Pada masa Orde Baru, orang-orang politIk bersilat lidah bukan untuk capaian benar atau pengingkaran salah. Mereka sengaja mencipta ramai. Politik dimengerti dengan kemahiran dan kesaktian mengumbar kata agar mendapat tepuk tangan. Mereka merasa sedang dalam “persilatan kata” menjadikan kekuasaan makin angker. Di pelbagai peristiwa, mereka bersaing dalam pamer jurus meski mudah dicibir. Mereka menggelar politik picik dan klise.
Di kubu berbeda, ribuan pembaca memilih menikmati cerita silat. Di tangan, buku-buku kecil dan tipis lekas dikhatamkan. Pembaca tak mau selesai. Ketagihan sulit dirampungkan. Buku-buku itu menjadi rebutan. Di hari-hari politik penuh dusta, para penikmat cerita silat mengetahui pasrah, lugu, putus asa, sengketa, pongah, adil, dan tabah. Kho Ping Hoo sebagai pembuat cerita sedang mencipta dunia berbeda dari keruwetan Indonesia akibat kaum politik bersilat lidah.
Tampilan buku-buku sederhana saja. Harga dijamin terjangkau. Orang-orang tak sanggup mengeluarkan duit bisa bergerak ke tempat persewaan buku. Di situ, mereka mudah menemukan buku-buku Kho Ping Hoo. Pilihan menjadi penggemar cerita silat bukan dosa atau “pemberontakan” atas agenda-agenda pembangunan nasional. Soeharto tak pernah berpidato agar orang menjadi pendekar mengalahkan para musuh. Di pidato-pidato mengantar tidur, Soeharto sulit memberi bahasa-bahasa mengajak pendengar berimajinasi “dunia persilatan” mengajarkan filsafat hidup.
Kita pastikan pada masa Orde Baru, jumlah orang kecanduan cerita silat persembahan Kho Ping Hoo mengalahkan pecandu pidato-pidato Soeharto. Kita pun maklum: Indonesia itu bertokoh utama Soeharto. Kho Ping Hoo memang terkenal dan berpengaruh tapi bukan penentu Indonesia makmur. Kho Ping Hoo sekadar mendukung “swasembada cerita silat”, bukan swasembada beras.
Di buku Apa dan Siapa: Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984, kita membaca keterangan mengenai waktu penulisan cerita: “Kho Ping Hoo menyelesaikan satu buku dalam seminggu.” Kita mengerti ia rajin dan bekerja keras agar menghasilkan cerita-cerita bermutu. Konsekuensi: ia tak mau diganggu saat sedang menulis cerita. Kita mengandaikan waktu sakral. “Saya mengarang untuk mengeluarkan uneg-uneg,” pengakuan Kho Ping Hoo. Keranjingan mengarang menghasilkan ratusan buku cerita berakibat makmur. Buku-buku itu laris!
Kita diajak mengenali kepribadian dan keluarga Kho Ping Hoo dalam majalah Zaman, 29 Maret 1981. Pembaca bersabar dulu tak mengurusi cerita silat tapi penggalan biografi pengarang. Di situ, kita membaca siasat Kho Ping Hoo membentuk Indonesia dalam keluarga: “Anak-anaknya kabarnya dibebaskan dalam memilih jodoh ataupun agama. Anak nomor tiga, Tinah, menikah dengan pemuda Indonesia asli. Namanya Prakoso, asal Solo dan beragama Islam. Yang nomor enam, Anggraeni, dipersunting oleh Daenal Ismail, yang anak seorang kiai… Bayangkan, agama keluarga Kho Ping Hoo berbeda-beda. Ada yang Islam, Katolik, Protestan, dan Kong Hu Cu. Nampaknya semua rukun-rukun selalu.” Pengarang kondang itu memiliki 13 anak. Mereka mungkin “terpinggir” akibat corak politik Soeharto terhadap kaum peranakan Tionghoa. Keluarga besar itu justru mencipta keragaman dan kerukunan sesuai dasar negara Indonesia.
Kho Ping Hoo bertumbuh dalam keluarga peranakan Tionghoa menanggung keterbatasan tapi rajin bersilat. Kho Ping Ho diajar bapak dengan tekun dan keras. “Kho Ping Hoo mewarisi kepandaian silat tangan kosong, silat pedang, dan tongkat sepasang,” tulis di majalah Zaman. Pengarang itu pendekar. Pada babak berbeda, ia mengajarkan silat kepada anak dan menantu. Pengajaran bukan penulisan cerita silat. Kita menduga penulisan cerita silat itu sangat sulit. Sosok penulis itu keranjingan menulis cerita silat dengan segala pertaruhan. Konon, ia biasa tidur memeluk mesin tik bila kelelahan dalam menggubah cerita.
Myra Sidharta (1991) memberi keterangan: “Menulis merupakan proses yang alami bagi Kho Ping Hoo. Sering ia mengerjakan empat cerita sekaligus. Ia sendiri merasa heran tidak mencampur-adukkan keempat cerita tersebut.” Pengarang dalam gairah tak biasa. Kita pun merasa kagum: “Kho Ping Hoo tetap menggunakan mesin tik portabelnya karena ia merasa bunyi mesin tik dan iramanya memberikan gairah.” Ia dalam sejenis ritual mewujudkan kesaktian-kesaktian.
Lelah memerlukan istirahat. Lapar memerlukan makan. Cerita memerlukan keistimewaan. Kho Ping Hoo tak mau sembarangan dalam menghasilkan cerita. Lakon hidup keseharian menjadi rujukan untuk menetapi gairah menggubah cerita silat. Pendapat penting dari mahaguru cerita silat di Indonesia: “Membuat sebuah karangan seperti membuat sebuah hidangan makanan. Yang dihidangkan harus enak. Itu sebabnya ketika hidangan dimasak harus ada kencur, garam, bawang, dan lain-lain. Harus ada bumbu-bumbu. Kalau itu sudah dikerjakan, lalu dipikirkan gizi. Hidangan seperti karangan, harus terasa lezat dan bergizi.”
Pada abad XXI, lakon hidup dan kepengarangan Kho Ping Hoo mungkin sedikit terlupa akibat kemunculan selera cerita berbeda dan pengarang-pengarang baru. Ia tetap terkenang sebagai tokoh besar dan turut membentuk Indonesia. Para pembaca masih setia sampai sekarang. Di kalangan pembaca lama, ikhtiar menjadi kolektor membuat Kho Ping Hoo (1926-1994) masih pujaan sambil mendapatkan pembaca-pembaca baru. Kita menjelang peringatan 100 tahun Kho Ping Hoo (2026) sambil melacak dan mengadakan pelbagai dokumentasi.
“Di mana ada orang Tionghoa, di sana ada cerita silat,” kelakar Junus Jahja (2002) terhadap penjelasan Leo Suryadinata. Sejak dulu, pembuktian sulit terbantah: “Di mana ada sumur dan air, di sana ada golongan etnis Tionghoa.” Kho Ping Hoo pun berada dalam “sumur cerita” dan penimba “air cerita”. Puluhan tahun membuat cerita silat menampilkan babak-babak pemikiran dan sikap Kho Ping Hoo di Indonesia. Ia mengetahui ketegangan, konflik, harmoni, dan bimbang dalam usaha-usaha menjadi (manusia) Indonesia.
Pujian diberikan Junus Jahja: “Kho Ping Hoo, satu-satunya pengarang cerita silat peranakan Tionghoa di Indonesia, yang sejak semula mengumandangkan pembauran antara pri dan nonpri.. Ia mengatakan bahwa rasialisme di bumi Indonesia tak ada. Yang ada hanyalah pihak ketiga, pengadu domba.” Ia menilik dan menafsirkan sejarah di Indonesia memang rumit, berdarah, dan samar tapi memberi petunjuk mencipta hikmah-hikmah membentuk Indonesia abad XX dalam harmoni.
Ikhtiar pembauran itu memerlukan waktu lama dan ketabahan. Kho Ping Hoo berhasil dalam mengamalkan nilai-nilai menjadi Indonesia meski pernah mengalami diskriminasi, tekanan, dan salah paham. Siasat pemaknaan hidup dan Indonesia melalui cerita-cerita silat disempurnakan dengan kaidah-kaidah berkeluarga. “Keluarga Kho Ping Hoo dalam falsafah bhinneka tunggal ika,” tulis Junus Jahja dalam buku berjudul Peranakan Idealis (2002). Pembuktian kecil berupa penggunaan beragam bahasa dalam keluarga: Sunda, Jawa, Indonesia, dan lain-lain. Pada abad XXI, kita makin insaf ikhtiar-ikhtiar mahaguru cerita silat dalam pengisahan keluarga bertajuk Indonesia. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan


