Satu contoh perbuatan baik jauh lebih baik ketimbang seribu nasihat yang paling baik
***
Ramadhan tiba, bulan umat Islam berpuasa wajib sebulan penuh. Kegairahan menyambutnya mulai terasa memenuhi ruang-ruang publik. Marhaban ya Ramadhan, demikian kegairahan itu secara simbolik kerap diungkap.
Salah satu penanda lazim bulan suci Ramadhan ialah maraknya penyelenggaraan majelis-majelis tausiyah. Ceramah berisi nasihat atau wasiat-wasiat keagamaan (tawshiyah) dengan aneka rupa penamaan majelis, seperti pengajian, tabligh, kultum, khutbah, siniar religi, dan semacamnya.
Majelis-majelis tausiyah semacam itu tidak hanya berlangsung di bulan Ramadhan. Hampir setiap setiap saat, umat rutin disodori “siraman rohani” itu. Di televisi, radio, dan lini media sosial, nasihat-nasihat keagamaan banjir menyapa. Belum lagi di momen-momen seperti khutbah jumat atau even-even pengajian dalam rangka perayaan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, Haflatul Imtihan, dan lain-lain.
Dan di bulan suci ini, berbagai bentuk “hidangan” rohani itu lebih terasa overload menjejali keseharian umat.
Dalam hal tausiyah, kita memang surplus. Panen berlebihan sehingga aneka majelis tausiyah cenderung menjadi hal rutin. Heboh ketika majelis berlangsung, lalu senyap dan umat kembali ke rutinitasnya. Nyaris tidak ada perubahan atau perbaikan pada diri umat seusai mengikuti majelis demi majelis itu.
Demikian pula saat masuk Ramadhan, orang cenderung menjalani hidup lebih “ketat” secara religius di bulan suci, sedangkan di 11 bulan lainnya kembali menjalani hidup dengan cara rutin, kembali ke “settingan pabrik”. Berbagai majelis tausiyah itu menjadi tak ubahnya festival keriuhan spiritual saja. Setidaknya demikian merujuk tren simpulan skripsi, tesis, bahkan disertasi selama 24 tahun penulis mendampingi mahasiswa yang menyoal isu-isu dimaksud.
Ironisnya, umat sendiri cenderung menikmati fenomena keriuhan itu. Dihayati lebih sebagai hiburan, pelepas penat batiniah setelah setiap hari berjibaku dengan urusan duniawi. Usai keriuhan, umat kembali ke kehidupan rutinnya masing-masing. Bercara hidup seperti sedia kala. Berbagai tausiyah seolah tak membekas jadi alasan umat untuk hidup lebih baik karena para pegiat dakwah sebatas memainkan retorika dari majelis ke majelis.
Majelis-majelis taklim bukan tak penting. Itu salah satu cara para pegiat dakwah, katakanlah ulama, mentransmisikan pengetahuan keagamaan pada umat. Umat tentu butuh itu. Namun, yang paling dibutuhkan umat hari-hari ini sejatinya ialah uswah (keteladanan) dari ulama. Bukan retorika, tausiyah, kultum, mauidzah, tabligh, “omon-omon”, dan lain semacamnya. Tragisnya, dalam soal uswah inilah kita mengalami defisit.
Sungguh sudah saatnya para ulama menyadari itu, juga mewaspadai konsekuensi ikutannya. Jangan dikira umat tidak memperhatikan prilaku ulamanya. Mereka bisa saja takzim menyimak tausiyah, tetapi di belakang diam-diam menggunjing prilaku para ulama. Jangan dikira umat kini cuma bisa sami‘na wa atha‘na (kami mendengar dan kami taat) pada ulama. Umat bisa pula berlaku sadis sami‘na wa ‘ashayna (kami dengar dan kami abaikan).
Sudah banyak bukti, ada ulama yang di suatu waktu begitu dipuja dielu-elukan, tapi di lain waktu diolok diabaikan. Di suatu masa dikelilingi jamaah yang menyemut di tiap kegiatan tausiyahnya dan ditakzimi dawuh-dawuhnya, tapi di masa berikutnya ditinggalkan dan bahkan ditertawakan.
Jika ulama sebagai pegiat dakwah hanya sibuk berbicara dari mimbar ke mimbar, lebih suka menabur tausiyah ketimbang memberi uswah, boleh jadi Islam hanya akan menampak pada keriuhan majelis-majelis taklim, tapi sirna setelahnya.
Jarak antara wasiat keagamaan yang mereka sampaikan dan uswah yang mereka tunjukkan kian lebar membentang. Mereka mewasiatkan hidup sederhana sambil memamerkan gelimang kemewahan, mengajarkan hidup rukun, tapi tetap asyik berpecah-belah antarmereka gegara berbeda dukungan politik elektoral, misalnya.
Mereka rajin menganjurkan hidup santun saling menghormati, tapi tetap lugas melaknat melempar makian. Mengimbau meniru kelembutan Rasul, tapi pada saat yang sama membiakkan kebencian, mengajak saling mendoakan sambil bersemangat mendoakan buruk pihak lain yang beda pilihan. Mencitrakan diri sayang keluarga tapi belakangan terbukti memperlakukan anggota dengan buruk, dan seterusnya.
Situasi praksis dakwah sedemikian tentu tidak hanya menguatkan gejala paradoks dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga mengkonfirmasi krisis uswah yang merundung umat. Suatu krisis keteladanan yang jika dibiarkan tidak mustahil bakal berujung menguatnya ketidakpercayaan (social distrust) umat terhadap ulama, para pegiat dakwah itu.
Apalagi jika krisis uswah ini kita baca dalam konteks day-to-day politics, semakin benderang betapa umat kehilangan figur pemberi uswah yang baik (hasanah); yang tersaji justru figur-figur pemberi uswah yang buruk (sayyiah).
Di titik inilah penting diresapi ungkapan masyhur bahwa satu contoh perbuatan baik jauh lebih baik ketimbang seribu nasihat yang paling baik. Penting pula disadari bahwa orang luar, umat lain, menyimak Islam tidaklah dari membaca al-Qur’an atau al-hadits, tapi dari melihat prilaku para pemeluknya.
Ramadhan adalah momen transformasi umat menjadi lebih baik sekaligus momen reposisi para pegiat dakwah, ulama pada umumnya, dengan menghadirkan Nabi Muhammad saw sebagai hulu sekaligus muara keteladanan. Panggung sebenarnya para ulama ialah kehidupan sosial umat sehari-hari, bukan mimbar atau podium. Uswah adalah komitmen utama, sedangkan tausiyah hanyalah wahana berbagi pengetahuan agama.
Selamat menunaikan ibadah puasa 1445 H.
Fawaizul Umam, Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember
Editor: Muhammad Faizin


