Dark
Light
Dark
Light

Dapur Telah Kehilangan Api

Dapur Telah Kehilangan Api

Dalam rumah-rumah Jawa lama, selalu ada satu ruang yang paling hidup, yaitu pawon alias dapur. Di situ asap mengepul dan aroma sayur lodeh menguar yang terkadang tercium tetangga. Dapur bukan sekadar tempat memasak, melainkan menjelma jantung kehidupan dalam rumah. Terkadang, di tempat itu anak berbincang dengan ibunya sembari menunggu masakan siap untuk disantap. Tak jarang pula tetangga jujug ke dapur membawa kabar atau gosip. 

Dalam penelitian Debri Haryndia Putri, Rinawati Puji Handajani, dan Triandriani Mustikawati yang dimuat di Langkau Betang: Jurnal Arsitektur (2024), pawon atau dapur dipahami sebagai ruang sosial, bukan semata ruang teknis. Namun, seiring waktu pawon telah berubah menjadi dapur modern yang lebih kinclong, tapi kehilangan sebagian dari rohnya yang dulu hangat.

Dalam rumah-rumah baru di perumahan padat, dapur sering kali hanyalah pojok sempit dengan kompor gas dua tungku dan wastafel aluminium yang harus berbagi ruang dengan mesin cuci di pojokan atau di sela-sela. Dapur tidak lagi menjadi ruang sosial, melainkan sekadar fasilitas domestik. Padahal, dalam konsep tradisionalnya, pawon memungkinkan relasi antar individu, juga individu dengan bahan hasil bumi.

Transformasi ini dapat dipandang bukan semata soal estetika ruang, melainkan lebih jauhnya soal nilai yang terkikis, bahkan hilang. Modernisasi mengubah dapur dari ruang kebersamaan menjadi simbol efisiensi. Dalam celetukannya yang penting ada. Orang tak lagi punya waktu menanak nasi perlahan, bahkan berbagi obrolan di sekitar tungku. Dapur kehilangan fungsi sosialnya, dan yang mengiringinya, sebagian kehangatan rumah ikut padam.

Di tengah-tengah semua perubahan di atas, negara kini menghidupkan lagi istilah dapur dalam skala nasional. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadirkan dapur-dapur besar tempat ratusan orang memasak massal demi menyediakan makanan bagi ribuan murid sekolah.

Dapur MBG tampil sebagai simbol solidaritas negara, gar tak ada lagi anak lapar, semua mendapat asupan gizi yang layak. Di layar televisi dan media sosial, gambar-gambar dapur besar dengan seragam dan wajan raksasa dicitrakan untuk menggugah rasa bangga. Kemudian muncul pertanyaan, mengapa negara yang hampir tiap rumahnya memiliki dapur masih membutuhkan dapur raksasa yang memberi makan gratis. Bukan sinis semata, pertanyaan justru coba mengungkap ironi tentang kegagalan dapur domestik menjalankan fungsinya yang paling dasar.

Dalam banyak rumah tangga miskin, dapur bukan lagi sumber kehidupan, melainkan simbol keterbatasan. Data nasional menunjukkan lebih dari 17 persen rumah tangga di wilayah perkotaan hidup di lingkungan dengan fasilitas dapur tidak layak. Banyak di antaranya sempit tanpa ventilasi, bahkan ada yang berpadu menyatu dengan kamar mandi. Dalam kondisi seperti itu, gagasan makan bergizi gratis terdengar seperti obat sementara bagi penyakit yang jauh lebih dalam, yaitu ketimpangan ruang hidup dan ekonomi keluarga.

Dalam kajian yang telah disebut sebelumnya, memperlihatkan perubahan bentuk dapur sejatinya menandai perubahan struktur sosial rumah tangga. Ketika dapur sebatas ruang servis, maka nilai sosial dan emosionalnya kian menipis. Dalam konteks ini, kemunculan dapur publik semacam MBG justru menegaskan bahwa dapur-dapur pribadi tak lagi cukup berfungsi sebagai ruang keberlangsungan hidup. Negara turun tangan menghidupkan kembali apa yang semestinya menjadi urusan domestik, karena struktur sosial gagal menjaga dapur rakyat tetap menyala.

Di balik semangat mulia MBG, terselip aroma industrialisasi kemiskinan. Di dapur publik, makanan diolah massal dengan target gizi tertentu, namun tanpa jejak tangan ibu, apalalgi percakapan kecil yang biasanya menyertai masakan rumahan. Efisiensi di sana berkelindan dengan kehilangan. Makan bergizi gratis, dalam wujudnya yang teknokratis, bisa saja menyelamatkan angka statistik, tetapi belum tentu menghidupkan rasa kebersamaan yang dulu menjelma di pawon. Dapur MBG berupaya menyelesaikan persoalan gizi, tetapi tak serta merta memulihkan hubungan sosial yang tlah luntur atau hilang di meja makan keluarga.

Di banyak kota dan desa, muncul pula bentuk-bentuk perlawanan halus terhadap dehumanisasi dapur modern. Sejumlah keluarga, seperti dicatat dalam penelitian yang sama, berusaha mengadaptasi nilai-nilai pawon ke dapur modern mereka. Ada yang tetap menempatkan area racik di lantai, pula ada yang menambah meja kecil guna mengobrol sambil memasak.

Upaya sederhana itu menunjukkan kerinduan terhadap makna lama dapur yang bukan hanya ruang produksi, tapi ruang kehadiran manusia. Dalam konteks ini, MBG sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengambil inspirasi dari pawon, menjadikan dapur publik sebagai ruang sosial dan pendidikan, bukan sekadar pabrik nasi di wadah semata.

Sayangnya, kebijakan besar sering terjebak pada logika angka dan target. Pemerintah menargetkan penurunan angka stunting dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 14 persen pada 2024. Target yang mulia, tetapi seperti resep yang terlalu cepat dimasak, bahan belum lengkap dan api belum cukup nyalanya, tapi hidangan sudah harus disajikan. Di lapangan, realitasnya masyarakat harus masih bersiasat dengan harga beras yang naik atau minya goreng yang terkadang langka. Dapur MBG memang bisa menyediakan makanan untuk satu waktu makan, tetapi tidak menjamin ketahanan dapur keluarga sehari-hari.

Bukan hanya makanan yang tersaji, melainkan juga ironi yang semakin nyata,  karena negara membangun dapur besar di luar rumah, sementara dapur kecil di dalam rumah banyak yang mati. Padahal yang hilang bukan hanya gizinya, melainkan rasaa rumah itu sendiri.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo