Dark
Light
Dark
Light

Antara CEO dan Gus yang Menyamar

Antara CEO dan Gus yang Menyamar

Akhir-akhir ini saya punya kebiasaan baru: menonton drakor, dracin, dan drabar. Drakor, drama Korea. Dracin, drama China. Drabar, drama Barat. Saya menontonnya karena memang seru dan lucu. Ada cinta, keluarga, kekayaan, kemiskinan, pengkhianatan, penyamaran, sampai identitas yang baru terbongkar setelah puluhan episode.

Dracin terutama punya cerita yang kadang membuat saya geleng-geleng kepala sambil tertawa. Yang kelihatan miskin ternyata miliarder. Yang dianggap pegawai rendahan ternyata pemilik perusahaan. Yang dikira pengemis ternyata anak CEO. Begitu identitas terbongkar, suasana mendadak berubah. Orang yang kemarin mencibir tiba-tiba tersenyum. Yang tidak mau melayani mendadak sangat sopan. Orangnya tetap sama, perlakuannya yang berubah.

Saya tertawa melihat adegan semacam itu. Tetapi lama-lama saya curiga, jangan-jangan drama itu bukan sedang mengejek orang lain. Jangan-jangan ia sedang mengejek kita. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang sering berubah sikap setelah mengetahui siapa seseorang, siapa orangtuanya, apa jabatannya, berapa kekayaannya, atau seberapa besar pengaruhnya.

 

Dari sini saya teringat kisah seorang anak kiai yang nyantri di pesantren lain. Di rumah ia dipanggil Gus. Ayahnya seorang kiai dan dihormati masyarakat. Tetapi ketika masuk pesantren, ia memilih menyembunyikan identitas. Ia mengaku anak orang biasa. Bertahun-tahun kemudian, setelah lulus, barulah teman-temannya mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Saya kira ini bukan sekadar cerita tentang penyamaran. Ia sedang mencoba mengalami sesuatu yang mungkin tidak mudah diperoleh di rumah. Ia ingin menjadi santri biasa. Antre seperti santri lain. Makan bersama. Tidur bersama. Menerima teguran. Mengikuti aturan. Mengaji tanpa membawa nama ayah yang mungkin membuat orang memperlakukannya berbeda.

Kalau sejak awal ia mengatakan bahwa dirinya anak kiai, apakah teman-temannya akan memperlakukannya sama? Kita tidak tahu. Tetapi justru pertanyaan itulah yang menarik. Kadang seseorang sengaja menanggalkan identitas bukan karena malu terhadap keluarganya, melainkan karena ingin mengetahui bagaimana rasanya hidup tanpa fasilitas sosial yang melekat pada identitas tersebut.

Dari Drakor, Dracin, dan Drabar ke Pesantren
Ada perbedaan menarik antara CEO yang menyamar dan Gus yang menyamar. CEO dalam drama biasanya menyembunyikan identitas untuk menguji orang lain. Ia ingin mengetahui siapa yang tulus kepadanya. Sementara Gus yang menyamar mungkin sedang menguji dirinya sendiri. Ia ingin mengetahui apakah dirinya mampu hidup, belajar, dan bertumbuh tanpa keistimewaan yang datang bersama nama keluarga.

Di sinilah kisah tersebut menjadi menarik dalam perspektif budaya pesantren. Nasab memang dihormati. Anak kiai dikenal sebagai Gus. Tetapi di pesantren, ada ukuran lain yang jauh lebih penting, yaitu ilmu dan adab. Nasab bisa diwariskan, tetapi ilmu tidak. Nama keluarga bisa diberikan sejak lahir, sedangkan kepandaian harus dicari melalui belajar.

Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren (LP3ES, 1982) memperlihatkan kuatnya hubungan kiai, keluarga, santri, dan jaringan keilmuan dalam tradisi pesantren. Hubungan tersebut bukan sekadar hubungan biologis, melainkan juga hubungan pendidikan dan keilmuan. Karena itu, kedudukan seseorang dalam pesantren idealnya tidak berhenti pada siapa ayahnya, tetapi pada bagaimana ia belajar dan mengabdi.

Di sinilah pesantren memiliki mekanisme budaya yang menarik. Anak kiai boleh dipanggil Gus, tetapi panggilan itu tidak membuatnya otomatis alim. Ia tetap harus mengaji. Tetap harus membaca kitab. Tetap harus memahami pelajaran. Bahkan ketika duduk di hadapan kiai lain, ia tetap menjadi santri yang harus belajar.

Sebaliknya, anak seorang petani, pedagang, buruh, atau orang biasa dapat memperoleh penghormatan karena ilmunya. Ia mungkin datang tanpa nama besar, tetapi pulang membawa pengetahuan. Ia mungkin tidak memiliki nasab ulama, tetapi memiliki sanad keilmuan yang kuat. Di sinilah pesantren memberi pelajaran penting bahwa kemuliaan tidak semata-mata diwariskan, tetapi diperjuangkan.

