Dark
Light
Dark
Light

Pidato, Ceramah, dan Khutbah

Pidato, Ceramah, dan Khutbah

Orang punya anak tiga. Yang satu jadi dokter. Yang satu jadi insinyur. Yang satu jadi ahli kimia. Nangis. Saya kepengen dapat anak yang sholeh. Jadi, kamu punya anak dokter atau ahli kimia gak sholeh gitu? Jadi yang sholeh seperti apa? Yang bisa ngaji? Yang bisa ceramah? Yang bisa jadi imam masjid? Itu dalam pikiranmu. Benar gak? Kalau anda bisa bikin campuk, rasanya bikin orang tergila-gila, lalu mengajarkan anak-anak perempuan di kampung bikin campuk, sehingga membuat mereka bisa usaha, bisa makan. Bermanfaat gak? Bermanfaat.  Daripada yang ahli ilmu tafsir, mantiq dan balagah tapi sukanya memecah belah umat. Mana yang bermanfaat?

Kutipan di atas adalah penggalan khutbah dari KH Buya Syakur Yasin, ulama Indonesia dan sekaligus pendiri Pondok Pesantren Cadangpinang. Beliau dikenal sebagai ulama kharismatik sekaligus cerdas yang malang melintang di Timur Tengah hingga Eropa. 

Dalam ceramahnya, Buya telihat duduk mengenakan baju berwarna krem, peci putih, dan kacamata. Di hadapannya terdapat secangkir minuman, mikrofon meja duduk, dan sebuah kitab. Penampilannya sangat sederhana. Suaranya teduh, jelas, dan beraksen Indramayu. Bicaranya disertai guyon dan gerak tangan. 

Berita berpulangnya, Rabu 17 Januari 2024 lalu, meninggalkan duka mendalam bagi umat. Kepulangan Buya Syakur menyisakan pertanyaan di benak kita. Apa yang membuat Buya Syakur dicintai oleh begitu banyak orang? Indonesia tak kurang kiai, ulama, dan ustadz yang gemar berceramah. Tetapi, kenapa Buya Syakur menempati posisi yang berbeda di hati umat? 

Ceramah bukan hanya persoalan kata-kata dan kutipan dalil. Ceramah, khutbah, atau pidato adalah proses komunikasi yang melibatkan bahasa, tubuh, simbol, parabahasa, penampilan fisik, aroma, konsep waktu, orientasi ruang, warna, dan sederet pertimbangan lain. Deddy Mulayana dalam buku Ilmu Komunikasi (2005) menyebutkan salah satu prinsip dalam komunikasi adalah terjadi dalam konteks ruang dan waktu: “Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik atau ruang, waktu, sosial, psikologis.”

Dalam ceramah-ceramahnya, Buya Syakur berpenampilan sederhana dan kerap menempatkan diri tidak sebagai orang yang menggurui tetapi mengajak para umat untuk lekas berpikir dalam beragama. Agama, dalam suara Buya, selalu terdengar membumi. Tidak membuat umat hanya berpikir persoalan langit. Karena penampilan, tutur bahasa, dan isi ceramah Buya banyak mempersoalkan permasalah dunia tidak hanya berorientasi pada akhirat, beliau tidak terlupakan. Tubuhnya meninggalkan banyak pengetahuan. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ceramah diartikan sebagai pidato oleh seseorang di hadapan banyak pendengar, mengenai suatu hal, pengetahuan dan sebagainya. WJS Poerwadarminta dalam Logat Ketjil Bahasa Indonesia (1951) mengartikan pidato sebagai “chotbah; uraian tentang sesuatu hal di depan orang banjak”. Di ruang publik kita memahami bahwa pidato lebih lekat pada tokoh politik, lembaga pemerintahan, dan sekolah. Sementara khutbah atau ceramah lekat dengan agama. 

Pidato memiliki dua wajah. Ia bisa mengantarka pada kemakmuran juga kematian. Pidato Nabi Muhammad kepada masyarakat Arab adalah kunci pembebas dari  belenggu kebodohan sekaligus gerbang kemajuan dari peradaban manusia. Selama ini kita hanya membaca teks atau dibacakan ulang dari penceramah tentang pesan dari Nabi Muhammad. Kita boleh membayangkan dan bertanya, bagaimana intonasi, ekspresi wajah, baju yang dikenakan, dan gerak tubuh yang dilakukan Nabi Muhammad dalam berbagai pidatonya? Sebab begitu kuat pengaruhnya hingga masih bisa kita rasakan sampai saat ini. 

Malcom-X (1925-1965) adalah salah satu tokoh yang terbunuh karena pidatonya. Gerak tangan, sorotan  mata, setelan baju jas, dan kalimat menggebu-gebunya membuat ia menjadi salah satu orang Afrika-Amerika yang paling berpengaruh. Namun, 21 Februari 1965, saat sedang mempersiapkan pidato di Aula Audubon, New York, ia ditembak mati oleh orang yang tidak dikenal. Pidato membuat ia mengubah dunia sekaligus berpindah dunia. 

Socrates dalam buku Apologia (1973), yang diterjemahkan Fuad Hasan, menyampaikan pidato di persidangan ketika dia dituduh tidak mengakui dewa-dewa yang diakui negara, menciptakan dewa-dewa baru dan merusak para pemuda Athena. Dalam apologia, Socrates berusaha membela diri atas pendiriannya: “Sebagaimana telah kunyatakan tadi, maka apa yang mereka katakan itu hampir tak sepatah pun mengandung kebenaran; sedangkan apa yang kuutarakan nanti akan kalian saksikan sebagai kebenaran semata-mata.” Pidato menjadi pembelaan, pengantar pada kematian juga ramalan masa depan. Terbukti beberapa waktu kemudian, pemikiran Socrates tiada lain adalah kebenaran. 

Di sejarah retorika, suara laki-laki lebih mendominasi. Buku berjudul Pidato-Pidato yang Mengubah Dunia Kisah dan Petikan Pidato Bersejarah (2006) memasukkan hanya lima nama perempuan dalam puluhan daftar: Emmeline Pankhurst, Marie Curie, Shirley Cisholm, dan Indira Gandhi. Kita menduga suara maskulin lebih menggema karena budaya patriarki yang masih tumbuh subur. Domestifikasi  dan penafsiran teks agama yang bias membuat suara perempuan terpendam. Suara perempuan diyakini hanya akan menjadi sumber fitnah dan kekacauan. 

Pertengahan abad ke-20, Inggris memiliki tokoh ahli pidato, seorang perempuan pencetak sejarak. Suaranya berhasil memenangkan peperangan dan mengalahkan kemaskulinan Inggris. Margaret Tacher, Perdana Menteri Inggris, menjadi salah satu simbol yang  mematahkan stereotip suara perempuan. Dalam film berjudul The Iron Lady (2014) garapan Phyllida Lloyd, Margareth digambarkan berbicara bukan hanya melalu bibirnya tetapi juga mata dan setiap penekanan pada kalimatnya. Kepiawaian dalam  menyusun kalimat dan kepercayaan dirinya membuat ia bersinar di tengah ratusan pasang mata laki-laki. 

Pidatonya dalam konferensi di Brighton (1984) membuktikan kemampuannya dalam menguasi audiens. Di balik kesuksesan pidato Margareth ternyata ada benda-benda yang memiliki peran penting. Gaya rambut Margareth yang mengambang ke atas memberikan pesan kepada audiens akan kepercayadiriannya. Untuk mewujudkan hal itu, setiap hari ini harus menyemprotkan hairspray pada rambutnya. Kalung mutiara, atasan pussybow, tas, dan sarung tangan selalu  menemani Margaret dalam berpidato selain kertas, pena, dan kata-kata. Benda menjadi salah satu kunci kesuksesan berpidato.

Pada akhirnya, pidato, ceramah, khutbah, tidak hanya aktivitas penyampai pesan kepada khalayak ramai. Pidato bisa menjadi media pembentuk peradaban, pembangkit semangat massa, penghapusan stereotpe, penghantar menuju kematian juga ramalan masa depan. Pidato melampaui permaianan kata dan riuh tepuk tangan. Di dalamnya ada mata yang bergerak, benda yang tergunakan, waktu yang dipilih, dan gerak tangan yang menyimbolkan kemantapan dalam berpikir. 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo