Dark
Light
Dark
Light

Perang dan Nasib Anak-Anak

Perang dan Nasib Anak-Anak

Masa kanak-kanak semestinya dipenuhi tawa, permainan, dan rasa aman. Namun bagi banyak anak yang hidup dalam wilayah berkonflik, yang mereka dengar justru suara ledakan dan sirine peringatan. Akhir-akhir ini ketegangan yang terus meningkat antara Iran, Israel, dan Amerika membuat dunia kembali cemas akan kemungkinan pecahnya World War III. Dalam ketegangan geopolitik yang terjadi, anak-anak sering kali menjadi pihak yang paling terdampak. 

Kita mungkin tidak asing pada  Anne Frank, remaja Yahudi yang kisahnya dibuat dalam banyak versi:The Diary of Anne Frank (1959)/2009), Anne Frank:The Whole Story (2001), dan Where Is Anne Frank (2021- Animasi). 

The Diary of Anne Frank menceritakan kisah seorang gadis Yahudi bernama Anne Frank yang harus bersembunyi bersama keluarganya dari kejaran rezim Nazi selama World War II. Mereka tinggal diam-diam di sebuah loteng rahasia di Amsterdam, Netherlands, bersama beberapa orang lainnya. Selama masa persembunyian, Anne menuliskan pikiran, ketakutan, harapan, dan mimpinya dalam sebuah buku harian. Lewat catatan sederhana tersebut, Frank memperlihatkan bagaimana seorang anak tetap berusaha mempertahankan harapan dan kemanusiaan di tengah situasi perang dan ketakutan.

Peperangan bukan hanya menghancurkan fisik dan benda-benda, tapi juga cinta kasih dan hubungan kemanusiaan. Hal yang lebih mengiris hati, melebihi luka fisik yang dialami anak-anak adalah membayangkan kekosongan jiwa dan trauma yang tersimpan dalam tubuh mereka.

Anak-anak yang hidup di wilayah berkonflik matanya sering disajikan tatapan orang dewasa yang saling khawatir, puing-puing bangunan, dan ribuan luka segar. Mereka juga dipaksa selalu mendengar ledakan bom, tangisan, dan jeritan para korban. Bau yang tercium oleh mereka adalah bubuk mesiu, asap kebakaran, lalu amis darah. Tentu, di tengah situasi gelap tersebut, masih ada harapan seperti yang dituliskan Randa Ghazy dalam buku Sognando Palestina (2006). 

Ia mengisahkan sisi lain dari kondisi Palestina. Meski diliputi perang dan ketakutan, disana masih tersimpan persaudaraan, cinta, dan persahabatan. Tapi, Ghazy tetap mengakui bahwa kondisi anak-anak terlihat pelik. Mereka lebih menginginkan pistol ketimbang permen, lalu bermain perang-perangan ketimbang bernyanyi atau menggambar. Situasi lingkungan, membentuk mereka lebih akrab dengan kata balas dendam, musuh, perang dan kekerasan. 

The Magician's Elephant (2009) gubahan Kate Dicamillo, mengisahkan dampak pasca perang bagi hidup anak-anak. Peter Augustus Duchenne, harus kehilangan ayah, lalu ibu karena perang. Ia tinggal bersama seorang mantan tentara yang tak mengerti kata kasih. Sepanjang hidup, sebelum bertemu dengan Adel, satu-satunya keluarga yang tersisa, Peter hidup bagai robot: kering cinta dan kasih. 

Dalam sebuah penggalan cerita, Dicamillo menggambarkan kondisi batin Peter: “Peter sudah lupa sama sekali apa artinya dipeluk. Ia memeluk Gloria Matienne dan mulai menangis lagi”. Cerita menguras air mata. Pasca perang, anak-anak harus mengalami banyak  kehilangan.

Peperangan sebenarnya kata lain dari kepongahan. Film All Quiet on the Western Front (2022) garapan Edward Berger mematahkan asumsi soal kebanggan dalam perang. Paul Baumer, diperankan oleh Felix Kammerer dikisahkan mendaftarkan diri untuk ikut perang. Ia dan ketiga rekannya sangat antusias akan petualangan yang menantikan mereka di medan perang. Hal yang terjadi sebenarnya, tidak ada secuil pun kebahagiaan. Perang tidak memiliki wajah,  selain kematian, ketakutan, rasa sakit, dan penyesalan.

Pada rentang abad ke-20, dunia bahu membahu melawan perang. Suara terdengar dari berbagai sumber. Tahun 1971, John Lennon, penyanyi-penulis lagu Inggris, merilis dendang Imagine yang menggema melalui denting pianonya: “Imagine all the people/ Living life in peace/ You may say Im a dreamer/ But Im not the only one/ I hope some day you’ll join us/ And the world will live as one”. Lirik dipercayai sebagai himne perdamaian dunia.

Frances Hodgson Burnett, penulis novel anak asal Inggris, juga menyisipkan pesan penolakan perang lewat buku A little Princess (1905) dan The Secret Garden (1911). Buku dipercayai sebagai karya terbaik di dunia. Anak-anak, pembaca yang disasar dikenalkan dampak perang. Usaha itu memungkinkan penanaman rasa  perdamaian sejak dini. Penolakan atas perang terjadi lewat pena.

Pablo Picasso, pelukis revolusioner abad ke-20, melalui Guernica (1937) menyatakan kecaman atas perang. Karya itu  dianggap sebagai salah satu lukisan anti perang paling kuat dalam sejarah. Lukisan dibuat sebagai respon terhadap pengeboman mengerikan oleh Nazi di kota Guernica selama perang saudara Spanyol. Gambar mencerminkan kekacauan, rasa sakit, dan penderitaan yang menimpa warga sipil tak bersalah. Penolakan atas perang terjadi lewat kanvas. Lalu, kita bisa menelisik pada ruang lain: Wartawan, penyair, sineas dan sederet sumber lain yang ikut berjuang pada jalan kemanusiaan.

Selamanya, peperangan adalah kejahatan. Peperangan tidak hanya merenggut hak makhluk yang bernyawa untuk hidup, tetapi menghilangkan hak dasar bagi setiap manusia, utamanya anak-anak untuk merasakan ketenangan dan kebahagiaan.  


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo