Dark
Light
Dark
Light

Taman Tanpa Aturan: Kisah-kisah yang Menelanjangi Cara Berpikir Orang Dewasa

Taman Tanpa Aturan: Kisah-kisah yang Menelanjangi Cara Berpikir Orang Dewasa

Buku ini tipis. Tak lebih dari tebal gawai. Harganya juga terjangkau, seharga tiga mangkuk bakso kuah. Bisa dimiliki lewat lokapasar. Tak perlu membuka kamus atau bantuan buku lain untuk memahami cerita di dalamnya. Buku Taman Tanpa Aturan ditulis dengan mengalir dan jernih. Pembaca bisa menikmatinya dalam beragam kondisi: menunggu antrean di bank, menunggu dosen pembimbing, menunggu antre ketoprak, hingga menemani aktivitas sahur.

Taman Tanpa Aturan (2023) ialah kumpulan cerita karya Noor H. Dee yang diterbitkan Marjin Kiri, sebuah buku berisi kumpulan cerita pendek yang bisa melekat dalam ingatan. Tokoh utama yang diangkat dalam setiap cerita adalah anak-anak. Totalnya ada 24 kisah dalam beragam sudut pandang. Penulisnya banyak menyentil pemikiran orang dewasa yang makin kering dari imajinasi dan menuju keseragaman.

Akan tetapi, buku tipis ini tidak hanya berbicara soal anak dan orang dewasa, ada beragam permasalahan yang diangkat, menyangkut kritik sosial dan kemanusiaan. Empat judul cerita yang menarik untuk direnungi: Bocah Itu Memanjat Langit Malam, Taman Tanpa Aturan, Perang Hebat Dua Negara, dan Orang-orang Bawah Tanah.

Bocah Itu Memanjat Langit Malam (halaman 19) menceritakan tentang rasa ingin tahu anak yang amat besar. Demi mendapat jawaban, ia rela memanjat langit tanpa pertimbangan untung-rugi atau risiko. Tekadnya sekeras baja, semangatnya setinggi gunung. Kontradiktif dengan kehidupan orang dewasa.

Sang bulan yang menjadi saksi saat anak itu memanjat langit untuk memuaskan rasa ingin tahunya membatin: “Anak-anak memang mengerikan… kalau sudah ingin tahu, mereka sampai nekat memanjat langit malam hanya untuk menemukan jawaban.”

Taman Tanpa Aturan (halaman 34) mengisahkan kekhawatiran orang dewasa terhadap hidup anak jika tanpa aturan. Kegelisahan itu ingin dialih bentuk menjadi norma-norma yang membatasi hidup, katakanlah mungkin saja menjadi sekolah, tempat les, dan lembaga lainnya. Orang-orang dewasa akhirnya melakukan uji coba pada sebuah taman untuk membuktikan kekhawatiran mereka.

Dibangun taman tanpa adanya aturan. Anak-anak diperbolehkan masuk dan beramin sesukanya. Hasilnya mencengangkan, tidak ada kekacauan seperti apa yang ditakutkan: “Taman tanpa aturan yang semula hanya ada rumput, tanah, dan genangan air, kini sudah ada benteng kerajaan yang terbuat dari tumpukan kardus, lapangan sepak bola kecil yang gawangnya berasal dari sepasang sandal jepit bekas, dan juga boneka-boneka sederhana yang terbuat dari tanah liat.”

“Alih-alih menyerang dengan senjata, anak-anak dari kedua negara itu malah saling tersenyum dan melambaikan tangan… Meskipun anak-anak menenteng senapan, rupanya perang hanya milik orang dewasa.” Penggalan itu tertulis dalam cerita bertajuk Perang Hebat Dua Negara (halaman 56). Cerita pendek itu mengisahkan perang yang terjadi antar negara merah dan kuning. Keduanya bersikeras untuk mengalahkan satu sama lain. Ambisi dari orang dewasa menyeret anak-anak untuk ikut turun, mewarisi dendam dan kebencian. Namun, yang didapat justru sebaliknya, anak-anak punya jiwa perdamaian dan kebahagiaan yang tidak bisa dihilangkan meski dengan propaganda perang.

Orang-orang Bawah Tanah (halaman 59) berkisah tentang peralihan cara hidup manusia karena kecamuk perang. Orang-orang di kota mulai menggali tanah di bawah rumah-rumah mereka dan membangun dunia layaknya di permukaan tanah. Ketika perang sudah usai mereka tetap tidak ingin keluar dari dalam tanah hingga muncul mitos hidup di permukaan hanyalah dongeng. Tidak ada pepohonan, matahari, dan langit. Dunia hanyalah tanah.

Berkat sebuah buku yang dibaca oleh gadis kecil di sekolah bawah tanah, keadaan berubah. Gadis itu mempertanyakan apa yang ada di balik tanah. Meski sudah diperingatkan untuk tidak mempertanyakan hal-hal tentang permukaan, ia tidak peduli. Gadis itu memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Ia membawa alat untuk menggali hingga akhirnya menemukan permukaan: “Langit biru, rumput hijau, dan bunga beraneka warna menyambut gadis kecil itu.”

Taman Tanpa Aturan bisa mengingatkan kita pada buku Little Prince (1943) susunan Antoine de Saint-Exupéry. Buku ini juga memuat gagasan filosofis, mengisahkan jurang kehidupan dalam tatapan anak-anak dan orang dewasa. Kisah bermula dari pengalaman anak berusia enam tahun yang harus melepaskan bakatnya dalam lukis-melukis karena penafsiran orang dewasa.

Cerita berlanjut pada petualangan yang mempertemukan tokoh dengan pangeran kecil, sosok misterius dari planet lain. Pangeran kecil membagikan kisahnya mengitari berbagai planet, ia menjumpai berbagai karakter orang dewasa, salah satunya gila materi. Bahasa yang dipahami orang dewasa tidak lagi mengenal keindahan, melainkan angka.

“Jika kalian berkata kepada orang-orang dewasa, ‘aku melihat rumah yang bagus dari batu bata merah muda dengan bunga geranium di jendelanya dan burung merpati di atapnya…’ Mereka tidak dapat membayangkan rumah itu. Kita harus berkata begini, ‘Aku melihat rumah seharga 180 ribu franc.’ Baru mereka akan berseru, ‘Alangkah indahnya!’”

Kutipan di atas ialah satu dari banyak kalimat yang menelanjangi cara berpikir orang dewasa yang serba materi. Pembaca dibuat berhenti pada banyak babakan untuk mengerti kekeliruan dari pola hidup yang dijalani selama ini. Kesadaran didapatkan melalui pengisahan, tidak mendikte sekaligus menggurui. Kebenaran ditemukan dalam ruang cerita bernaung imajinasi.

Judul: Taman Tanpa Aturan 
Penulis: Noor H. Dee 
Penerbit: Marjin Kiri 
Tahun Terbit: 2023 
Tebal: vi+62 halaman


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo