Kartini berada dalam jajaran tokoh berdarah bangsawan. Posisi itu memungkinkan ia menatap beragam kebudayaan. Perkenalan budaya terjadi melalui benda-benda, ide, surat, pertemuan, dan percakapan. Kita mengetahui lewat dokumentasi yang pernah terpotret dan dituliskan.
Perkenalan itu perlahan berbuah pada pandangannya soal cara hidup dan berpikir. Mula-mula ia mendambakan belajar ke Eropa, mengkritisi adat istiadat, lalu mengadopsi beberapa kebudayaan Barat. Kita menduga terjadi persilangan style fashion dalam hidup Kartini yang menandai terjadinya persentuhan pikiran. Dugaan ini tidak didukung foto-foto Kartini yang tampil dengan busana Eropa, tetapi lingkungan dan beberapa peristiwa mengarahkan kita untuk memikirkan sebuah pertanyaan, mungkinkah Kartini pernah tidak mengenakan kebaya?
Kita tidak menemukan keterangan Kartini bercelana jeans ataupun berbaju peignoir, tetapi kita boleh menduga pakaian-pakaian Eropa mungkin saja masuk dalam lemari yang ada di kamarnya dan tergunakan dalam aktivitas yang luput dari mata kamera.
Kartini membaca berbagai bacaan dari lintas negara. De Hollandsche Leile, bacaan langganan Kartini adalah majalah progresif yang memperjuangkan hak-hak perempuan terbitan Belanda. Majalah ini ditujukan untuk usia mulai dari 12 tahun, berisi pengetahuan, tips kecantikan, kerumahtanggaan, mode, kesehatan dan masak-memasak. Surat kepada Nona Zehandeelar tertanggal 21 Agustus 1900 juga menginformasikan pertemuan Kartini dengan majalah Prancis: “Sekarang kami mencoba membaca majalah-majalah bergambar bahasa Prancis. Tetapi membaca dan mengerti itu lain, bukan? Mula-mula kami membuat terjemah-terjemah yang gila, tetapi lambat laun menjadi baik...."
Dari majalah itu, Kartini tidak hanya mengetahui soal gagasan emansipasi tetapi juga tren fashion. Majalah tidak hanya dipenuhi tulisan tetapi juga foto-foto perempuan Eropa dengan berbagai pakaian dan aksesoris di tubuhnya.
Dalam Seri Buku Tempo berjudul Gelap Terang Hidup Kartini (2019) dijelaskan bahwa Sosrokartono, kakak Kartini pada saat libur dari do Hogere Burger School Semarang, selalu membawakan buku-buku untuk adiknya dari menyoal pengetahuan dunia modern, revolusi perancis, hingga novel-novel popular.
Tersebut beberapa novel yang ia baca: Buku Hilda Van Suylenburg berkisah perjuangkan hak-hak perempuan dalam masyarakat di Belanda gubahan Ny. C. Goo Hoop de Jong. Buku Moder Vrauwen yang berkisah tentang tujuan gerakan perempuan, gubahan Marcel Prevost, penulis dari Perancis. Dan buku De Vrouwen en Sosialisme, sebuah roman tentang kaum perempuan dalam bingkai sosialisme, gubahan August Bebel, seorang sosialis Jerman.
Novel-novel itu mungkin menghidupkan pertemuan imajinatif antara Kartini dengan berbagai tokoh perempuan dari Belanda, Jerman dan Perancis. Mungkin, ia tidak hanya sadar konflik dan tempat yang disuguhkan dalam teks tetapi juga pakaian yang dikenakan para tokoh, mengingat di tahun 1900 masyarakat dunia sudah sadar akan fashion, terutama Prancis.
Persilangan style fashion akrab dilihat Kartini dalam ruang privatnya. Ayah dan Suami Kartini kerap memadukan busana Jawa dan Eropa. Pakaian, menurut kaum Bangsawan merupakan cerminan statusnya sebagai elit yang menduduki strata tertinggi di tengah masyarakat. Pakaian tidak hanya dipakai untuk melindungi tubuh tetapi mengartikan jati diri.
Misalnya, dalam Manusia Jawa (1989) gubahan Maebangun Hardjowirogo diceritakan pada tahun 1871-an, setelah menyelesaikan bangunan Langenharja, Pakubuwono IX memanggil Mangkunegara IV untuk menemuinya. Ia ingin menunjukkan tempat beristirahatnya kepada Mangkunegara.
Kedudukan yang sama dengan Pakubuwono membuat Mangkunegara IV merasa gundah untuk memilih pakaian yang akan dikenakan dalam pertemuan. Ia ingin mengenakan beskap atau atela tetapi dirasa tidak sesuai, sebab baju itu hanya pantas dipakai oleh para abdi ndalem, sedangkan ia bukanlah abdi ndalem. Jika memakai baju takwa sikepan, dirasa juga tidak sesuai karena undangan yang disampaikan bukanlah acara resmi melainkan kunjungan pertemanan.
