Ada tempat penjualan buku bekas yang menurut saya menarik di Solo. Area itu berbagi lahan dengan penjual kacamata, pakaian, dan pernak pernik motor. Lokasinya berada di sebelah utara Keraton Kasunanan Surakarta, dekat Masjid Agung. Orang-orang sering menyebutnya Gladag.
Jika menyempatkan diri untuk berplesiran ke Gladak, kita akan disambut ucapan hangat dari penjaga kios-kios buku yang umurnya beragam. Tubuh kita juga akan disambut embusan angin, aroma tumpukan kertas, suara burung, dan kendaraan yang lalu lalang.
Di area depan, sepasang beringin besar menaungi dua kapling berisi ribuan buku. Makin ke dalam, kita akan menemukan cahaya matahari menerobos celah-celah bumbungan. Sawang dan beberapa poster lawas menemani atap seng yang banyak ditambal plastik. Alunan lagu-lagu lawas menjadi pengiring suasana di kios-kios buku. Tempat itu mempertemukan buku dari berbagai lintas waktu dan tema.
Pengunjung yang datang dari Solo maupun luar daerah mesti mafhum, di Gladak jarang ditemukan buku tersusun rapi di lemari. Pembeli akan menemukan kejutan-kejutan: buku di peti, buku dalam karung, buku terbalut plastik, dan buku dalam buntalan kain. Kalau diteliti satu per satu, calon pembeli akan menemukan judul dan tema yang beragam. Tak jarang, menjumpai buku-buku langka.
Ada banyak hal menarik di Gladak, salah satunya peletakan buku. Biasanya, di toko buku mainstream, calon pembeli hanya perlu menyediakan uang lalu mengambil buku yang diinginkan. Jika tak kunjung menemukan, petugas akan sigap ikut membantu dengan mengetikkan nama judul pada layar komputer untuk mengetahui lokasi buku. Pembeli sungguh dimuliakan.
Di Gladak, yang terjadi justru sebaliknya. Buku bertempat sembarang, tidak terdaftar. Pembeli akan dibuat capek, cemas, senang, dan banyak berpikir. Aktivitas menjadi lebih kompleks karena tidak hanya sekadar jual beli. Pelibatan gerak tubuh sangat terasa. Terjadi proses perburuan, tawar-menawar, hingga pagelaran saling melempar guyon antara penjual dan pembeli.
Tubuh calon pembeli rawan menjadi capek karena harus mengangkat tumpukan buku, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menyortir buku satu demi satu, dan sesekali bersin karena debu. Telapak tangan juga menjadi kotor. Namun, semua itu terasa tak lagi penting saat bertemu buku menarik: langka, bagus, murah. Rasanya seperti melihat oase di tengah gurun pasir.
Peristiwa tidak berhenti di situ. Perasaan cemas menerka harga sering membayangi buku yang ingin dimiliki. Jika pintar menawar, harga bisa sangat murah, tapi jika tidak, harga akan cukup tinggi. Biasanya, setelah buku ditemukan dan ingin segera dimiliki, terbesit sebuah tanya, dari mana akan mendapatkan uang untuk membayar? Hutang bisa menjadi solusi penyelesaian. Beberapa penjual memperbolehkan sistem hutang. Atau mengambil keputusan nekat.
Di hadapan harga-harga, calon pembeli harus mengambil pilihan, berani untuk mempertaruhkan uang yang diperlukan untuk hari esok. Buku memang sering membuat kita nekat, tak jarang juga menjebak dalam situasi pelik.
Pelesiran buku tidak hanya mengandalkan mata dan tenaga. Buku juga persoalan intuisi. Saya mengenal beberapa orang yang berbakat dalam hal itu. Teman saya salah duanya, pertama laki-laki berambut gondrong dari Solo lalu pria berambut ikal dari Mamuju. Mereka sangat pandai menemukan buku-buku yang bagus. Sekali memperhatikan tumpukan buku, mereka langsung bisa menjaring banyak judul bagus.
Saya beberapa kali mengunjungi Gladak. Dari semua pelesiran selama ini, ada dua potongan realitas yang masih teringat dalam pikiran. Pertama, kakek penjual buku yang sedang membaca. Kedua, melihat bekas lapak buku yang terbengkalai.
Waktu itu, saya perhatikan ada seorang kakek berusia sekitar 65 tahun duduk di depan dagangannya (buku dan majalah). Ia memangku sebuah buku. Dibaliknya halaman demi halaman dengan khusyuk. Matanya tidak lagi muda sehingga perlu ditopang bantuan kacamata. Ia tampak tak mempedulikan sekitar, asyik menikmati bacaannya. Di sisinya, buku-buku banyak terlipat, warna kertas terlihat mulai menguning, di beberapa sisi terkoyak rayap. Hari sepi pengunjung. Pembeli dan penjual seperti mendekati batas pesimis.
Tak jauh dari potret itu beberapa lapak sudah mulai tergulung waktu. Lemari-lemari yang dulu pernah dipenuhi buku kini dihuni debu. Kursi dan meja terlantar. Keadaan memprihatinkan. Lapak itu seolah bercerita dalam kemurungannya: “Dahulu, kejayaan intelektual hadir di sini. Pernah begitu banyak mata dan tangan yang tergoda menjamah buku yang bertumpuk. Mereka rela berebut dan berdiam berlama-lama”.
Di tengah-tengah situasi serba digital dan makin berkurangnya minat orang-orang pada buku, terutama cetak, muncul pertanyaan dalam diri saya: apakah buku akan tetap dianggap penting di hadapan era saat ini? Saya menduga: Iya. Ageng Indra di epilog buku berjudul Kenapa Masa Depan Kita Bergantung pada Perpustakaan, Membaca dan Melamun? (2023) menuliskan: “Membaca buku adalah bentuk lain percakapan, baik berbentuk cetak, e-book, atau audio buku. Namun, dalam mewariskan imajinasi, buku lebih efektif.”
Buku mengajak berpengetahuan dengan pelibatan tubuh. Peristiwa membaca buku cetak melahirkan banyak gerak yang lebih melekat dalam ingatan
Editor: Kendi Setiawan


