Di tengah-tengah anggapan bahwa wajah pesantren kaku dan konservatif, beberapa pesantren justru menunjukkan wajah yang lebih berbeda. Mereka membuka ruang bagi beragam kelompok untuk belajar dan beribadah dengan suasana penuh penghormatan. Pendidikan di sini tidak hanya soal ilmu agama, tetapi juga memahami dan merespons kebutuhan sosial dan budaya masa kini.
Beberapa pesantren menggabungkan pembelajaran agama dengan praktik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Di tempat lain, mereka memberi perhatian khusus pada pemberdayaan sosial serta mendukung nilai-nilai keadilan dan kesetaraan. Melalui pendekatan yang hangat dan progresif, pesantren menjadi ruang belajar yang menguatkan.
Sejumlah pesantren di Indonesia mulai menunjukkan wajah baru pendidikan Islam yang lebih terbuka terhadap perubahan. Tidak hanya berfokus pada pendalaman ilmu agama, banyak pesantren kini turut mengembangkan seni, budaya, teknologi, serta kepedulian terhadap lingkungan dan sosial sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Beberapa di antaranya bahkan mengusung nilai-nilai ekologi, kesetaraan gender, dan pemberdayaan kelompok marginal sebagai wujud implementasi ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Santri tidak hanya diasah dari sisi spiritual, tetapi juga dibekali kesadaran sosial dan keterampilan hidup yang relevan dengan tantangan zaman.
Model pendidikan seperti ini memperlihatkan bahwa tradisi dan kenyataan terkini dapat berjalan berdampingan dengan harmoni.
1. Pesantren Budaya Kaliopak
Berlokasi di Dusun Klenggotan, Bantul, tepat di tepi selatan Sungai Opak, Pesantren Kaliopak bukan hanya tempat mengaji. Marlina (2025) mencatat, pesantren ini juga berfungsi sebagai ruang pelatihan dan kegiatan kebudayaan, dengan kelas menulis, lokakarya film, diskusi tasawuf, hingga pameran dan pertunjukan seni.
Didirikan oleh Kiai Muhammad Jadul Maula pada 2006, pesantren ini tumbuh dari situasi pascagempa Yogyakarta. Warga sekitar berkumpul, berdoa, dan beraktivitas di pesantren meski tanpa listrik. Dari kebersamaan itu, muncul gagasan untuk menjadikan Kaliopak sebagai pusat pembelajaran agama dan budaya.
Pesantren ini melibatkan masyarakat sekitar dan banyak kalangan dari luar, termasuk mahasiswa berbagai kampus. Kajian di sini mencakup ilmu keagamaan, tradisi Jawa, dan pengembangan intelektual anak muda. Kaliopak menjadi ruang pertemuan antara agama, kebudayaan, dan kehidupan sehari-hari.
2. Pesantren Seni Rupa dan Kaligrafi al-Qur`an, Kudus
Pesantren Seni Rupa dan Kaligrafi Al-Qur’an (PSKQ) tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tapi juga membekali santri dengan keahlian kaligrafi. Didirikan pada 2007 oleh maestro kaligrafi Muhammad Assiry, pesantren ini mencetak seniman muslim dan kaligrafer handal. Selain menguasai seni rupa, mereka juga terampil dalam bidang teknologi.
Menurut Akhmad Angga (2019), PSKQ Modern memperluas cakupan pendidikan dengan memasukkan teknologi informasi sebagai bagian penting kurikulumnya. Bahasa Arab dan Inggris menjadi bahasa wajib komunikasi sehari-hari di pesantren. Santri juga dibekali kewirausahaan, khususnya dalam pengelolaan restoran dan pertanian sawah.
Menurut Assiry, materi teknologi meliputi desain grafis, multimedia, copywriting, SEO, pemasaran media sosial, hingga aplikasi Microsoft Office. Selama Ramadhan, santri fokus pada ngaji kaligrafi, seni, arsitektur, dan studi kitab kuning. Pesantren membuka pintu bagi siapa saja, terutama yang berasal dari kalangan ekonomi lemah, dengan pembelajaran gratis dan lengkap.
3. Pesantren Ekologi ath-Thaariq
Pesantren Ekologi Ath-Thaariq didirikan pada tahun 2008 oleh Nissa Wargadipura dan suaminya, Ibang Lukmanurdin. Fokus utama pesantren ini adalah menggabungkan kajian teologi dengan pertanian berbasis ekologi. Selain belajar agama, para santri diajarkan teknik pertanian organik menggunakan benih lokal yang dipollinasi secara alami.
Dalam studi terbaru yang diungkap Maula (2022), santri tak sekadar duduk diam di bangku pesantren, mereka aktif mengasah keterampilan dengan meracik pupuk kompos dari bahan organik dan limbah ternak. Langkah ini bukan cuma pelajaran biasa, melainkan bagian dari upaya mandiri membangun pertanian yang ramah lingkungan.
Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan sendiri, pesantren juga mengoptimalkan hasil panen untuk dijual, memperkokoh pondasi ekonomi yang berkelanjutan. Pendekatan inovatif ini menegaskan peran pesantren sebagai pusat pembelajaran sekaligus motor penggerak ekonomi hijau.
Menurut Nyai Nissa, penjualan produk organik berjalan sangat baik. Dalam empat bulan, pendapatan mencapai Rp150 juta. Kesadaran masyarakat terhadap bahaya pestisida meningkat, sehingga produk ekologi, herbal, dan ramah lingkungan sangat diminati. Santri pun menikmati hasil panen yang sehat, membuat mereka lebih kuat dan bugar.
4. Pondok Tasawuf Underground
Pondok Tasawuf Underground didirikan Halim Ambiya pada 8 Februari 2012. Awalnya, komunitas dakwah Tasawwuf ini hadir di media sosial, menyebarkan ajaran dari teks klasik seperti Ihya Ulumuddin dan Al-Hikam. Mereka berupaya menjangkau masyarakat luas, termasuk yang belum pernah belajar di pesantren.
Pada 2016, Pondok mulai merangkul anak yatim, anak jalanan, dan komunitas punk. Pada 2018, pengajian digelar di bawah Jembatan Tebet, Jakarta Selatan, sebagai wujud pendekatan langsung. Halim Ambiya ingin menghadirkan tasawuf yang nyata, bukan sekadar wacana klenik di dunia maya.
Pesantren ini berbeda dari kebanyakan. Mayoritas santrinya adalah anak punk dan jalanan yang belajar agama tanpa kalender akademik formal. Mereka mendalami Al-Qur’an, fiqih, tafsir, hingga tasawuf langsung dari kitab kuning dengan metode fleksibel namun intensif. Seluruh biaya pendidikan ditanggung yayasan.
Menurut Nabila (2021), pesantren ini berperan sebagai pusat pemberdayaan agama, sosial, dan ekonomi bagi komunitas jalanan di wilayah Jabodetabek.
5. Pesantren 'Gender' Kebon Jambu al-Islamy
Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy didirikan oleh KH Muhammad dan Nyai Hj. Masriyah Amva pada 1993. Setelah wafatnya KH Muhammad pada 2006, Nyai Masriyah mengambil alih kepemimpinan dengan visi kuat mengusung keadilan gender dan pluralisme dalam Islam. Pesantren ini tumbuh pesat, dari 350 santri menjadi lebih dari 1.000 dengan jenjang pendidikan yang beragam.
Nyai Masriyah dikenal sebagai ulama perempuan sekaligus penulis dan penyair yang menulis lebih dari 15 buku tentang spiritualitas, feminisme, dan pluralisme. Ia menegaskan pentingnya pemahaman gender bagi seluruh pengajar pesantren, bahkan melarang dosen poligami. Pesantren Kebon Jambu menjadi ruang progresif yang mendidik santri dan guru untuk menolak patriarki dan mengedepankan kesetaraan (Munawwaroh, et al, 2019).
Pesantren juga memiliki Ma’had Aly, setara perguruan tinggi, dengan kurikulum yang menanamkan nilai-nilai kesetaraan dan pluralisme. Aturan ketat diterapkan agar ustad dan dosen memahami isu gender dan menjadi pembela perempuan. Upaya Nyai Masriyah meraih penghargaan Albiruni Award dan SK Trimurti Award sebagai pengakuan atas dakwahnya yang menggabungkan seni, budaya, dan perjuangan gender.
6. Pesantren Waria al-Fatah
Pesantren Waria Al-Fatah adalah pondok khusus yang menampung komunitas waria. Keberadaannya unik karena fokus pada satu kelompok yang sering kali terpinggirkan. Mereka mendapatkan ruang untuk beribadah dan belajar dalam suasana yang penuh penghormatan.
Awal mula pesantren ini bermula dari tragedi gempa Yogyakarta tahun 2006. Banyak waria menjadi korban, dan mereka yang selamat berkumpul untuk berdoa bersama. Dua tahun kemudian, Maryani berinisiatif mendirikan Pesantren Waria al-Fatah sebagai tempat belajar dan beribadah komunitas waria.
Pesantren dengan visi mulia “Mewujudkan kehidupan waria yang bertaqwa kepada Allah Swt serta bertanggung jawab terhadap diri, keluarga, dan bangsa Indonesia” ini didominasi oleh santri berusia di atas 45 tahun.
Para santri secara rutin mendalami bacaan Al-Qur’an, mengasah praktik ibadah, serta mempelajari nilai akhlak dan asmaul husna sebagai landasan spiritual mereka. Di luar lingkungan pesantren, sebagian besar dari mereka menjalani profesi sebagai pengamen dan wirausaha. Namun, tak sedikit pula yang bekerja di sektor informal, termasuk pekerja seks dan organisasi masyarakat swadaya (Amrianto, dkk., 2023).
Editor: Kendi Setiawan


