Dark
Light
Dark
Light

Front Jakarta Timur dan Kisah ‘Di Tepi Kali Bekasi’ Pramoedya Ananta Toer

Front Jakarta Timur dan Kisah ‘Di Tepi Kali Bekasi’ Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer, satu di antara penulis paling berpengaruh dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Ia lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925, dan wafat di Jakarta pada 30 April 2006.

Sebagai anak pertama dari sembilan bersaudara, permulaan asal namanya adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Sang ayah, yang sebelumnya bernama Mastoer, memutuskan untuk menghapus kata "Mas" karena dianggap memiliki unsur feodal. Nama keluarga kemudian diubah menjadi M. Toer, yang atas permintaan Pramoedya digunakan pula oleh semua adik-adiknya.

Sebelum dikenal sebagai sastrawan besar, Pramoedya sempat mengabdi sebagai tentara. Pada Oktober 1945, ia bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan bertugas di Cikampek sebagai bagian dari Kesatuan Banteng Taruna (Resimen 6) dengan pangkat Prajurit II. Karier militernya berkembang pesat hingga ia dipromosikan menjadi Sersan Mayor.

Di pertengahan tahun 1946, Pramoedya ditunjuk menjadi perwira persuratkabaran dengan pangkat Letnan Dua. Ia memimpin 60 anggota tim yang bermarkas di Cikampek. Namun, pada 1 Januari 1947, ia memutuskan keluar dari dunia militer. Keputusan ini dipengaruhi oleh berbagai persoalan internal, seperti praktik suap, konflik kepentingan, rivalitas pribadi, dan kebijakan rasionalisasi tentara yang menurutnya tidak adil. Ia kembali ke Jakarta dan bergabung sebagai redaktur majalah Sadar, versi bahasa Indonesia dari penerbit The Voice of Free Indonesia.

Pengalaman Pramoedya sebagai tentara memiliki pengaruh besar terhadap karya-karyanya, yang banyak berlatar revolusi kemerdekaan Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Di Tepi Kali Bekasi, Sepuluh Kepala NICA, dan Keluarga Gerilya.

Pramoedya menyelesaikan penulisan Di Tepi Kali Bekasi di Jakarta pada 13 Januari 1947. Karya ini mulai dicetak pada 12 Februari 1947 oleh penerbit The Voice of Free Indonesia dengan judul Kranji-Bekasi Jatuh. Namun, pada awal agresi militer Belanda I pada 27 Juli 1947, penerbit tersebut digeledah oleh NEFIS (Netherlands Forces Intelligence Service), badan intelijen militer Belanda. Sebagian kecil naskah, sekitar seperempatnya, berhasil diselamatkan. Lalu diterbitkan oleh Penerbitan Gapura pada 1950 dengan judul Di Tepi Kali Bekasi. Novel ini mendapat sambutan hangat dan habis terjual pada 1953. Cetakan ulangnya kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka.

“Buku ini sesungguhnya baru merupakan ¼ daripada naskah yang sebenarnya. Sisa naskah yang ¾ lainnya telah disita oleh NEFIS dan sejak itu tak pernah dikembalikan lagi,” ujar Pram dalam keterangan penutup Novel Di Tepi Kali Bekasi edisi tahun 1957 hal 338.

Di tahun awal pascakemerdekaan, situasi di Jakarta justru begitu pengap. Kebulan asap dan sisa-sisa aroma mesiu menyeruak. Jakarta menjadi kota yang sangat tidak aman. Penggeledahan kios-kios dan rumah-rumah aktivis kemerdekaan rutin dilakukan pasukan NICA yang datang bersama pasukan Inggris. Kondisi genting ini memukul mundur Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk meninggalkan Jakarta dan bergerak ke wilayah pinggiran sejak 19 November 1945. Langkah serupa diambil oleh Presiden Soekarno, yang memindahkan pusat pemerintahan ke Yogyakarta pada 3 Januari 1946.

Alahasil Bekasi dan sekitaran Jakarta Timur menjadi salah satu titik kawasan pertempuran sengit selama awal revolusi yang dikenal dengan nama Front Jakarta Timur. Wilayah ini menjadi tantangan besar bagi militer Belanda.

Bekasi berperan sebagai pusat perlawanan penting. Di kawasan ini pasukan TKR, termasuk berbagai laskar gerilya membangun poros perlawanan. Di Bekasi pula, Pram berhasil menggambarkan situasi dengan sangat baik dan berhasil mengumpulkan serpihan cerita yang ia susun dalam novel Di Tepi Kali Bekasi.

