Jakarta, Arina.id–Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, menghadiri The 2nd International Summit of Religious Leaders: The Role of Religious Leaders in Solving Conflicts di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (28/8/2025).
Dalam forum internasional tersebut, kiai yang juga Rais Syuriyah PBNU itu memaparkan makalah mengenai pengalaman Nahdlatul Ulama (NU) dalam menyebarkan perdamaian serta menyelesaikan konflik, baik di dalam maupun luar negeri.
Menurut KH Cholil, NU menjadikan Pancasila sebagai asas yang mampu menyatukan bangsa Indonesia yang plural, multi-etnis, dan multi-agama.
“Saya mempersembahkan model negara Indonesia melalui pengalaman hidup berdampingan secara damai dalam keberagaman. Keberagaman ini tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan dan persatuan berkat komitmen sosial dan kebangsaan melalui Pancasila,” ujarnya dalam rilis yang diterima Arina.id..
Pihaknya menegaskan bahwa agama merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat, bukan hanya sebatas ritual, melainkan sistem nilai dan etika yang mengarahkan perilaku individu, mengatur hubungan sosial, dan membentuk corak kehidupan bersama.
Oleh karena itu, tokoh agama seharusnya menjadi pemersatu umat, bukan sebaliknya menjadi sumber konflik.
Dalam paparannya, KH Cholil menekankan peran pemimpin agama dalam membangun budaya damai di tingkat nasional maupun global. Hal itu dapat diwujudkan melalui wacana keagamaan yang moderat, mediasi dan rekonsiliasi di antara pihak-pihak yang bertikai, serta penguatan budaya dialog.
Lebih lanjut, ia menjelaskan pendekatan NU dalam menyelesaikan konflik yang berpijak pada dua hal.
Pertama, landasan pemikiran dengan menghidupkan kembali maqāṣid al-syarī‘ah, menegaskan bahwa menjaga jiwa dan martabat kemanusiaan lebih utama daripada konflik yang destruktif.
Kedua, metodologi penyelesaian dengan dialog antaragama dan antarbudaya yang membuka ruang pengertian serta menolak segala bentuk kebencian.
Selain itu, KH Cholil juga menyinggung isu Palestina yang dipandang NU sebagai persoalan kemanusiaan global, bukan sekadar masalah regional.
“Persoalan ini adalah masalah pendudukan, bukan semata konflik atau pertikaian. NU menyerukan penghentian pendudukan, menuntut hak rakyat Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri dan mendirikan negara merdeka,” tegasnya.
Ia menambahkan, NU mengecam segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil dan menuntut perlindungan jiwa-jiwa yang tidak bersalah dari kedua belah pihak.
NU juga terus menggalang dukungan tokoh agama dunia demi terwujudnya perdamaian yang adil dan menyeluruh bagi rakyat Palestina sekaligus menjamin keamanan semua pihak.
Editor: Kendi Setiawan