Karena itu, kisah Gus yang menyembunyikan identitas tidak perlu dibaca sebagai penolakan terhadap nasab. Justru sebaliknya. Ia dapat dibaca sebagai latihan untuk memastikan bahwa nasab tidak menjadi penghalang seseorang menemukan dirinya sendiri. Ia ingin dikenal karena perilakunya, ketekunannya, persahabatannya, dan ilmunya.

Ada pepatah sederhana yang rasanya cocok untuk menggambarkan budaya ini. Nasab mungkin diwariskan, tetapi ilmu harus dicari. Gelar mungkin diberikan orang lain, tetapi kemuliaan harus dibuktikan sendiri. Nama keluarga dapat membuka pintu, tetapi hanya ilmu, adab, dan khidmah yang membuat seseorang layak dihormati dalam jangka panjang.

Ketika Status Mengalahkan Kemanusiaan
Masalahnya muncul ketika budaya status mengalahkan penilaian terhadap manusia. Kita melihat gejalanya di banyak tempat. Seorang pejabat datang, suasana berubah. Orang kaya masuk, semua lebih ramah. Anak tokoh terkenal hadir, orang lebih berhati-hati. Orang biasa datang, perhatian tidak selalu sama. Semua tampak sopan, tetapi belum tentu lahir dari penghormatan yang tulus.

Clifford Geertz dalam The Religion of Java (University of Chicago Press, 1960) menunjukkan bahwa kehidupan sosial Jawa dibentuk oleh simbol, identitas, agama, dan posisi sosial. Status memiliki pengaruh terhadap cara seseorang ditempatkan dalam masyarakat. Karena itu, budaya status bukan perkara sederhana. Ia dapat menentukan cara berbicara, jarak sosial, penghormatan, dan perlakuan.

Namun pesantren memiliki peluang untuk mengoreksi kecenderungan tersebut. Tradisi keilmuan pesantren memungkinkan seseorang memperoleh penghormatan melalui proses panjang. Santri yang tekun belajar, memiliki adab, menguasai kitab, dan mengabdi kepada masyarakat dapat memperoleh tempat terhormat meskipun berasal dari keluarga sederhana. Ilmu menjadi jalan yang dapat melampaui sekat sosial.

Inilah yang perlu dijaga. Jangan sampai panggilan Gus berubah menjadi tiket keistimewaan. Jangan sampai anak kiai merasa tidak perlu belajar karena sudah dihormati. Jangan pula masyarakat menganggap semua ucapan anak kiai pasti benar. Sebaliknya, jangan meremehkan santri biasa hanya karena tidak memiliki nama besar. Ukuran akhirnya tetap ilmu, adab, dan akhlak.

Bagi anak muda, pelajarannya juga penting. Jangan menilai manusia dari kemasan. Jangan menganggap seseorang hebat hanya karena jumlah pengikutnya banyak. Jangan menganggap seseorang tidak penting karena pakaiannya sederhana. Dengarkan gagasannya. Lihat pekerjaannya. Perhatikan akhlaknya. Sebab dunia digital sering membuat kita terlalu cepat menilai orang dari apa yang tampak di layar.

Saya tetap akan menonton drakor, dracin, dan drabar. Saya tetap tertawa melihat CEO menyamar, orang kaya berpura-pura miskin, atau seseorang yang diremehkan ternyata pewaris keluarga besar. Tetapi sekarang saya melihatnya sambil membawa pertanyaan yang sedikit berbeda. Siapa sebenarnya yang sedang diuji dalam cerita itu, tokoh yang menyamar atau masyarakat yang memperlakukannya?

Begitu pula dengan Gus yang menyamar. Mungkin ia bukan sedang menguji teman-temannya. Mungkin ia sedang menguji dirinya sendiri. Ia ingin mengetahui apakah dirinya bisa tetap rendah hati ketika nama ayahnya tidak disebut? Apakah ia bisa tetap dihormati tanpa status? Dan apakah setelah kembali pulang, ia membawa sesuatu yang lebih penting daripada sekadar nama besar, yaitu ilmu dan pengalaman?

Budaya pesantren memberi pelajaran yang indah. Nasab layak dihormati, tetapi ilmu harus diperjuangkan. Keturunan dapat menjadi amanah, tetapi tidak otomatis menjadi kemuliaan. Seorang Gus tetap harus menjadi santri. Seorang santri biasa dapat menjadi ulama. Dan seorang manusia seharusnya dihormati bukan karena siapa keluarganya, tetapi karena siapa dirinya.

Barangkali itulah perbedaan paling menarik antara CEO dan Gus yang menyamar. CEO ingin mengetahui apakah orang akan menghormatinya tanpa mengetahui kekayaannya. Gus ingin merasakan apakah ia bisa belajar tanpa membawa nama keluarganya. Keduanya sama-sama mengingatkan kita bahwa identitas dapat menipu. Tetapi ilmu, adab, dan akhlak akhirnya berbicara lebih jujur daripada nama.

Fahmi Arif El Muniry, Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Fahmi Arif El Muniry
Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo