Dark
Light
Dark
Light

Khutbah Jumat: Hindari Buruk Sangka dan Paling Benar Sendiri

Khutbah Jumat: Hindari Buruk Sangka dan Paling Benar Sendiri

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Takwa adalah menjaga hati, lisan, dan perbuatan dari segala yang dibenci oleh Allah serta melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya. Salah satu bagian penting dari ketakwaan adalah menjaga hati dari sifat sombong dan prasangka buruk kepada sesama. Kita sering kali tergesa-gesa menilai seseorang berdasarkan apa yang tampak, padahal di baliknya ada cerita yang tidak kita ketahui. 

Padahal Allah dengan tegas melarang kita berburuk sangka (Suudzan). Hal ini termatub dalam QS Al-Hujurat: 12:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam kehidupan sehari-hari, kita terkadang begitu mudah menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat mata. Kita sering merasa sudah tahu segalanya tentang orang lain hanya berdasarkan satu cuplikan kecil kehidupannya. Padahal, kisah seorang sufi ternama, Ibrahim bin Adham, memberi pelajaran berharga bahwa penilaian kita seringkali keliru. 

Suatu hari ia melihat seorang pemuda di tepi pantai sedang bermesraan dengan seorang perempuan dan dikelilingi botol-botol minuman. Seketika ia menganggap pemuda itu sebagai ahli maksiat yang terbawa arus kehidupan yang salah. Namun Allah menegur hatinya yang terjebak dalam prasangka buruk. 

Ketika ombak besar datang dan menyeret beberapa pengunjung pantai, pemuda yang sebelumnya dinilai buruk itu justru berlari menyelamatkan mereka satu per satu dengan penuh keberanian. Ia berhasil menolong empat nyawa dari ancaman maut, sementara Ibrahim hanya bisa terpaku tanpa mampu berbuat apa-apa. 

Lebih mengejutkan lagi, pemuda tersebut kemudian menghampirinya dan berkata bahwa perempuan yang bersamanya adalah ibunya, dan minuman yang mereka konsumsi hanyalah air biasa. 

Seketika itu juga Ibrahim bin Adham merasa tertampar oleh kenyataan bahwa ia telah salah menilai dan merasa paling benar sehingga meremehkan orang lain. Kejadian tersebut meninggalkan pelajaran besar baginya hingga akhir hayatnya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kisah ini mengingatkan kita untuk tidak terburu menghakimi orang lain. Hanya karena seseorang tak menyapa, kita langsung menuduhnya sombong. Padahal mungkin ia sedang dirundung masalah. Ketika seorang teman tak memberi pinjaman, kita mencapnya pelit. Padahal ia sedang berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya. Saat seseorang tak memenuhi undangan, kita menuduhnya tak menghargai kita. Tanpa tahu bahwa ia sedang menghadapi situasi mendesak yang tak bisa diabaikan. 

Terlebih saat menerima informasi yang masih 'katanya-katanya" tanpa mau tabayun atau konfirmasi. Sikap ini pasti akan memunculkan persepsi yang salah. Salah persepsi melahirkan kecurigaan dan kecurigaan melahirkan permusuhan yang merusak ukhuwah. Sementara prasangka buruk sama sekali tidak memberi manfaat. Jika dugaan kita benar, tidak ada pahala yang kita dapat. Jika salah, maka dosa justru menyelimuti hati kita. 

Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa prasangka buruk adalah sedusta-dustanya ucapan dan merupakan pemantik permusuhan, sehingga umatnya diperintahkan untuk saling mencintai sebagai saudara.

Rasulullah saw bersabda:  

اِيّاكُم والظنَّ فاِن الظنَّ اَكْذَبُ الحَدِيث   

Artinya: "Jauhilah prasangka buruk, karena  prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta." (HR. Al-Bukhari).

Karena itu, saat bertemu siapa pun seharusnya menjadi cermin kita untuk merendahkan hati. Saat bertemu anak kecil, mungkin mereka lebih baik karena dosanya masih sedikit. Saat bertemu orang yang lebih tua, bisa jadi mereka lebih mulia karena ibadahnya lebih banyak. Bahkan saat bertemu orang dengan keterbatasan fisik atau mental boleh jadi mereka lebih selamat karena mereka tidak banyak menggunakan anggota tubuhnya untuk bermaksiat. 

Maka sangat keliru bila kita merasa diri paling suci, merasa paling benar, lalu memandang rendah orang lain. Allah tidak menilai seseorang dari rupanya, dari persepsi manusia, atau dari satu peristiwa dalam hidupnya. Allah menilai dari hati dan amal yang sesungguhnya. Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم:  إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 

Artinya: “Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Oleh sebab itu, maa’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mari latih diri untuk selalu berbaik sangka, memperluas pemahaman, serta menahan diri dari menilai dan menghakimi. Bisa jadi, orang yang kita pandang hina hari ini justru jauh lebih baik dan lebih dekat kepada Allah dibandingkan kita yang merasa tinggi. 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok).” (QS Al Hujurat: 11)

Semoga hati kita terjaga dari kesombongan, dan langkah kita selalu dihiasi kebaikan dalam melihat sesama manusia. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Khutbah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo