Dinaungi semilir angin sore, nyaris mendung, seorang teman yang duduk di samping saya memulai perbincangan tentang anekdot bertema isu perempuan. Ia berupaya menyakinkan saya kalau isi anekdot ini menohok dan lucu. Setelah menceritakan isinya secara ringkas, ia terdiam sejenak, berupaya mengingat judul dan nama penulisnya.
Cukup lama saya menunggu, memandangi wajahnya yang terlihat serius menggali ingatan. Akhirnya ia berucap: “Cantik”. Wajah saya pasti sudah nyaris mau merah. Saya pikir, ia sedang berupaya memuji. Ternyata, maksudnya, judul anekdot itu Cantik. Uh!
Untung saya lekas sadar dan buru-buru bisa menarik warna kemerah-merahan yang mulai muncul di pipi. Segara saya kembali memasang wajah serius yang siap memulai obrolan. Kata kunci yang ia ucapkan lekas saya telusuri di gawai. Hasilnya, saya menemukan satu nama: Ariel Heryanto.
Ternyata, penulis anekdot tentang isu perempuan itu juga penyusun buku Identitas dan Kenikmatan (2015). Saya lekas mencari tulisan full-nya. Dapat! Anekdot itu dibuat tahun 1997, diterbitkan oleh Kompas. Usianya sudah menginjak dua puluh delapan tahun. Memang, isinya amat menarik dan masih kontekstual hingga kini.
Kisah karangan Ariel Heryanto itu menceritakan kunjungan rombongan Alien dari planet lain ke Bumi. Pada akhir acara, para Alien tersebut terheran-heran dengan keadaan Bumi karena ketika malam datang, yang muncul hanya para pria. Mereka bertanya kemana para perempuan dan anak-anak?
Lalu seorang petinggi dari Bumi menjelaskan bahwa demi alasan keamanan, semua anak-anak dan perempuan memang harus berada di rumah pada saat malam hari sebab pusat-pusat kota kurang aman.
Jawaban itu kurang memuaskan para tamu. Mereka merasa kebingungan dan berkata: “Terus terang, kami masih tak paham. Kalau di planet kami ada binatang yang buas dan berbahaya bagi umum, maka yang dikurung adalah binatang itu. Bukan korbannya.”
Mengurai Kebingungan Alien
Alien, tentu kebingungan Anda bisa diterima. Memang, semestinya pelaku yang harus dikurung, tapi ini kenapa malah korbannya?
Permasalahan di bumi amat kompleks menyoal keamanan bagi perempuan dan anak. Jika di planet Anda binatang buas itu bisa dideteksi dari cakar, taring, atau wajahnya yang mengerikan, di sini Anda bisa kebingungan untuk menentukan mana lawan mana kawan.
Ada tumpukan kasus kekerasan yang melibatkan orang terdekat. Kasus pemerkosaan yang dilakukan orangtua ke anak jumlahnya banyak. Pencabulan yang dilakukan tokoh agama pada santrinya juga ada. Kekerasan guru ke murid angkanya tinggi. Bahkan, kekerasan yang dilakukan suami kepada istri (pasangannya) juga menggunung. Mereka (pelaku) tidak akan terlihat seperti binatang buas, justru sebaliknya. Jadi, bisa Anda bayangkan kompleksnya permasalahan ini?
Di planet Anda, jika ada pelaku yang terbukti berbahaya bagi masyarakat tentu akan langsung dikurung dan diberikan penanganan yang tepat. Di sini (bumi) tak seideal itu. Masih amat banyak pelaku yang sudah terbukti layaknya hewan buas tapi bebas berkeliaran. Pemangku kebijakan di bumi sering ambigu dalam menangani persoalan ini. Di teks perundangan sudah ada amanat tegas tapi dalam pelaksanaannya, sangat lambat dan kadang berkebalikan dengan perundangan.
Sebenarnya, di bumi, perempuan dan anak-anak menjadi rentan karena pondasi pendidikan yang keropos. Sejak kecil, anak-anak sering dididik untuk pasif ketika haknya direnggut dan dibiarkan saja ketika mengganggu keamanan orang lain. Saya punya sebuah cerita yang bisa menggambarkan permasalahan ini.
Sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, ketika rok seorang gadis kecil disingkap oleh anak laki-laki, para guru dan orang tua akan menawarkan solusi yang tidak masuk akal. Alih-alih menindak tegas anak laki-laki, mereka justru menyarankan agar anak-anak perempuan mengenakan celana pendek di dalam rok, jadi paha tidak terlihat bila roknya disingkap. Orang dewasa tidak mau repot-repot mendidik agar anak laki-laki tidak berbuat demikian.
Secara tidak langsung, kebiasaan ini menjadi pemicu terus langgengnya kekerasan seksual terjadi di bumi. Jadi, para Alien, ini memang situasi yang cukup rumit. Saya sepakat bahwa yang seharusnya dikurung adalah pelaku. Namun, pelaku tidak bertaring dan bercakar ditambah pemimpin kami tidak tegas, jadi apa solusinya?
A Manifesto Feminist Karya Chimamanda Ngozi
Salah satu respons yang paling bisa dilakukan untuk menjawab permasalahan yang dikemukakan Ariel Heryanto adalah lewat pendidikan anak. Meski akan memakan waktu yang panjang, tapi jalan ini lebih realistis dan terang. Orang-orang yang menjadi pelaku kekerasan tentu produk dari pendidikan keluarga, masyarakat, maupun lembaga sekolah. Semua itu dimulai dari fase anak-anak.
Koentjaraningrat di bukunya berjudul Pengantar Ilmu Antropologi (1986) pernah berujar bahwa pendidikan anak memiliki pengaruh yang amat besar dalam pembentukan diri. Pembentukan watak dan jiwa individu banyak terpengaruhi oleh pengalamannya ketika sebagai anak-anak.
Upaya paling mungkin yang bisa dilakukan adalah menanamkan nilai-nilai kesalingan, kemanusiaan, dan inklusivitas pada anak. Bagaimana caranya? Sebenarnya tak ada cara baku, seperti halnya peribahasa banyak jalan menuju Roma, begitu pun dengan pendidikan anak. Namun, ada salah satu karya yang bisa dijadikan referensi. Buku itu berjudul A Manifesto Feminist (2019) karya Cimamanda Ngozi.
Judul buku ini memang terdengar mengerikan, tapi percayalah, isinya tidak seberat judulnya yang menyertakan kata ‘manifesto’. Buku ini terbit dari kegelisahan sang penulis yang mengalami diskriminasi gender di negerinya, Afrika. Dengan bahasa yang mudah dipahami dan gaya penceritaan yang ringan, Chimamanda Ngozi menukilkan beberapa hasil perenunganmu tentang cara mendidik anak.
Adichi tidak berusahaa melebih-lebihkan pendidikan bagi perempuan ketimbang laki-laki tetapi memberikan porsi adil seperti yang Kartini maksudkan dalam suratnya yang ditulis tahun 1900:
"… oleh karena aku hendak menjadikan anakku jadi perempuan kaum baru, tiada aku akan menyuruh belajar bila tiada kehendaknya, maupun tiada kecakapannya akan belajar, tetapi mengurangi haknya akan melebihi abangnya, sekali-kali tidak! Lagipula hendaklah aku menghapuskan pembatas antara laki-laki dan perempuan yang diadakan orang dengan amat telitinya, sehingga menggelikan.”
Upaya memperjuangkan keadilan gender mungkin sering mendapati kekecewaan ketika melangkah lewat jalur kebudayaan maupun kebijakan. Saya percaya dengan memulainya lewat pendidikan anak, harapan untuk terwujud akan lebih besar.
Anak adalah bagian terkecil masyarakat yang kelak ikut serta dalam pembentukan dan pelaksanaan budaya. Memberikan mereka pendidikan yang tepat sama saja memutus potensi tumbuhnya budaya patriarki dan kejahatan yang masih terus bergulir di bumi ini. Iya, meski lama dan membutuhkan konsistensi, percayalah, ini salah satu cara paling realistis dan paling masuk akal berbicara soal perubahan.
Editor: Kendi Setiawan


