Miskin sering dimaknai sebagai neraka yang datangnya terlalu cepat. Kehadirannya seperti mimpi buruk bagi orang-orang yang masih tinggal di bumi. Konon, kemiskinan lekat dengan lapar, tangisan, sakit, cemooh, diskriminasi, stereotip, dan kejahatan. Mungkin, karena itu, Budiman Sudjatmiko, kepala Badan Pengentasan Kemiskinan terlihat bersemangat saat mengatakan ingin mencegah kelahiran orang miskin baru.
Pak Budiman mesti tahu, kalau tidak ada orang miskin, di dunia ini tidak akan pernah muncul pemikiran besar dari sosok Bunda Teresa, Karl Marx, Kartini, Soekarno, dan sederet nama lain. Tokoh-tokoh itu hadir karena peran kaum miskin. Dan yang terpenting, bapak tidak akan menduduki jabatan saat ini, jika tidak ada orang miskin. Jadi, kenapa tidak berterima kasih pada kaum miskin, ketimbang malah mau membinasakannya. Pemilik mulut bisa kualat.
Alih-alih mengatakan akan mencegah kelahiran kaum miskin baru, lebih baik Pak Budiman berpikiran soal kemudahan akses bagi si miskin. Itu lebih make sense. Kemiskinan itu abadi, Pak. Sebagian isi kitab suci berbicara soal kaum miskin, teks-teks sastra juga dipenuhi kaum melarat. Jika tidak ada kemiskinan, dunia akan sepi karena tidak memiliki cerita.
Dalam peraturan negara, tepatnya pada pasal 34 ayat (1) UUD NRI Tahun 1945, disebutkan bahwa negara berkewajiban untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Kata memelihara diartikan bahwa negara bertanggung jawab menyediakan akses yang layak dan adil bagi mereka.
Orang miskin menderita bukan karena ia kekurangan secara materi, tapi karena negara tidak sungguh-sungguh memberikan hak untuk mereka. Coba kita ingat lagi, berapa banyak orang tua yang menangis tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya lantaran biaya pendidikan kian mahal? Berapa banyak orang miskin yang terlantar saat sakit karena biaya berobat tinggi? Lalu, berapa banyak anak-anak yang tidak terpenuhi gizinya karena bahan pokok selalu naik?
Apakah kemiskinan itu berarti kutukan yang meresahkan? Tidak juga. Orang-orang besar yang tercatat dalam sejarah Indonesia, lekat dengan kemiskinan. Abdurrahan Wahid (Gus Dur) dan Hoegeng Iman Santoso adalah beberapa nama yang lekat dengan miskin secara “materi” tapi hidupnya terhormat.
Kemiskinan tidak sama dengan penderitaan. Roanne Van Voorst dalam bukunya Tempat Terbaik di Dunia, berkisah tentang kehidupan masyarakat di bantaran salah satu kali Jakarta. Mereka, orang-orang yang hidup di bantaran kali mungkin bisa disebut miskin jika tolak ukurnya adalah soal materi. Tapi, apakah mereka menderita menjalani hari-harinya? Tidak. Mereka justru sengsara ketika pemerintah hadir mengatasnamakan ketertiban lewat penggusuran.
City of Joy (1985) garapan Dominique Lapierre juga bercerita soal kemiskinan. Novel itu mengisahkan kehidupan di suatu daerah termiskin di Kalkuta, India, yang dikenal sebagai Anand Nagar atau City of Joy. Isi novel memuat tokoh Stephan Kovalski, seorang pendeta asal Polandia yang datang ke India untuk melayani orang-orang miskin. Lalu Hasari Pal, seorang petani yang pindah ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
Kisah mereka terjalin dengan berbagai peristiwa yang menggambarkan ketidakadilan sosial, namun juga kehangatan dan solidaritas di antara warga miskin. Novel itu tidak hanya menyoroti soal kesulitan si miskin karena sistem, tetapi juga menunjukkan semangat manusia yang luar biasa dan kemauan untuk bertahan hidup.
Seperti yang ditulis dalam salah satu kutipan: "Di balik wajah-wajah lelah yang tertutup debu, ada mata yang masih menyimpan sisa-sisa harapan, meski hidup selalu mempermainkan mereka dengan cara yang kejam."
Kita juga bisa menengok cerita soal kemiskinan dalam karya Yoshichi Shimada berjudul Nenek Hebat dari Saga (2013). Buku ini berkisah tentang kehidupan Akihiro dan neneknya. Ia menemukan gaya hidup yang sangat berbeda. Meskipun hidup dalam kondisi yang sederhana dan serba kekurangan, neneknya selalu menemukan cara untuk mengatasi tantangan dengan kecerdikan, humor, dan kearifan tradisional.
Sang nenek mengajarkan Akihiro untuk hidup dengan bijak, menghargai hal-hal kecil, dan menikmati kebahagiaan dari hal-hal sederhana. Salah satu kutipan yang teringat: “Kita memang miskin, tapi bukan berarti kita tidak bisa bahagia. Uang bukan satu-satunya yang membuat hidup ini berarti.”
Lalu, kita juga bisa membaca buku The Railway Children (1905) garapan Edith Nesbit. Novel berkisah tentang kehidupan sebuah keluarga yang berpindah dari kondisi kaya ke miskin. Meski rumah yang ditempati kini tidak bergelimang harta, mereka menemukan kegembiraan. Rumah berisikan cerita dan puisi. Lalu, kebahagiaan berlipat ketika menjalin ikatan dengan orang-orang di sekitar.
Pada akhirnya, yang diketahui soal kemiskinan tidak melulu persoalan materil yang terikat dengan uang, harta benda, dan tatapan prihatin. Di dalam kata “miskin” ada kehormatan, kerja keras, kebahagiaan, dan kecerdasan dalam menghadapi hidup. Si miskin yang sering dicitrakan perlu ditolong itu, adalah kaum yang menjaga nilai kebudayan, menggerakkan sejarah dan memberi cerita bagi dunia.
Editor: Kendi Setiawan


