Berita baru tak harus selalu politik. Berita boleh ringan meski tetap menggampangkan orang menguak curiga politik. Di Jawa Pos, 31 Juli 2014, kita melihat foto memuat keterangan: “Wakil presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka mengajak istrinya, Selvi Ananda, blusukan ke Poris Plawad Cipondoh, Kota Tangerang, 30 Juli 2024. Gibran mendatangi sekolah dan rumah warga. Dia membagikan buku tulis, susu, serta berkomunikasi untuk mendengarkan curhatan warga…”
Kita menyaksikan foto dalam beda peran: Selvi membagikan buku tulis dengan sampul warna jambon dan Gibran membagikan susu. Dulu, orang-orang sempat sewot saat mengetahui buku tulis terbagikan memuat foto bocah di sampul. Bocah itu cucu penguasa. Pada hari berbeda, buku tulis terbagikan bukan lagi digunakan dalam mengenalkan atau membikin (makin) tenar si bocah.
Buku tulis bakal berarti bagi murid atau warga. Kita menduga buku tulis lekas digunakan dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Kita pun mengandaikan buku tulis pemberian tokoh kondang justru disimpan sebagai koleksi. Mereka menganggap itu “benda berharga” untuk kelak mengenang pendidikan, ketokohan, dan kekuasaan.
Kita mundur sejenak ke puluhan hari lalu, sebelum muncul berita-berita mengikutkan masalah buku tulis. Liburan panjang bagi murid-murid diartikan main, piknik, malas, atau menonton televisi. Mereka terbebas dari kutukan ratusan hari belajar di sekolah. Belajar bukan sekadar menghadirkan raga. Belajar tak cuma (isi) kepala harus berpikir. Belajar dengan waktu panjang: melelahkan dan membosankan. Murid-murid mengerti belajar memerlukan benda-benda untuk mengesahkan sedang mencari atau menerima ilmu-ilmu.
Pada hari-hari menjelang masuk sekolah atau liburan berakhir, mereka memikirkan buku tulis. Benda itu menentukan naik-turun gairah belajar dan gengsi di sekolah. Pembelian buku tulis menggunakan anggaran orang tua tapi selera bisa diperdebatkan cukup sengit. Anak atau remaja menginginkan buku tulis dengan sampul, warna, ukuran, dan jenis kertas tak sembarangan. Orang tua kadang “membatalkan” berkaitan harga dan fungsi.
Kini, jutaan murid di seantero Indonesia mulai mengisi halaman-halaman buku tulis. Hari-hari masuk sekolah, hari-hari menggunakan buku tulis untuk beragam mata pelajaran. Buku tulis mulai memiliki arti meski bakal lekas memberi kebosanan dan kecewa. Di hadapan buku tulis, murid sering mendapat “perintah”. Pada babak perlawanan, mereka membuat corat-coret atau gambar di buku tulis. Mereka pun membuat mainan setelah kertas-kertas dilepaskan dari jilidan buku tulis.
Kita masih harus berpikiran peran dan pamrih pabrik-pabrik buku tulis. Mereka mengadakan beragam buku tulis agar laku atau laris. Riset dilakukan dalam menghasilkan buku tulis, diharapkan diminati ribuan murid di seantero Indonesia. Mereka tak sembrono dalam memilih kertas, menggarap sampul buku, dan penentuan harga. Konon, bisnis awet menghasilkan untung besar itu buku tulis. Persaingan pun sengit. Kita mengingat selama sekolah terjadi perang merek buku tulis.
Di majalah Tempo, 2 Maret 1991, kita justru membaca surat pembaca agak aneh. Rakhman Arifin asal Madura berpendapat:
“… sebagian buku tulis yang beredar sekarang tidak mendidik karena tidak bisa menarik pelajar untuk selalu menggali ilmu sebanyak-banyaknya.” Kita terbiasa dengan pengamat pendidikan memberi perhatian besar untuk (mutu) buku pelajaran, guru, dan kurikulum. Rakhman Arifin justru tampil sebagai pengamat buku tulis demi kepentingan kemajuan pendidikan di Indonesia.
Ia membuka nostalgia, berbagi kepada pembaca:
“Pada waktu saya di SD, banyak buku tulis yang kulit luarnya bergambarkan seorang pahlawan. Dan di bawahnya, tertulis sekelumit sejarah perjuangannya. Misalnya, gambar Pangeran Diponegoro atau Sultan Hasanuddin. Tapi, sekarang jarang sekali ditemukan buku semacam itu.”
Masa lalu itu buku tulis memberi “propaganda” agar murid-murid menghormati pahlawan dan memuliakan Indonesia. Buku tulis bukan sekadar benda dalam pendidikan dan pengajaran tapi memberi penguatan patriotisme. Murid-murid di hadapan buku tulis malah belajar sejarah meski sepintas dan ringkas.
Rakhman Arifin ingin pabrik-pabrik turut dalam menguatkan keinginan belajar para murid, tak lupa memberi pesan-pesan baik di sampul depan dan belakang. Isi buku tetap kertas bergaris. Pilihan gambar dan kata di sampul dianggap menentukan tebar pengaruh dan sodoran pengetahuan. Murid-murid dapat menemukan hikmah di sampul meski tak wajib bertema patriotisme.
Pada masa 1980-an dan 1990-an, kita ingat murid-murid memiliki selera beragam dalam pembelian dan penggunaan buku tulis. Di toko buku dan alat tulis, mereka melihat gambar-gambar di sampul buku tulis itu tokoh-tokoh dalam film-film ditonton di televisi. Para remaja kadang memilih buku tulis dengan sampul para artis cantik dan ganteng. Di hadapan mereka, sekian buku tulis menampilkan gambar flora, fauna, mobil, sepeda motor, pesawat, dan lain-lain. Beragam gambar tampil di sampul buku tulis: memiliki pesan-pesan diminati anak dan remaja. Kita tak melupa kadang ada buku dengan sampul polosan atau tiada gambar. Konon, pengguna buku jenis buku itu santun, sederhana, dan rajin belajar.
Para orang tua, guru, dan moralis kadang memberikan pendapat-pendapat memicu debat. Mereka tak suka bila ada gambar-gambar seksi di sampul buku tulis. Mereka khawatir gambar-gambar di buku tulis mengajarkan hedonisme atau konsumerisme. Tuduhan besar tentu kejengkelan menemukan gambar tokoh dalam film-film asing. Mereka menganggap buku tulis dapat mengurangi keimanan, patriotisme, dan adat ketimuran. Pelbagai tuduhan atau kecaman kadang berlalu tanpa “kemenangan”.
Kita makin sadar buku tulis dan gambar di sampul bukan perkara remeh. Pengusaha, menteri, guru, ulama, atau intelektual kadang berbeda selera dalam masalah buku tulis. Mereka makin rumit dalam debat berkaitan laris dan digemari jutaan murid. Kita mengingat buku tulis jarang dikoleksi dalam waktu lama. Perubahan gambar-gambar di sampul dipengaruhi industri film, musik, komik, dan lain-lain. Selera mudah berubah.
Pihak-pihak mengaku bijak boleh mengusulkan gambar di sampul itu pahlawan, tokoh dalam epos-epos, tokoh dalam folklor, dan lain-lain. Pada masa lalu, menampilkan foto penguasa atau pejabat di sampul buku tulis bukan larangan. Buku tulis untuk belajar telah menjadi sumber “propaganda” disempurnakan perdebatan dan raihan laba besar.
Dulu, industri buku tulis sempat akrab dengan industri hiburan cap Indonesia, tak selalu asing atau global. Kita mengetahui dari produksi buku tulis dimaksudkan sebagai hadiah perusahaan-perusahaan untuk para konsumen. Dulu, kesetiaan konsumen biasa diganjar buku tulis memiliki logo perusahaan. Kita mengingat buku disodorkan oleh perusahaan jamu terkenal: Sido Muncul. Perusahaan itu mengedarkan buku tulis dengan sampul memuat gambar tokoh-tokoh dalam Srimulat. Kita mengenang babak-babak hiburan dan pesta tawa gara-gara pementasan Srimulat.
Foto dua tokoh Srimulat di sampul buku tulis: Gepeng dan Jujuk. Publik mengetahui mereka sumber lucu. Mereka berpenampilan necis tampak sedang berada di taman. Mereka piknik atau diceritakan memadu asmara. Taman indah dan bunga-bunga. Mata pemilik atau pengguna buku tulis diingatkan Srimulat atau berimajinasi piknik ke taman. Buku tak sekadar pamer foto dua tokoh Srimulat. Perusahaan jamu itu mencantumkan pesan: “Ingatlah jamu berarti jagalah dirimu.” Usaha agar publik rajin minum jamu merek Sido Muncul.
Buku tulis bukan cuma benda. Buku tulis pun propaganda, iklan, dan pengetahuan. Kita mungkin lupa dan meremehkan makna buku tulis berakibat tak memiliki kemauan besar membuat koleksi buku tulis, dari masa ke masa. Kita mengandaikan koleksi buku tulis sanggup mengisahkan zaman memuat debat-debat selera, harga, mutu, hiburan, petaka, dan laba. Buku tulis pun memicu sengketa makna, dari dulu sampai sekarang. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


