Barangkali, yang dibutuhkan dalam hidup manusia justru hal-hal yang dikatakan jahat, salah, dan hina. Jika gagasan ini terdengar ngawur, berarti otak saya sukses diracuni buku Fyodor Dostoevsky. Kalau memang demikian, saya senang. Itu berarti ada kemajuan sedikit dari tahun sebelumnya soal cara membaca, mungkin. Minimal berhasil tabah menghadapi teks yang menyakitkan hati.
Novel Kejahatan dan Hukuman (POI, 2024) berkisah tentang pergulatan batin seorang mahasiswa kesepian dan menyendiri bernama Raskolnikov. Ia hidup dalam ilusi yang dibangunnya tentang sebuah teori kekuasaan. Baginya, ia bisa melakukan pembunuhan tanpa menanggung rasa bersalah atau sanksi hukum. Namun, seorang inspektur polisi bernama Porfiri berhasil menggoyahkan teori yang diyakininya.
Setelah menjalani pergulatan batin yang panjang, Raskolnikov akhirnya menyerahkan diri lalu dihukum ke Siberia. Di sana ia menemukan kembali jati dirinya melalui pertobatan dan cinta seorang pelacur muda bernama Sonia. Buku ini mengeksplorasi begitu mendalam agony, penderitaan mendalam seorang anak manusia, ketakutan, dan harapan. Semua itu dibungkus dalam kombinasikan genre detektif dan psikologi.
Saya menaruh rasa curiga ketika membuka halaman awal. Sepertinya isinya perih untuk dibaca. Bayangkan, lembar awalnya sudah menyajikan kalimat tajam: “Ia merasa gagal dalam hidup karena kondisi perekonomiannya.” Pembuka cerita langsung dihadapkan konflik.
Ternyata benar. Buku berisi kumpulan kisah manusia yang dicap brengsek, hina, melarat, tak berguna, dan licik. Penulisnya pintar sekali membolak-balik cerita. Tokoh yang buruk tidak selalu ditenggelamkan dalam kebejatan. Pun untuk tokoh yang baik, tak melulu dalam situasi kemuliaan.
Dunia yang dibangun Dostoevsky tidak hitam putih. Semua tokoh mendapat jatahnya untuk salah, menyesal, dan belajar kembali. Pembaca dibuat bimbang menempelkan label protagonis atau antagonis.
Tulisan di awal menyoal kebutuhan manusia pada hal yang jahat, salah, dan hina amat terasa dalam salah satu adegan cerita. Raskolnikov sulit untuk mengakui pembunuhan yang telah dilakukannya. Ia memendam kesalahan itu. Namun, akhirnya ia luluh di hadapan sonia, perempuan melarat yang bekerja sebagai pelayan seks. Tanggapan Sonia terhadap pengakuan Raskolnikov melekat dalam ingatan pembaca.
Sonia seperti merasa tertikam, menangis, dan menjatuhkan diri di kakinya, tanpa tahu sebabnya.
"Apa yang telah kau lakukan!” jeritnya bingung, melompat, lalu menjatuhkan diri ke lehernya, merangkulkan tangannya, dan memeluknya erat. “ Tak seorang pun… tak seorang pun di dunia ini yang lebih tersiksa daripada kamu!” ia berteriak kesurupan dan meratap histeris.
Ah, sudah lama Raskolnikov tak merasakan kelembutan seperti itu, kelembutan yang langsung membuka dan menyiram hatinya. Air matanya menetes.
Sonia tidak langsung terburu-buru melihat pembunuhan sebagai masalah utamanya. Ia justru memahami di balik tragedi mengerikan itu ada penderitaan yang dirasakan pelaku. Sonia melihat dari sisi itu. Bagian yang sangat sulit ditembus banyak orang ketika benar-salah, baik-buruk dalam masyarakat sudah dipagari begitu tebal dan tinggi.
Biografi Sonia tidak tertulis sebagai akademisi, spiritualis, maupun terlahir dari keluarga terpandang. Ia benar-benar anak kandung dari kemelaratan, penelantaran, dan rasa perih yang menghuni dunia. Kesadaran yang muncul dalam diri Sonia murni lahir dari penderitaan yang selama ini ia peluk dalam hidup. Sonia bisa memahami penderitaan Raskolnikov karena ia bergelut dengan pengalaman rasa sakit.
Saya berpikir cukup lama dalam bagian cerita tersebut. Apakah mungkin, manusia bisa memahami penderitaan orang lain tanpa pernah merasakan penderitaan yang setara? Saya rasa tidak. Penderitaan tak akan tampak tanpa kacamata penderitaan. Jika dikaitkan dengan novel Dostoevsky, saya mencermati dari semua tanggapan tokoh lain, Sonia paling memahami pengakuan Raskolnikov.
Penggalan cerita tersebut menarik saya pada situasi negara saat ini. Kenapa masalah soal ketimpangan ekonomi antara rakyat dan penguasa tak kunjung reda sejak zaman dahulu? Jurang yang begitu besar telah melahirkan banyak tragedi merenggut nyawa manusia. Masalah ini seolah terus dibiarkan berputar dari masa ke masa.
Kartini pernah bercerita dalam suratnya tentang kemiskinan. Ia bertemu dengan anak kecil yang harus ikut bekerja menghidupi dapur keluarga. Soe Hok Gie juga pernah menulis dalam buku catatannya, tak jauh dari istana yang sedang berpesta ada rakyat yang makan kulit mangga karena kelaparan. Kini, saat rakyat kesulitan makan, para anggota dewan sibuk menebar kemewahan.
Mungkin, itu semua terjadi karena para petinggi tak pernah tahu apalagi memahami arti dari penderitaan. Tidak ada kata itu dalam kamus hidup mereka. Hidup para petinggi jauh dari kemiskinan apalagi kelaparan. Bagaimana menjelaskan pada mereka yang hidupnya bergelimang harta sejak lahir bahwa rakyat setiap malam merasa gelisah memikirkan hari esok.
Akan makan apa nanti? Bagaimana anakku sekolah? Apakah masih ada cukup uang untuk berobat?
Situasi perasaan itu gagal ditangkap oleh wakil rakyat. Akhirnya, kebijakan dan ambisi yang muncul tidak menyentuh kebutuhan rakyat yang sebenarnya. Mungkin, situasi ini masih bisa tertolong, salah satunya dengan membaca.
Para petinggi bisa menyediakan waktu untuk bergumul dengan teks sastra yang bicara soal penderitaan. Hati dan pikirannya perlahan bisa diasah untuk melihat dan merasakan menjadi sosok yang melarat. Namun, tak tahu tingkat keberhasilannya berapa persen, tapi ini lebih baik ketimbang tidak sama sekali.
Judul Buku: Kejahatan dan Hukuman
Penulis: Fyodor Dostoevsky
Penerbit/Tahun Terbit: Pustaka Obor Indonesia/ 2024 Cet.3
Alih Bahasa: Ahmad Faisal Tarigan
ISBN: 978-623-6421-99-4
Editor: Kendi Setiawan