Karena peristiwa itu, supaya secara simbolik kedudukan Mangkunegara IV tidak tampak berada di bawah kedudukan Pakubuwono IX, ia mencoba melakukan kombinasi dengan memakai baju rok Eropa yang telah dimodifikasi dengan pakaian Jawa. Dengan baju alternatif itu, ia ingin menunjukkan kesan dan pesan bahwa posisi kedudukannya dengan Pakubuwono IX sejajar.
Kesejajaran kedudukan tersebut diungkapkan melalui bentuk pakaian yang berbeda dengan pakaian yang ada pada masa itu. Sejak peristiwa itu, muncul istilah baju langenharjan atau disebut juga beskap landhung, sebagai pakaian yang tidak resmi, dan dipakai bagi mereka yang berkedudukan sama.
Pada gambar yang memperlihatkan foto R,M.A. Sosroningrat, terlihat tubuh beliau mengenakan baju atela dengan lencana di sisi kiri bajunya. Lalu foto Raden Mas Adipati Ario Djojodiningrat mengenakan baju hewes berdasi dan lencana di sisi kiri, digandeng Kartini, dilengkapi kipas kecil di tangannya. Kedua pakaian tersebut memuat persilangan antara fashion Jawa dan Eropa yang ingin memunculkan identitas persamaan kedudukan.
Sebuah foto dalam buku Kartini Sebuah Biografi (1979) memperlihatkan Kartini tersenyum memangku anak Ny. De Boy tahun 1900 pada kunjungannya ke Kebun Raya Bogor. Sinyo itu memakai pakaian pelaut yang khas untuk anak-anak yang menempuh pendidikan di sekolah Belanda. Beberapa waktu kemudian, tepatnya tahun 1904 kita menemukan kemiripan pada foto setelahnya. Kartini terlihat bersama suami dan tiga anak tirinya berfoto di Kabupaten Rembang. Anak laki-laki dalam foto tersebut mengenakan pakaian sama seperti sinyo, anak Ny de Boy. Pakaian Eropa tergunakan di tubuh suami dan anak tiri Kartini.
Kita kemudian berpikir, pakaian Eropa lebih mudah muncul pada pakaian bangsawan laki-laki ketimbang perempuan. Peletakan moralitas dan adat yang lebih ketat pada tubuh perempuan diduga menjadi penyebab tidak ditemukannya persilangan budaya fashion antara Jawa dan Eropa secara terang-terangan di ruang publik. Tapi, bukan berarti menandakan tidak mungkin terjadi persentuhan budaya Eropa dalam pakaian perempuan Jawa.
Kita teringat benda-benda di sekitar Kartini. Di Museum Kartini Rembang, dijumpai bak mandi bernilai sejarah. Bak mandi itu berbahan porselen yang tidak dimiliki oleh masyarakat pada umumnya. Lalu kita juga akan melihat shower berbahan pipa besi yang tertanam di dinding kamar mandi. Kepala pancuran berbentuk bulat, berukuran lebih besar dari pipa dan memiliki beberapa lubang kecil untuk menyalurkan air. Kedua benda ini awal mula termiliki hanya untuk orang Belanda lalu dimiliki juga oleh Kartini.
Dalam ruang paling privat, kita melihat benda-benda Eropa menemani hari-hari Kartini. Meski benda-benda rumahan eropa lebih memiliki cerita ketimbang pakaian di tubuh Kartini, kita tetap boleh bertanya apakah ketika di kamar, Kartini pernah menggunakan pakaian Eropa? Atau ketika berkunjung ke pantai atau piknik dengan ibu angkat Belandanya, Kartini mengenakan pakaian Eropa? Mengingat aktivitas paling menarik ketika di Pantai adalah mandi dan berlarian di Pasir.
Lalu, kita membayangkan, jika benar terjadi persilangan penggunaan pakaian dalam hidup Kartini, telah terjadi pertemuan pakaian Jawa dan Eropa di dalam lemari Kartini yang berukir. Pakaian itu menemani Kartini di tempat tidurnya dan mungkin saja pada adegan menulis di meja belajarnya. Kartini menulis gagasan soal feminisme dan mengkritik keangkuhan Belanda dalam balutan busana Eropa.
Pakaian-pakaian itu digantung atau mungkin dilipat, berjejer dengan benda-benda lain. Pertemuan dua kebudayaan besar terjalin tidak hanya dalam gagasan-gagasan besar yang sudah termiliki oleh banyak orang, tetapi bisa terjadi pada benda-benda sederhana yang menemani hidup Kartini.
Editor: Kendi Setiawan


