Dark
Light
Dark
Light

The Jeblogs, Sekian, Terima Kasih: Upaya Mencari Kelegaan

The Jeblogs, Sekian, Terima Kasih: Upaya Mencari Kelegaan

Ada lagu yang mengalun hadir tanpa teriakan atau jeritan, namun mampu menyentuh dan menggetarkan lewat keheningan yang getir. Lagu ini bukan tentang amarah serta dendam yang membara untuk meledak, namun tentang seseorang yang berjalan atau setidaknya dipaksa melangkah perlahan meninggalkan segala runtuhan kenangan, hanya sekadar menyusuri rasa sakit yang diderita sendiri. Semua jalan itu guna mencari cahaya kelegaan dalam hati. Mungkin bukan cahaya yang terang benderang, melainkan cahaya yang menembus celah-celah retak dalam diri manusia. Ada luka yang tak perlu disangkal, hanya perlu diakui, bahwa perpisahan memang sungguh nyata dan perlu penerimaan diri untuk rasa kelegaan.

Gambaran runtuh jelas terdengar sejak baris awal melantung lewat harapan-harapan runtuh, napasku sisa separuh. Metafora yang seakan napas terakhir sebelum dipaksa menyerah oleh keadaan atau kondisi. Gambaran yang dapat dibayangkan seakan hadir seseorang yang berdiri di suatu malam, menatap langit hitam yang kosong tanpa bintang atau bulan. Tanda kebaikan tak hadir, tak ada lagi keajaiban meski itu kecil, yang biasanya membantu untuk bertahan dari segala perasaan dan situasi rumit yang ada. Harapan yang mulanya berguguran selayaknya bintang jatuh, kini tak ada lagi. Hanya ada kekosongan dan kegelapan. Langit yang dari dulu sebenarnya tak menjanjikan apa-apa.

Di tengah-tengah kegelapan itu, seuntai kalimat muncul, seperti pisau yang menyayat namun penuh kejujuran lewat baris tenggak racunmu sendiri. Bukan serupa ajakan, namun gambaran getir dan pahit yang harus ditelan ketika seseorang sadar bahwa sebagian luka berasal dari keputusan sendiri yang diambil, yakni mencintai seseorang yang tidak mampu menjaga lantas bertahan terlalu lama dalam hubungan pun hanya saling melukai. Tidak ada keinginan memaksa diri untuk percaya akan sesuatu yang retak bisa dibuat utuh kembali. Racun di sini tertafsir sebagai hasil perasaan yang gagal, menelannya menjadi tindakan menerima tanggung jawab atas pilihan yang pernah dianggap benar.

Lagu ini tidak berhenti di ruang gelap penuh penyesalan semata. Perlahan-lahan namun pasti, ada titik balik yang menandai kesadaran baru tentang cinta yang dapat saja mati, namun hidup tak berhenti bersamanya. Kalimat Cinta boleh saja mati, tapi Rangga punya jalan sendiri menjadi pernyataan yang sungguh epic. Ada pengakuan bahwa diri tak bergantung pada hubungan itu sendiri. Pertanda tegas bahwa ada kehidupan di luar semua kepedihan ini. Menegaskan bahwa hari memang hancur, namun bukan hidup dari seseorang itu sendiri.

Pengakuan jujur akan hubungan yang jelas selaras namun tak dapat sempurna dalam lirik selaras namun tak sempurna, kupilih sepi di sini bukan semata kalimat tentang keserasian yang gagal, namun tentang keberanian mengakui bahwa beberapa hubungan memang tidak ditakdirkan untuk sampai pada tahap bahagia yang utuh. Ada orang-orang yang terasa dekat, tetapi tak pernah benar-benar menyatu, orang-orang yang tepat pada momen tertentu, tetapi tidak untuk waktu yang panjang. Kesadaran seperti ini memang menyakitkan, tapi juga membuka pintu menuju pemahaman akan perasaan bertahan yang hanya memperpanjang rasa sakit.

Bagian yang sering kali sulit dalam seluruh proses ketika menerima kegagalan adalah penerimaan, namun The Jeblogs mampu membawanya dalam baris penuh penegasan dalam lirik Lepaskanlah lepaskanlah / Cahaya menembus hati yang retak/. Rasa pasrah jelas tercermin, tapi bukan yang kusut penuh kemuraman, tapi yang perlahan membuka ruang bagi cahaya baru menerobosnya ke dalam diri. 

Di momentum inilah muncul rasa syukur yang sebenarnya getir lewat lirik Sekian terima kasih / Sampai jumpa di lain hari. Ini bukan semacam ucapan perpisahan yang terlontar dengan penuh amarah atau sinisme. Justru sebaliknya, ada rasa hormat terhadap apa yang pernah dibangun bersama, utamanya kenangan yang ada meski itu pahit. Pengibaratannya serupa seseorang yang menutup pintu secara pelan, memastikan tidak ada kriyetan keras. 

Setelah luka dilepaskan, lagu ini masuk ke bagian paling puitisnya, tertafsir tentang identitas baru yang dipilih oleh aku-lirik. Angin utara dan senja menjadi simbol yang kuat. Angin utara membawa dingin dan kebebasan, sementara senja merupa keindahan yang tenang tapi tak bertahan lama. Dengan mengatakan aku cukup jadi senja, aku-lirik seperti merayakan bentuk diri yang sepenuhnya baru, seseorang yang tak terikat siapa pun. Upaya menggenggam hanya percuma menunjukkan kesadaran kalau tak semua yang indah ditakdirkan utuh dan menetap. Ada pilihan yang diambil untuk tak memaksa apa pun dan siapa pun.

Akhir lagu menampilkan metafora paling final, kereta terakhirku telah datang. Kereta terakhir bukan sekadar kendaraan, melainkan simbol pilihan yang tidak akan diulang. Begitu kaki masuk dan pintu menutup, tidak ada jalan kembali. Ada ketenangan yang ironis di dalamnya, selayaknya seseorang yang menatap sekali lagi ke belakang sebelum benar-benar pergi, tersenyum kecil bukan karena sudah sembuh, tapi karena tahu ia sedang menuju penyembuhan.

Perpisahan memang bukan tentang siapa yang salah atau benar, tapi tentang mengakui bahwa ada yang sudah berjalan sejauh yang mereka bisa, lantas memilih berhenti sebelum semuanya berubah menjadi kekacauan dan kebencian. Tak apa meski langkah itu pelan dan mungkin itulah yang paling manusiawi. The Jeblogs mampu menegaskan itu lewat lagu Sekian, Terima Kasih.


 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo