Dark
Light
Dark
Light

Terasing di Dunia yang Tak Pernah Tidur

Terasing di Dunia yang Tak Pernah Tidur

László Krasznahorkai baru saja menerima Nobel Sastra 2025. Penulis asal Hungaria itu berkata dengan suara pelan dalam video pengumumannya, "Membaca buku memberi kita kekuatan lebih untuk bertahan di masa yang sangat sulit. Saya berharap setiap orang bisa kembali memiliki kemampuan berimajinasi, karena tanpa imajinasi, hidup akan menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda." Seolah nasihat sederhana di tengah hiruk-pikuk dan riuh dunia yang terus bergerak saja. Namun juga menjelma layaknya doa bagi “seseorang” yang capek—manusia yang dikelilingi teknologi informasi dan koneksi tanpa sekat, tetapii pelan-pelan kehilangan kedekatan, bahkan dengan diri sendiri.

Keterasingan yang dimaksud Krasznahorkai tidak sekadar kesepian tak punya teman, melainkan rasa kehilangan arah di tengah kehidupan yang terlalu sibuk dan bergerak begitu cepat. Sekarang, seseorang lebih sering bangun pagi dengan dering alarm dan memeriksa notifikasi lebih sering ketimbang menyapa seseorang secara langsung. Bisa saja seseorang duduk di coffeshop yang riuh, dikelilingi tawa dan musik yang mengalun, tapi pikirannya terpaku pada layar ponsel. Dunia terasa padat dan benar-benar lesap, tetapi batin kosong melompong, tanpa makna.

Fenomena ini bukan hanya diangkat dalam karya sastra. Dalam jurnal Twenty-First Century Alienation and Health: A Research Agenda (BMJ Group, 2025), para peneliti menegaskan keterasingan manusia dari dirinya sendiri dan lingkungannya menjelma ancaman waktu sekarang. Mereka menggambarkan bagaimana sistem ekonomi dan kerja digital, serta budaya multitasking menciptakan rasa terputus dari makna hidup. Orang bekerja keras untuk tujuan yang tidak pernah benar-benar dipahami; menatap layar delapan jam sehari, berbicara dengan mesin, menjawab email, berganti peran antara produktivitas dan kelelahan, dan pada akhirnya lupa rasanya diam, bengong, dan keadaannya sendiri. 

Para peneliti BMJ Group juga merumuskan bentuk-bentuk pergulatan keterasingan baru yang halus, tidak disadari, lalu menggerogoti perlahan. Alienasi modern bukan lagi tentang pabrik atau mesin seperti yang pernah dibicarakan Marx, melainkan tentang algoritma dan notifikasi. Segala hubungan diukur lewat tanda online dalam produktivitas, hadir dalam pekerjaan yang seakan tidak punya waktu berhenti. 

Saat semua terjadi di dunia yang konon menjanjikan keterhubungan, justru menjadi kutub-kutub berlawanan. Sekarang, dalam hitungan detik manusia bisa berbincang dan saling mengetahui apa yang terjadi, tetapi semakin menunduk saja ketika bertemu atau lewat di depan manusia lain. Ruang chat dipenuhi stiker atau emoticon lucu tanpa kita sendiri tertawa, emoticon “cinta” diberikan tanpa benar-benar merasa cinta. 

Dapatlah pengandaina ketika seseorang yang setiap hari bergulat dengan pekerjaan dari rumah, bertemu rekan kerja lewat layar, mendengar suara mereka melalui audio laptop, tapi tak pernah mencium aroma pengharum ruangan yang sama, tak pernah berbagi udara. Di sela rapat virtual, ia membuka media sosial, melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna, lalu merasa hidupnya begitu kecil. Ia mungkin tidak sendirian, tapi ia merasa kosong.

 

Krasznahorkai menulis dengan kalimat yang panjang, tanpa titik, seolah meniru hidup di era sekarang, hari-hari mengalir tanpa jeda, tanpa perenungan. Selayaknya seseorang berjalan di eskalator yang terus bergerak ke depan, jika berhenti akan terseret. Dalam absurditas itu, membaca dan berimajinasi tak menyisakan ruang, menjadi tindakan yang “aneh”.

Membaca memaksa diri melambat, mengizinkan berhenti di tengah arus yang melaju. Ia mengembalikan kemampuan untuk merenung, menjadi manusia yang utuh di antara kepingan-kepingan informasi yang berjubel. Membaca tidaklah sekadar kegiatan, tetapi menghidupkan kembali bagian terdalam dari diri—bagian yang merindukan makna, yang ingin merasa hadir, yang ingin percaya bahwa di balik kesibukan dan kekosongan, hidup ini masih bisa dirasakan dengan penuh. Dan mungkin, sebagaimana dunia Krasznahorkai, di tengah kelelahan dan kehancuran yang samar, manusia masih punya satu kekuatan yang tak tergantikan: kemampuan untuk merawat mimpi dan imajinasi, bahkan ketika segalanya terasa kosong.

Serupa juga ketika Krasznahorkai berbicara tentang imajinasi sebagai cara bertahan di masa yang sulit, ia sebenarnya sedang mengingatkan: manusia tidak diciptakan untuk sekadar berfungsi, tetapi bermakna. Di tengah dunia yang menuntut produktivitas tanpa henti, imajinasi adalah bentuk perlawanan, menjadi ruang di mana manusia masih bisa menjadi diri sendiri, meski dunia coba menyeragamkan semuanya.

Jelaslah membaca dan berimajinasi menuntut keberanian yang saat ini terkadang jarang dimiliki, keberanian untuk diam dan menghadapi diri sendiri. Di saat dunia memuja kecepatan dan produktivitas, keheningan sering dianggap kemunduran. Tak terbersit di dalam keheningan itulah, manusia bisa kembali mengenali suaranya sendiri—bukan suara mesin, bukan suara notifikasi, melainkan gema paling jujur dari batinnya.

Di tengah algoritma yang berloncatan, membaca dan berimajinasi menjadi bentuk kekosongan yang dipilih, ruang kecil di mana pikiran bisa pulang dan jiwa beristirahat sejenak dari hiruk pikuk dunia klak-klik. Meski dunia sekarang memberi kebebasan tanpa arah, dan dari itu, semoga manusia tak menjadi tokoh-tokoh dalam novel Krasznahorkai: berjalan di antara guguran makna menjadi reruntuhan, menanggung absurditas tanpa tahu untuk apa, hanya terasing.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo