Denmark mengejutkan dunia dengan gebrakan barunya. Pemerintah negara Nordik itu mengumumkan akan menghapus pajak penjualan 25% untuk buku, menyusul kebijakan Inggris yang lebih dahulu (BBC, 20/8/2025). Tindakan ini dilakukan sebagai jawaban untuk memerangi ‘krisis membaca’ yang terjadi di Denmark.
Para pembaca tentu tersenyum, mengingat harga buku sering kali setara kebutuhan pokok. Penghapusan pajak buku bisa mempermudah akses masyarakat dalam memiliki bacaan. Denmark masih mempercayai pentingnya buku. Dibuktikan dengan keseriusan negara tersebut dalam melakukan penelitian, menganalisis kondisi remaja dalam memahami sebuah teks.
Di tengah-tengah kemajuan teknologi yang serba digital dan perubahan cara hidup yang lebih cepat, kita boleh bertanya: Apakah buku tetap punya peran penting? Mengapa negara-negara maju masih mau repot-repot memikirkan nasib buku? Padahal, buku membuat manusia harus melambatkan ritme hidup, mengambil jeda dari rutinitas, dan berdiam diri dalam waktu lama.
"...segalanya berubah begitu kita membaca," adalah penggalan dari tulisan Neil Gaiman dalam Kenapa Masa Depan Kita Bergantung pada Perpustakaan, Membaca, dan Melamun? (2023). Gaiman menceritakan bahwa buku dapat membawa pembacanya pada dunia yang berbeda. Buku menawarkan banyak situasi pengalaman dari berbagai kisah. Begitu masuk di dalamnya, konon pembaca bisa merasakan hidup di dunia lain. Kita tidak akan bisa lagi puas dengan dunia nyata. Rasa itu bisa mendorong kepala untuk terus berpikir secara kreatif dan inovatif.
Pada tahun 2007, masih dalam bukunya itu, Gaiman menceritakan pengalamannya menghadiri kongres fiksi ilmiah dan fantasi yang diadakan oleh Tiongkok untuk pertama kalinya dalam sejarah. Rasa penasaran menuntunnya untuk bertanya, apa alasan Tiongkok mengizinkan fiksi ilmiah masuk karena sebelumnya tidak diizinkan? Ternyata, Tiongkok menyadari rakyatnya ahli dalam membuat sesuatu jika rancangannya sudah tersedia tapi sulit untuk berinovasi dan menciptakan hal yang baru.
Tiongkok pernah mengirim delegasi ke Amerika untuk meneliti orang-orang di balik Apple, Microsoft, dan Google. Tiongkok ingin tahu rahasia di balik keberhasilan inovasi teknologi tersebut. Jawaban yang didapat adalah orang-orang itu telah membaca fiksi ilmiah sejak masih anak-anak.
Buku penting, dan boleh dikatakan wajib diperhatikan jika menginginkan peradaban yang lebih baik. Penelusuran kemajuan peradaban selalu menempatkan buku sebagai kunci.
Eko Prasetyo dalam Al-Alaq Bacalah (2019) menceritakan sejarah Islam yang lekat dengan buku. Pada pertengah abad ke-9 M, Harun Al-Rasyid membangun perpustakaan dengan jumlah hampir sejuta buku. Ada 800 perpustakaan berdiri. Di tahun 830 M, Khalifah Al-Makmun mendirikan Bayt al-Hikmah, balai pengetahuan yang memuat berbagai kegiatan penerjemahan dan penelitian.
Khalifah al-Aziz di Kairo pada abad ke-11 memiliki koleksi 1.600.000 buku. Kita bisa membayangkan pengaruh buku dalam mengawal pergerakan zaman. Konon, masa itu disebut-sebut sebagai The Golden Age Of Islam, karena kesejahteraan dapat ditemui semudah melihat langit. Keberhasilan suatu negara sejalan dengan suburnya budaya literasi yang ditumbuhkan.
Abasa Abbo pernah mengatakan: “Biara tanpa buku seperti kota tanpa harta, tangsi tanpa tentara, dapur tanpa bumbu, meja tanpa makanan, kebun tanpa tumbuh-tumbuhan, padang tanpa bunga, pohon tanpa daun…” Membaca adalah kebutuhan primer dalam hidup manusia.
Buku tidak hanya penting bagi orang dewasa tapi juga anak-anak. Murti Bunanta dalam Buku, Mendongeng dan Minat Membaca (2004) menukilkan bahwa dari buku anak dapat belajar mengenal manusia dan kehidupan serta dirinya sendiri. Melalui cerita, anak akan meluaskan dunia dan pengalaman hidupnya. Hal itu akan berpengaruh dalam pembentukan jati dirinya ketika dewasa. Dan jika ingin ditarik lagi, menentukan masa depan suatu negara.
Jepang menjadi salah satu negara yang juga serius memikirkan literasi bagi anak-anak. Murti Bunanta mengisahkan perjalanannya saat mengunjungi perpustakaan di Jepang: “Perpustakaan itu besar, luas, bertingkat, mewah, lengkap, nyaman, memberi banyak kemudahan dan fasilitas bagi pemakainya.”
Kita dapat menemukan pembuktian itu dalam sebuah novel. Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela (1981) gubahan Tetsuko Kuroyanagi mengisahkan persentuhan antara anak-anak dan buku di abad ke-20: “Dia memasang berderet-deret rak buku di dalam gerbong, dan rak-rak itu sekarang penuh buku, bermacam-macam ukuran warnanya. Meja dan kursi tersedia, tempat anak-anak duduk dan membaca.” Buku tetap ditemukan dalam sekolah sederhana yang dibangun dari bekas gerbong kereta.
Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela (1981) mengisahkan banyak hal seputar dunia pendidikan, salah satunya tentang upaya kepala sekolah untuk mendorong budaya literasi. Hingga kini, novel itu masih menjadi rujukan bagi para pendidik sekaligus bacaan anak yang menghibur.
Di Indonesia, budaya literasi masih terasa kusut. Belum ada cahaya terang yang memungkinkan budaya membaca tumbuh subur. Pemerintah lebih disibukkan dengan urusan perut: program makan bergizi gratis (MBG), ketimbang otak. Padahal, nasib literasi di Indonesia memprihatinkan. Menurut data UNESCO, hanya 0,001 % masyarakat Indonesia yang memiliki keinginan membaca. Lalu dalam Program of International Student Assessment (PISA) pada tahun 2019, minat baca Indonesia ditampilkan berada di peringkat ke-62 dari 70 negara. Menyedihkan!
Pada akhirnya, kita berharap Indonesia lekas berbenah. Perubahan untuk mencapai Indonesia emas sulit terwujud tanpa perbaikan pada sisi literasi. Memberi makan rakyat memang perlu, itu keinginan yang mulia, tapi lebih penting memberikan akses pada rakyat agar bisa mandiri mencari makannya sendiri. Salah satunya lewat literasi.
Editor: Kendi Setiawan