“Adapun seluruh buku ini didasarkan atas kejadian, percakapan, tokoh serta situasi yang sebenarnya, walaupun dan ini patut disayangkan - penyusunan waktu mungkin terasa tertegun-tegun, karena catatan-catatan pengarang ikut tersita oleh NEFIS pada tahun 1947,” ungkapnya di hal 339 dalam novel Di Tepi Kali Bekasi edisi 1957 .

Novel Di Tepi Kali Bekasi dibuka dengan gambaran tentang Bekasi sebagai wilayah perlawanan yang berlangsung sejak era kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga kedatangan Sekutu. Pramoedya memulai prolognya dengan kalimat-kalimat yang tersusun seperti lirik, memberikan nuansa puitis pada pembukaannya.

“Bekasi…… Bekasi, tempat yang membekas hati.” Hal 5.

“Bekasi……… berbekas di hati……… kota yang membekasi………” Hal 9.  

“Bekasi…… tetap membekasi.” Hal 12

Tokoh utama novel Di Tepi Kali Bekasi adalah Farid, pemuda usia 16 tahun. Ia hidup bersama ayahnya yang pensiunan KNIL (Tentara Hindia Belanda), yang pernah berdinas di Marsose. Diceritakan, suasana Jakarta memanas akibat pertempuran antara para pejuang Republik melawan pasukan Sekutu. Karena situasi yang semakin tidak aman, Farid bersama dua sahabatnya, Amir dan Soerip, memutuskan pergi ke Cikampek dengan naik kereta untuk bergabung menjadi tentara.

Di Cikampek, ketiganya berpisah jalan, ditempatkan di jawatan yang berbeda. Karena Amir memiliki pengalaman yang mumpuni, pernah menjadi serdadu Belanda kelas dua, lalu menjadi Heiho, terlibat dalam berbagai medan pertempuran, seperti Bandung, Burma, dan Solomon. Maka ia mendapat kepercayaan langsung masuk ke pasukan senapan mesin, karena keterampilannya dengan cepat ia mendapatkan pangkat letnan dua. Sementara Soerip yang bersekolah di Sekolah Tinggi Islam Jakarta dan pernah menjadi juru ketik ditarik menjadi prajurit kantor pada bagian keuangan, dalam waktu cepat ia juga cepat naik pangkat menjadi letnan dua. Adapun Farid yang masih muda dan hanya lulusan sekolah rakyat memulai kariernya dari prajurit.

Meskipun tokoh utamanya adalah Farid, namun alur cerita tidak sepenuhnya terpusat pada dirinya. Pembaca diajak untuk memperhatikan sejumlah tokoh lain serta situasi yang digambarkan dalam novel, menciptakan dinamika cerita yang kaya dan penuh lapisan makna. Misalnya tentang kepahlawanan Amir, di mana ia gugur di Kampung Dua.

“Amir telah gugur! Amir yang gagah perwira. Berkurban untuk pertiwi Indonesia. Jiwanya diserahkan dengan rela, menyusul keluarganya. Ketabahannya, tindakannya tak pantang surut di berbagai pertempuran di Burma, daerah-daerah hutan daratan Papua…… Kini diserahkan kepada negara Indonesia, guna kehormatan kemerdekaan.” Hal 82.

Semua orang sepakat bahwa sastra adalah realitas sosial di zamannya. Pram berhasil menggambarkan itu dalam novel. Misalnya tentang catut (korupsi) di masa revolusi, di mana Soerip yang berada di tentara bagian keuangan suka mencatut. Lalu tak hanya pertempuran di Front Jakarta Timur atau Bekasi saja digambarkan dalam novel, Pram juga menjelaskan tentang Rera (reorganisasi dan rasionalisasi) di tubuh angkatan perang Indonesia. 

“Banyak terjadi pemindahan. Penurunan dan kenaikan pangkat jadi buah pembicaraan.” Hal 194.

Kisah percintaan, meskipun tak terlalu banyak, juga disebutkan dalam novel ini. Dalam cerita, cinta hanya digambarkan sebagai bagian dari kehidupan seseorang, tanpa menjadi faktor yang menentukan arah kisah. Sebaliknya, novel ini lebih banyak mengeksplorasi perjalanan hidup seseorang melalui berbagai pengalaman, yang membentuk alur cerita yang mengalir secara linier.

Di Tepi Kali Bekasi, pembaca diajak menyelami beragam aspek kehidupan, dari perjuangan para pejuang, nilai-nilai moral, dinamika individu, hingga rasa kemanusiaan yang mendalam. Di sinilah Pram memulai. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Malik Ibnu Zaman
Kelahiran Tegal Jawa Tengah. Menulis sejumlah cerpen, puisi, resensi, dan esai yang tersebar di beberapa media online.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo