Masjid Akiabhara di Tokyo, Masjid Mihara Hiroshima, Masjid Nusantara di Niigata dan lain sebagainya. Namun, dari sekian masjid, pusatnya adalah Masjid NU At-Taqwa Koga di Prefektur Ibaraki. Di masjid ini, pancaran Islam moderat digaungkan, bukan hanya untuk orang Indonesia, tetapi juga kepada seluruh umat Islam dari berbagai dunia yang tinggal di Jepang.

Tidak hanya masjid, NU Jepang juga menyebarkan Islam moderat melalui Pesantren NU At-Taqwa. Pesantren NU at Taqwa ini berjarak hampir 7 km atau 10 menit dari Masjid NU At-Taqwa Koga. Pesantren ini dibangun di atas tanah seluas 911 meter persegi dengan menghabiskan dana 7.822.060 yen. Pada tanggal 4 Mei 2024, Dubes RI di Jepang, Ir. H. Heri Akhmadi meresmikan pesantren pertama di Jepang ini. KH. Masyhuri Malik, Dr. KH. Moh. Faisal, KH. Miftah Faqih, dan beberapa orang rombongan lainnya dari PBNU ikut menyaksikan peresmian ini di Koga Jepang. 

Selain memiliki halaman luas, bangunan pesantren megah berdiri kokoh. Di pesantren ini terdapat ruang pertemuan ber-AC, 1 kamar tidur, 1 dapur, 2 toilet dan 1 kamar mandi serta beberapa kran wudlu. Selain itu, ada panggung pementasan, gudang, halaman yang luas. Juga parkirnya luas sekali. Dalam kamar mandi terdapat air panas. Jika Anda ke Jepang khususnya saat musim dingin, pastikan menggunakan air panas. 

Di pesantren ini, dakwah Islam rahmatan lil alamin disyiarkan melalui acara pesantren bershalawat, Ibaraki bershalawat dan sebagainya. Juga, sejak dini, anak-anak diaspora Indonesia diajari agama yang ramah, santun dan damai melalui Taman Pendidikan Al-Qur’an setiap akhir pekan. Di tengah pendidikan yang sekuler, NU Jepang telah memberikan secercah harapan pada ribuan anak diaspora agar tetap kokoh dalam meneguhkan agama dan tradisnya. Bahkan, setiap 17 Agustus, bendera merah putih juga berkibar di tempat ini.

Kemandirian Ekonomi 
Hal menarik lainnya dari NU Jepang adalah kemandirian ekonominya. NU Jepang memiliki perusahaan ekonomi yang bernama Nine Stars. Melalui Nine Stars ini, NU Jepang diharapkan akan menjadi organisasi yang mandiri di masa-masa yang akan datang.
Setidaknya, Nine Stars memiliki lima fokus bidang garapan, sebagaimana berikut: 

Pertama, produksi bakso. Nine Stars memproduksi makanan khas Indonesia ini ke seluruh Jepang. Dengan kekuatan jaringan NU-nya, Nine Stars sudah mendistribusikan produk baksonya ke beberapa kota dan prefektur di Jepang.  

Kedua, great house. Nine Stars memiliki tiga wisma yang terletak di Koga, Prefektur Ibaraki. Satu wisma berada dekat Masjid NU Koga, dua wisma lainnya berada dekat pesantren NU At-Taqwa. Tiga wisma ini memiliki bangunan khas Jepang dan bangunan modern. Wisma ini dibuat dua lantai. Semuanya disewakan khususnya untuk orang yang berkunjung ke Jepang.

Ketiga, Halal Hub. Halal Hub yang bertempat di sebelah produksi bakso juga merupakan himpunan usaha bisnis. Halal Hub adalah upaya NU Jepang untuk mewadahi produk usaha diaspora dan UMKM di Jepang dan Indonesia. Halal Hub—seperti supermarket Indomaret di Indonesia—diisi dengan aneka barang dagangan misalnya indomie, bumbu-bumbu, daging, bakso, selain juga menjadi distributor barang-barang tersebut. 

Keempat, rental mobil. Nine Stars memiliki mobil grand haice yang direntalkan ke mana-mana, ke seluruh Jepang. Harga sewanya murah hanya 20 ribu yen atau Rp2 juta sehari semalam. Bisnis ini sudah berjalan dengan baik selama setahun lebih dan menguntungkan. Apalagi, wisata halal yang ramai di Jepang akhir-akhir ini.  

Dan terakhir, Nine Stars memiliki bisnis vending machine pemberian KBRI Tokyo. Vending machine ini berisi makanan dan minuman instan yang diletakkan di depan Masjid NU Koga. 

Meski baru satu tahun lebih, perkembangan Nine Stars luar biasa. Namun, Nine Stars masih terus fokus pada bidang garapan bisnisnya. Sehingga, jika pemasukan Nine Stars besar, akan memberikan dampak luas pada organisasi. Nine Stars telah memberikan kontrisbusi untuk beberapa kegiatan yang didirikan oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asyari tersebut di bumi Sakura.

Meneguhkan Diplomasi Kultural
Selama dua dekade atau 21 tahun, NU di Jepang telah menunjukkan pada dunia bagaimana ia  menjadi jembatan budaya antara Indonesia-Jepang. Kegiatan yang diselenggarakan NU sejatinya adalah promosi kebudayaan Indonesia di tengah-tengah masyarakat Jepang yang multikultural. Sebaliknya, NU Jepang juga menyerap kebudayaa Jepang–misalnya budaya hanami, festival musim panas, dan kebudayaan Jepang yang lain. Dalam konteks tersebut, pemahaman yang mendalam tentang Jepang di kalangan masyarakat Indonesia dan juga NU sangatlah penting.

Secara de facto, NU di Jepang telah memberikan kontribusi melalui diplomasi kultural yang diselenggarakan pada berbagai event. Dus, NU di Jepang juga telah memainkan peran signifikan dalam membangun ruang-ruang dialog keagamaan yang damai dan kegiatan keilmuan yang inklusif. Lebih dari itu, NU di Jepang juga telah menghidupkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat dan ramah terhadap budaya lokal. Semangat gotong royong, keikhlasan, dan kecintaan terhadap Tanah Air tetap terpelihara kuat dalam jiwa para warga NU di Jepang, menjadikan mereka agen-agen kebajikan di tengah keberagaman masyarakat global.

Walhasil, dengan kiprah Nahdlatul Ulama di Jepang yang demikian banyak telah berperan strategis pada diaspora Indonesia dalam membangun harmoni dan memperkuat diplomasi kebudayaan di luar negeri. Ke depan, kita membayangkan bagaimana NU di Jepang mengambil peran yang lebih jauh dari sekarang. Meski jalur diplomasi kultural diperkuat, namun peran strategisnya masih harus ditingkatkan dalam berbagai bidang misalnya pariwisata, pendidikan maupun ketenagakerjaan. Di sini, NU Jepang akan semakin memperkuat kontribusi diplomasi kultural Indonesia di luar negeri. 

Selamat atas Korferbis Ke-3 PCI NU Jepang. Semoga NU Jepang semakin maju dan jaya. 

M. Noor Harisudin adalah Direktur Womester, Guru Besar UIN KHAS Jember, Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur dan penulis buku NU dan Diaspora Indonesia di Bumi Sakura.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

M Noor Harisudin
Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Sidiq Jember, Direktur World Moslem Studies Center


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo