Dark
Light
Dark
Light

Bocah Berlebaran: Uang dan Makanan

Bocah Berlebaran: Uang dan Makanan

Hari dijanjikan untuk bocah-bocah: Lebaran. Mereka mengartikan itu hari suci dan hari besar. Mereka mengimbuhi arti dengan busana, makanan, dan uang. Konon, Lebaran itu “hari kemenangan” saat bocah-bocah menerima uang berlimpahan. Peristiwa bersalaman atau sungkem mengikutkan “perpindahan” atau “serah-terima” uang. Bocah-bocah sebagai “pemanen” uang. Mereka bersukacita dengan lembaran-lembaran uang atau amplop berisi uang.

Lebaran itu “hari uang” bagi bocah-bocah melek “penghasilan” saat berkunjung ke rumah-rumah dan bertemu orang-orang “baik”. Pengalaman memegang dan memiliki uang menjadikan bocah-bocah memiliki kebahagiaan terbedakan dari hari-hari biasa. Mereka mungkin telanjur mengesahkan Lebaran dengan uang.

Kita membuka buku berjudul Duit Lebaran (1994) gubahan Hilman dan Boim. Dulu, ribuan bocah dan remaja ketagihan membaca cerita-cerita Lupus. Kita sengaja memilih cerita bertema Lebaran. Cerita lucu dan seru. Kita mengenang cerita lama sambil mengandaikan bocah-bocah abad XXI tetap bergirang Lebaran gara-gara uang atau duit.

Mami memberi kabar kepada Lupus (10 tahun) dan Lulu (9 tahun). Mami ingin membelikan mereka pakaian baru. Kakak dan adik menerima sebagai kabar baik. Mami pun memberi kabar berbeda: “Kalian berdua pas Lebaran nanti harus ikut Mami-Papi ke rumah Oom dan Tante Jay. Ada kumpul-kumpul di sana. Jadi tak boleh bikin acara sendiri-sendiri.” Lupus dan Lulu tahu jika oom dan tante itu cerewet. Bertemu mereka bisa menimbulkan siksa dan kebosanan.

Lupus membujuk Lulu agar protes bareng kepada Mami: “Emang kamu gak ada rencana sama temen-temen kamu salam-salaman keliling kompleks. Kan bisa dapet duit banyak.” Lulu tak mempan dibujuk. Ia memilih menuruti perintah Mami. Lupus tetap menolak untuk mengikuti perintah. Ia berencana membuat “perlawanan”.
Pada saat Lebaran, Lupus memisahkan diri dari keluarga. Ia menghilang agar bisa bersama teman-teman keliling perumahan. Lupus berharap bisa mendapat uang berlimpah. Ia berani “menolak” ajakan Mami. Tindakan itu bukti kebandelan. Keluarga paham jika Lupus mengikuti kemauan sendiri.

Siang, Lupus pulang ke rumah. Ia mengerti bakal dimarahi. Kesombongan ingin dipamerkan dulu di hadapan Lulu. Lupus menuduh duit Lulu pasti sedikit. Lupus pamer duit diperoleh dari keliling bersama teman-teman. Lulu tak mau kalah: “Lulu ngebuka dompet kecilnya. Lulu mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan dari situ.” Lupus kaget dan terbelalak. Pendapatan Lulu itu sangat besar. Lulu bilang duit itu dikasih Oom dan Tante Jay. Lupus sedih dan kecewa saat Lulu berkata: “Kamu juga sebetulnya tadi mau dikasih, tapi berhubung nggak ada, jadinya nggak jadi.” Tebukti jumlah duit Lupus kalah dari Lulu. Lupus mendapat malu.

Kita diingatkan Lebaran dimengerti bocah-bocah “mata duitan”. Lupus mendefinisikan diri sebagai “pemburu duit” mumpung Lebaran. Ia mengira bersukacita dan panen. Keinginan mendapat duit itu membuat ia berpisah dari acara keluarga. Pada masa sekarang, bocah-bocah tetap mengerti uang meski tanpa harus menjadi Lupus. Mereka dianjurkan tetap bersama keluarga untuk keliling tapi tetap mendapat amplop dan uang. Dompet, saku, atau tas kecil dipersiapkan untuk menampung uang.

Kaum dewasa repot menukarkan uang agar bisa membagi uang secara adil atau merata. Mereka mengukur kepantasan memberi uang 10 ribu, 20 ribu, 50 ribu, atau 100 ribu rupiah. Lembaran-lembaran uang masuk dalam amplop-amplop istimewa, bukan sekadar amplop kecil berwarna putih. Kini, ada polihan warna dan gambar amplop memberi keindahan dalam peristiwa serah-terima uang. Uang menjadi pertimbangan. Amplop menunjukkan selera dan gengsi.

Kita berali ke masa lalu saja, mengenang bocah dan Lebaran. M Kasim menggubah cerita-cerita, 1931-1935. Sekian cerita lucu dan merekam zaman. Kita mendapatkan pengisahan Lebaran saat cerita-cerita itu diterbitkan menjadi buku berjudul Teman Duduk. M Kasim bercerita: “Bagi orang kampung tak ada keriangan jang lebih besar dari pada keriangan waktu pagi hari raja 1 Sawal. Pukul 4 mereka itu sudah bangun, bahkan ada pula jang berdjaga semalam-malaman, menunggu-nunggu hari jang mulia itu.”

 

Di situ, Lebaran makin berarti dengan makanan: kue dan gulai. Orang-orang memang mengadakan makanan-makanan lezat. Bocah-bocah dalam pesta pangan meski mengetahui hasrat dan akibat. Rebutan makanan itu lazim. Makan berlebihan pun biasa terjadi. Bocah-bocah jarang berpikiran konsekuensi dari cara makan dan jumlah makanan. Mereka pun jadi saksi dari nafsu makan. M Kasim mengisahkan: “Meskipun di Gapet seleranja dan titik air liurnja melihat gulai jang enak-enak itu, tetapi sebab malu, ditahannja seleranja dan dipadakannja memakan gulai jang lain, jang kurang enak itu. Dan si Nasib makanlah sekenjang-kenjangnja, memuaskan rakusnja.”

Lebaran itu hari pesta makan. Bocah-bocah tak ingin ketinggalan dalam pesta. Mereka berhak memilih sesuai selera. Keberuntungan sering milik bocah-bocah dalam masalah pangan. Mereka pun bakal mengetahui pelbagai akibat dari makan(an).

Lebaran sering berarti duit dan lezat. Bocah-bocah panen uang. Mereka sadar kelezatan beragam makanan. Lebaran itu “kemenangan”. Lebaran itu hari teindah bagi bocah-bocah. Mereka mengerti Lebaran itu hari dijanjikan dengan penantian panjang. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo