"Tetapi, masa itu adalah masa yang indah. Untunglah kami berdua melaluinya dengan selamat." Kalimat itu terucap dari mulut David, seorang ayah sekaligus kritikus film yang mengizinkan anaknya tidak melanjutkan sekolah saat kelas sepuluh. Izin disertai syarat menonton film pilihannya: tiga kali dalam seminggu. Cerita itu terdokumentasikan dalam novel berjudul Klub Film (2008) gubahan David Gilmour.
Sekolah digantikan film, siswa menjadi penonton. Itu bukanlah hal mudah. Namun, bisa berhasil bahkan hasilnya lebih baik. Gilmour menceritakan pengalaman hidup bersama anak semata wayangnya. Ia menghadap-hadapkan kondisi psikologi sang anak yang tertekan karena sistem sekolah dengan kebebasan belajar melalui film. Gilmour mengajarkan Jesse cara menjadi penonton.
Dalam budaya kita, obrolan tentang menjadi ‘penonton’ terasa senyap. Aktivitas menonton kerap dimaknai hanya persoalan hiburan. Padahal, peristiwa menonton bisa menarik kita ke berbagai hal. Rumah, sekolah, dan masyarakat terlanjur membentuk tubuh para penonton hanya menjadi pasif. Sulit untuk mendefinisikan menjadi penonton yang beriman sekaligus berilmu.
Dahulu, penonton terbagi dalam dua ruang yaitu terbuka dan tertutup. Ruang terbuka mengacu pada tempat-tempat yang biasanya tidak dibatasi oleh sekat dan memanfaatkan tempat terbuka, seperti lapangan atau balai desa. Sementara ruang tertutup memiliki batas waktu dan tempat seperti bioskop atau rumah. Kedua-duanya lekat dengan keramaian. Dalam Kamus Indonesia Ketjil (1954) gubahan S.t Harahap, kata “nonton, tonton, menonton” diartikan sebagai melihat keramaian atau jang gandjil-handjil; tontonan berarti keramaian, pertudjukan.
Di masa sekarang, penafsiran menjadi penonton kian bergeser. Aktivitas menonton mengalami perbedaan ruang, gerak, dan suasana. Kita bisa menonton meski berada di kendaraan, kamar tidur, bahkan kamar mandi. Tempat-tempat tanpa keramaian. Perubahan dari ‘ramai’ menjadi ‘individu’ terjadi akibat munculnya era industri dan digitalisasi. Layar tancap, ketoprak, wayang kulit, atau wayang orang perlahan tergeser oleh televisi, komputer, dan gawai.
Perubahan gerak dari penonton dikeramaian menjadi penonton dalam kesendirian menimbulkan masalah. Dalam pertunjukan ketoprak, kuda lumping, wayang kulit, dan beberapa kesenian tradisional lainnya, penonton bertaruh dengan banyak hal.
Bau keringat, aroma tanah, obrolan dengan orang lain, suasana keramaian, panas matahari, debu, dan hembusan angin, mengiringi posisi menjadi penonton. Semua indera tergunakan. Menonton menjadi aktivitas yang hidup. Berbeda hal ketika di hadapan televisi, komputer, dan layar handphone, penonton menjadi pasif. Tubuh tidak tergerakkan.
Roald Dahl dalam banyak novelnya menggambarkan kondisi para penonton pasif yang mengenaskan. Melalui novel berjudul Charlie and the Chocolate Factory (1964), ia memaparkan bahayanya menjadi penonton pasif, terutama bagi anak-anak:
“Oh ya, kami tahu televisi itu memang membuat mereka diam. Mereka tidak memanjat naik jendela curam. Mereka tak pernah berkelahi atau menendang atau berbaku hantam… Tak pernahkah kau diam sebentar dan merenungi, apa tepatnya akibat televisi bagi anakmu yang kau sayangi? Ia membusukkan akal, ia membunuh daya khayal, ia membuat otak berkarat anak jadi tolol dan pucat, ia tidak bisa lagi mengerti khayalan, pulau impian. Daya pikirnya membeku. Ia tak bisa berpikir, semua jadi kelu.”
Televisi bukan sekadar benda tetapi pengasuh yang ikut mendidik anak melalui aktivitas menonton. Mungkin saat ini televisi terganti dengan gawai.
Menjadi penonton memiliki akibat, yaitu dijinakkan atau memiliki kuasa untuk memilih. Film berjudul G30S PKI (1984) garapan Arifin C Noer menjadi salah satu sinema yang banyak membuat penonton terjinakkan. Film itu dijadikan penguasa sebagai media untuk memberikan pesan ideologis dan pengaburan sejarah.
Namun, banyak juga film yang memberi jalan bagi para penonton untuk berpikir secara kritis dan bebas: film Dead Poets Society (1989) garapan Peter Weir, Three Idiots (2009) garapan Rajkumar Hirani, Peekay (2024) garapan Rajkumar Hirani, dan Joker (2019) garapan Todd Philips, Poor Things (2023) garapan Yorgos Lanthimos dan sederet judul lain.
Film juga ikut membentuk biografi manusia. Beberapa tokoh besar Indonesia dikenal akrab menjadi penonton. H Misbach Yusa Biran dalam buku berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel (2008) menceritakan kehidupan mudanya sebagai pecinta film: “Tempat menonton saya bioskop-bioskop keren, tempat anak-anak muda, seperti bioskop kelas satu Capitol di seberang Masjid Istiqlal sekarang.” Aktivitas menonton menghantarkan dirinya menjadi sosok pejuang yang tak kenal lelah dalam seni dan budaya.
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga gemar menonton, dari film Rusia hingga Prancis. Film menemani perjalanan muda Gus Dur sebelum menjadi presiden. Menurutnya, film laksana jendela ilmu pengetahuan. Dalam film terkandung banyak pembelajaran terkait kemanusiaan dan potret masyarakat. Nama lain yang juga dekat dengan film adalah Quraish Shihab, ulama Indonesia.
Takdir menjadi penonton bisa menjadi berkah. Live Aid adalah pagelaran musik rock secara kolosal yang diadakan tanggal 13 Juli 1985. Konser menggerakkan sekitar 72.000 penonton di Stadion Wembley dan 1,9 miliar penonton dalam siaran langsung. Konser ini menjadi yang terbesar dalam sejarah pertelevisian. Acara ini diadakan untuk mengumpulkan dana bagi penanggulangan kelaparan di Ethiopia. Penonton bernyanyi dalam tujuan kemanusiaan.
Taylor Swift, salah satu ikon budaya pop abad ke-21, menjadikan penonton berdaya. Pesan-pesan feminisme dan penerimaan diri banyak tersebar dalam lirik lagunya. Kompas (18/12/2022) menukilkan: “Swift pun makin gencar menyuarakan isu feminisme, termasuk kekerasan seksual.” Penonton tidak hanya diajak untuk menikmati alunan musik tetapi belajar untuk menerima citra diri dan anti-hero yang kerap menyulitkan dalam menjalani hidup.
Pada akhirnya, persoalan menjadi penonton bukan hanya perihal hiburan. Dalam aktivitas itu mengandung beragam dimensi yang mempengaruhi perkembangan pendidikan, penentuan kekuasaan, penyebaran nilai kemanusaan, dan misi pemberdayaan.
Editor: Kendi Setiawan


