Dark
Light
Dark
Light

Buku itu Kalender

Buku itu Kalender

Waktu itu buku. Dulu, kita mengetahui waktu saat melihat kalender. Lembaran kertas dipajang di dinding itu waktu. Mata menandai nama-nama bulan: dari Januari sampai Desember. Di keseharian, melihat hari itu bernama Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Waktu seperti hasil penglihatan saja dan pengesahan nama-nama. Kita dalam pengertian lama: waktu itu kalender. Kini, pergantian tahun tetap memastikan kalender lestari tapi ada pengertian tambahan: waktu terkandung dalam buku.

Pada halaman-halaman buku, kita membaca tanggal dan nama bulan. Di situ, hari memang tak tercantum tapi pembaca bisa membuat selaras bila mengalami hari-hari berganti. Buku memuat waktu, ditampilkan lewat kata-kata atau bacaan. Pembaca buku berarti pembaca waktu. Buku mengajarkan waktu bareng kata dan makna. Buku pun kalender. 

Pengertian itu diwariskan Leo Tolstoy. Pengarang kondang dari negeri jauh itu membuat buku berwaktu saat usia makin tua. Sekian tahun, ia membaca buku-buku dari para penulis di pelbagai negara. Tindakan membaca berpamrih menemukan dan memilih kutipan-kutipan. Ia menata kutipan di halaman-halaman urut mirip kalender. Kutipan dalam pergantian hari-hari. Kesadaran atas waktu mengikuti kepentingan menaruh kutipan-kutipan beragam tema. Leo Tosltoy berhasil menghimpun ribuan kutipan. Khazanah itu mencukupi untuk ditata dalam buku sebagai bacaan setahun.

Ia berharap para pembaca “mengalami perasaan bermakna dan membangkitkan semangat” seperti pengalaman saat mengerjakan buku. Pilihan dan penataan kutipan memastikan kehendak Leo Tolstoy agar orang-orang terus membaca setiap hari, tanpa libur atau cuti. Mereka cukup membaca satu atau dua halaman berbarengan mengerti waktu. Halaman-halaman urut seperti penanggalan.  

Di edisi terjemahan bahasa Indonesia, buku garapan Leo Tolstoy dijuduli Kalender Kata-Kata Bijak (2010). Kita membuka halaman bertanda waktu 1 Januari, membaca pilihan kutipan dari Henry David Thoreau: “Bacalah buku terbaik, kalau tidak kau akan mendapati bahwa kau tidak punya waktu.” Leo Tolstoy membagi kutipan. Pembaca kalimat-kalimat kutipan dianjurkan harian, mengurutkan tanggal setiap bulan.

Pada awal tahun, ia mengingtkan manusia dan buku. Kesadaran untuk membaca buku bertaut waktu. Pembaca jangan sia-sia akibat salah memilih buku dan bertaruh dalam waktu. Kita membaca kutipan itu merasakan sindiran. Hasrat mengalami tahun baru bakal bermakna dengan membaca buku, tak sekadar pesta dan tidur berdurasi lama.

Kita masih menemukan buku mengandung waktu. Buku itu berjudul Terang Benderang (2000). HB Jassin tampil sebagai penerjemah buku bersumber Matsnawi. Buku memuat pilihan kutipan dari gubahan Jalaluddin Rumi. Semula, buku terbit dalam edisi bahasa Inggris. Buku sengaja diterbitkan bersifat bacaan harian. Pembaca menikmati kutipan dalam satu halaman, dari hari ke hari. Sabar dan rutin diutamakan ketimbang keinginan lekas khatam buku dalam hitungan 2 atau 3 hari saja. Pembaca mendingan membaca buku cuma satu halaman satu hari, selama setahun.

Pada hari pertama, kutipan disajikan bertema berat:

Tuhan – kendati ada kaum skeptis –/ telah menyebabkan taman-taman rohani/ dengan bunga-bunga harum/ tumbuh dalam hati sahabat-sahabat-Nya./ Tiap semerbak harum di dalamnya/ mawar bercerita tentang rahasia semesta./ Harumnya membingungkan kaum skeptis/ menyebar ke seluruh dunia/ mencabik selubung.

Pembaca bukan sufi masih berhak memasuki petikan puisi dengan peka dan tabah. Kutipan terpilih tidak menghendaki pembaca dalam samar atau gelap. Pilihan kutipan dan penempatan dalam hari-hari justru ingin menjadi “terang” bagi pembaca sedang menilik geliat rohani, setiap hari.

Dulu, Rumi saat menggubah puisi tak mengharuskan itu menjadi sajian harian. Pada masa berbeda, para pengamat dan pembaca warisan-warisan Rumi memilih melestarikan dengan menempatkan dalam halaman-halaman penanggalan atau kalender. Rumi bersama pembaca selama setahu. Ia hadir setiap hari melalui kata-kata.

Pada abad XX, buku tetap diterima sebagai kalender. Penerbitan buku-buku berwaktu makin beragam bagi para pembaca sadar selera tema. Sekian tahun terakhir, industri perbukuan di Indonesia tampak riuh ketimbang bisnis mencetak dan menjual kalender. 

Buku-buku laris berupa edisi terjemahan atau susunan penulis Indonesia bertema Stoik. Para penerbit besar dan kecil bersaing dalam meraup untung saat kaum muda gandrung merenungi Stoik. Buku-buku dalam bobot serius dan ringan tetap diminati para pembaca. Penerbitan itu memicu laba besar. Pihak-pihak ingin berebut untung mengadakan buku-buku edisi bajakan. Edisi bajakan berharga murah justru laris.

Kita menemukan buku bersifat kelender. Buku itu susunan Ryan Holiday dan Stephen Hanselman. Edisi terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan Gramedia Pustaka Utama berjudul Setiap Hari Stoik (2022). Buku untuk dibaca selama setahun. Buku itu tebal. Pilihan kutipan dilengkapi tafsiran.

Kita membuka edisi 1 Januari, kutipan berasal dari Epictetus: “Tugas utama dalam hidup hanyalan ini: mengidentifikasi dan memilah masalah agar aku bisa katakan dengan jelas kepada diriku sendiri, manakah masalah-masalah eksternal yang tidak berada di bawah kendaliku dan manakah yang berkaitan dengan pilihan benar yang memang bisa aku kendalikan. Ke manakah aku bisa mencari kebajikan dan kekejian? Tidak kepada hal-hal eksternal yang tidak terkendali, tetapi di dalam diri ini, kepada pilihan-pilihanku sendiri.” Kutipan berasar dari sekian abad silam. Penafsiran diberikan agar berdekatan situasi hidup pada abad XXI.

Hal-hal “berat” dan “serius” itu terus dinikmati pembaca setiap hari, dari Januari sampai Desember. Bacaan selama setahun meminta ketabahan. Pembaca dianjurkan merenung ketimbang tergesa membuka halaman demi halaman bermaksud ingin cepat khatam. 

Tiga buku itu bisa menjadi kalender (cetak) biasa terpajang di dinding atau ditaruh di atas meja. Kita menjadi pembaca buku sambil mengalami waktu. Buku itu waktu. Buku itu kalender menanti kita untuk membuka setiap hari. Pada tanda waktu dan suguhan kata, pembaca dalam arus pemaknaan, sejak hari pertama sampai hari terakhir. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo