Dark
Light
Dark
Light

Bahaya Tarawih di Saf Belakang

Bahaya Tarawih di Saf Belakang

Tarawih di masjid kampung saya tak pernah kurang dari lima saf. Apalagi kalau malam-malam awal, bisa mencapai 6 -7 saf. Di malam pertengahan bisa surut, hanya 2 atau 3 saf bertahan. Biasanya faktor cuaca, misalnya hujan. Bisa juga jamaah mulai jenuh karena dengkul atau pinggang terasa pegal harus jumpalitan 23 rakaat. Mereka tak menggubris dawuh-dawuh ajengan bahwa Ramadan ladang pahala berlipat-lipat. 

Mendekati lebaran, kembali 7 hingga 8 saf. Itu karena dua hal: orang dari perantauan pulang kampung dan pak ajengan atau pak DKM berbusa-busa melalui pengeras suara menjelang sahur bahwa puasa sebentar lagi finish.

Formasi saf tarawih di masjid kampung saya adalah, empat saf depan diisi makmum paling tua, setengah baya, atau anak muda yang memakai koko dan serban. Dua saf terakhir diisi anak-anak, para remaja, dan pemuda atau orang tua yang berkelakuan seperti remaja. 

Saf depan merupakan paling rapi dan aman. Saf belakang bengkok-bengkok barisannya. Saf depan, kalau melafal amin selepas wa laddzhalin…, mereka hanya terdengar gemeremang saja, seperti tawon hijrah. Sementara saf belakang melafalkannya seperti meneriaki maling kepergok, seolah teriakan amin mereka ingin mengguncang arasy. 

 

Selama berlangsung Tarawih, saf depan tampak khusuk, sedangkan saf belakang penuh main-main, sedikit hiburan, dan berbahaya. Bagiamana tidak, peci bisa hilang dari kepala. Sarung melorot. Pantat ditendang. Barisan kocar-kacir. 

Saat sujud merupakan bagian yang paling berbahaya. Apalagi jika tidak mengenakan celana dalam. Kadang saat kepala menyentuh ubin masjid, itu betis diganjal sapu ijuk atau pemukul beduk. Dan yang paling brengsek adalah menyentil “anu” yang tergantung bebas. Rasanya kesetrum sekujur tubuh. Otomatis kaki menerjang ke belakang seperti kuda liar. Dengan demikian, Tarawih seperti shalat syiddatul khauf saja.

Namun, ketika Tarawih memasuki duduk akhir, saf belakang kembali ikut barisan, seolah-olah mereka pihak yang paling sah mendapatkan ganjaran tertinggi. Lalu, ikut awe salam, melirik kanan-kiri dan mengusap muka dengan wajar seolah dunia tak terjadi apa-apa.

“Hei, anak-anak Tarawih jangan main-main!” seru Pak Ketua DKM.

Ia mungkin merasa bertanggung jawab dan punya otoritas atas kenyamanan makmum lain.

Namun, saf belakang pura-pura mendengarkan dengan muka melengos ke arah berseberangan.

Seruan DKM lumayan ampuh. Beberapa rakaat aman. Namun, rakaat-rakaat selanjutnya, mereka berisik lagi. Terdengar pula cekikian lepas tak bertanggung jawab. Ternyata kepala seorang teman telah dikopiahi celana pendek entah milik orang tua siapa. 

Perlu diketahui, di pojokan masjid waktu dulu, kerap terselip celana kolor orang tua. Bahkan celana dalam entah merek apa, tak tahu ukuran berapa, kadang diselipkan di jendela. 

Teman yang dikopiahi celana dalam, tak terima. Ia ingin membalas dendam. Namun, karena tahu pelakunya lebih tua, ia melampiaskannya kepada yang terdekat saja, yang kalaupun dibalas lagi, ia bisa melawannya. Estapet kolor ke kepala pun terjadi dengan akhir saling melempar-lempar kolor.

"Berisik!" seru Ketua DKM sambil melototi saf belakang. Dia membatalkan shalatnya. 

Telinga saf belakang pun menjadi sasarannya. Tentu saja saf belakang cuma bisa pasrah dan saling menyalahkan.

Seorang anak tak terima telinga dijewer DKM. Ia protes tidak langsung dengan walk out dari Tarawih. Dia keluar sambil menggerutu. Tak lama kemudian terdengar suara beduk dipukul sekerasnya.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abdullah Alawi
Kolomnis, Penulis buku “Pemuda Nahdoh: Sejarah Awal GP Ansor Jawa Barat 1934-1941”


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo