Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Mengawali khutbah ini, khatib mengajak jamaah untuk terus meningkatkan dan menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT sebagai hal penting dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Kita harus menyadari bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. Kita datang ke dunia ini bukan untuk tinggal selamanya. Ada awal ketika kita dilahirkan, ada perjalanan yang harus ditempuh, dan ada akhir ketika kita kembali menghadap Allah SWT.
Dalam perjalanan ini, kita tidak selalu melewati jalan yang mudah. Ada tanjakan berupa ujian, turunan berupa kelalaian, tikungan berupa godaan, jalan licin berupa fitnah, dan persimpangan yang menuntut kita menentukan pilihan. Karena itu, kita sebagai seorang Muslim membutuhkan kekuatan untuk melangkah dan bekal untuk sampai kepada tujuan.
Dalam menjalani ini semua, keimanan dan ketakwaan menjadi modal yang penting dalam menjalani kehidupan. Iman adalah tongkat yang menopang langkah, sedangkan takwa adalah bekal yang menyelamatkan perjalanan. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma'idah: 35).
Ayat ini mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah membutuhkan kesungguhan. Iman tidak cukup hanya diyakini, tetapi harus menjadi kekuatan yang menggerakkan langkah. Takwa juga tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus menjadi bekal yang dibawa dalam setiap aktivitas kehidupan.
Bayangkan, Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Saat kita kita berjalan jauh, kondisi tubuh kita bisa dipastikan tidak selalu dalam kondisi kuat. Ketika jalan mulai menanjak, kita membutuhkan tongkat. Ketika keseimbangan mulai terganggu, tongkat menjadi penopang. Ketika tubuh lelah, tongkat membantu kita untuk tetap berdiri dan melanjutkan perjalanan.
Begitulah iman. Iman adalah kekuatan batin yang membuat kita tetap mampu berdiri ketika kehidupan berguncang. Ketika mendapatkan ujian, iman mengajarkan sabar. Ketika kehilangan, iman mengajarkan bahwa semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ketika mendapatkan kesenangan, iman mengajarkan syukur. Ketika mengalami kegagalan, iman mengajarkan agar tidak berputus asa. Ketika mendapatkan keberhasilan, iman mengingatkan agar tidak sombong.
Semua dari kita pasti tetap diuji, tetap menghadapi kesulitan, bahkan terkadang harus melewati masa-masa yang sangat berat. Namun iman membuat kita memiliki pegangan agar tetap kuat berjalan. Dengan iman kita akan senantiasa menyerahkan segalanya kepada Allah dengan rasa tawakal. Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ
Artinya: “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Talaq: 3).
Sementara takwa, Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, adalah bekal dalam perjalanan. Allah SWT berfirman:
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ
Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197).
Dengan bekal takwa, kita akan berjalan pada arah yang benar karena kita memiliki komitmen untuk menjalankan semua perintah Allah. Dengan takwa kita pun akan terhindar dari jalan yang sesat karena kita memiliki tekad untuk menjauhi segala laranganNya. Hal ini selaras dengan definisi takwa itu sendiri yakni:
امْتِثَالِ أَوَامِرِ اللهِ تَعَالَى وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا
Artinya: "Melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya baik secara lahir maupun batin".
Dalam kehidupan modern saat ini, banyak dari kita yang sangat serius mempersiapkan kehidupan dunia, tetapi lupa mempersiapkan kehidupan akhirat sekaligus melupakan bekal takwa ini. Padahal perjalanan menuju akhirat pasti terjadi. Allah SWT berfirman:
وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِۗ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَࣖ ٢٨١
Artinya: “Waspadalah terhadap suatu hari (kiamat) yang padanya kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian, setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya dan mereka tidak dizalimi.” (QS. Al-Baqarah: 281).
Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah terminal terakhir. Ada saat ketika seluruh manusia dikembalikan kepada Allah. Maka selama masih berada dalam perjalanan, jangan sampai kita kehabisan bekal. Rasulullah SAW pernah bersabda dan memberi nasihat kepada salah satu sahabat, yaitu Abdullah bin Umar, atau yang biasa dikenal dengan Ibnu Umar.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Artinya: “Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, ia berkata: Rasulullah SAW pernah memegang pundakku seraya bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara.’ Ibnu Umar juga pernah berkata: ‘Bila engkau berada di waktu sore, janganlah menunggu waktu pagi, dan bila engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu,’” (HR Al-Bukhari).
Maka itu, Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Selagi Allah masih memberikan kesempatan, mari kita kuatkan tongkat iman dan perbanyak bekal takwa. Semoga setiap langkah kita senantiasa berada dalam ridha-Nya. Ketika jalan kehidupan terasa berat, semoga iman menguatkan kita. Ketika banyak godaan menghadang, semoga takwa menjaga kita. Dan ketika perjalanan dunia ini berakhir, semoga kita kembali kepada Allah dalam keadaan membawa bekal yang cukup dan memperoleh husnul khatimah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung
Editor: Muhammad Faizin


