Dark
Light
Dark
Light

Tubuh dan Lebaran

Tubuh dan Lebaran

Di setiap tahun, para pengarang di Indonesia rajin menggubah sastra bertema Lebaran. Kita agak susah mengingat puisi-puisi (paling) mengesankan tentang Lebaran, dari masa ke masa. Orang-orang sastra kadang mengajukan Sitor Situmorang sebagai penggubah puisi terunik mengenai Lebaran. Puisi ditulis bukan oleh penganut agama Islam. Lebaran di Indonesia memang menjadi selebrasi bersama mencipta keramaian, kerukunan, kegembiraan, dan keakraban.

Para kolektor puisi agak lelah membuka majalah, koran, dan buku lama demi menemukan ratusan puisi mengisahkan Lebaran. Kita masih bisa berjumpa puisi gubahan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) berjudul Hari Raya. Orang-orang biasa mengingat puisi-puisi kritik politik atau protes sosial dari Gus Mus. Puisi mengisahkan Lebaran atau Idul Fitri jarang teringat atau mendapat pemaknaan berkelanjutan.

Kita mengutip: Hari terlena sendiri sebelum benar-benar/ Lena semalam oleh gemuruh takbir/ Kemenangan yang hingar-bingar/ Allahu Akbar! Bagi-Nya segala puji! Suasana Lebaran terasakan melalui takbir. Pada malam penuh keagungan, umat melantunkan atau berseru takbir. Iringan musik pun berlaku dan sukacita ditebarkan di muka Bumi dalam keindahan.

 

Gus Mus dalam renungan Lebaran. Ia mengerti hari itu tersaji kegembiraan tapi kesadaran sebagai hamba menimbulkan ralat dan batasan. Gembira tak boleh berlebihan. Lebaran justru menguak kesadaran bertanggung jawab. Gus Mus menulis: Selamat Idul Fitri, mata/ Maafkanlah aku, selama ini/ Kau hanya kugunakan melihat kilau comberan/ Selamat Idul Fitri, telinga/ Maafkanlah aku, selama ini/ Kau hanya kusumpali rongsokan-rongsokan kata/ Selamat Idul Fitri, mulut/ Maafkanlah aku, selama ini/ Kau hanya kujejali dan kubuat memuntahkan/ Onggokan-onggokan kotoran/ Selamat Idul Fitri, kaki/ Maafkanlah aku, selama ini/ Kau hanya kuajak menendang kanan-kiri/ Dan berjalan di lorong-lorong kegelapan/ Selamat Idul Fitri, akal budi/ Maafkanlah aku, selama ini/ Kubiarkan kau terpenjara sendiri/ Selamat Idul Fitri, diri/ Marilah menjadi manusia kembali. Gus Mus bukan sedang memberi pelajaran anatomi. Ia membuat percakapan diri menggunakan tubuh untuk meralat peran dan pemerolehan makna, dari hari ke hari. Lebaran atau Idul Fitri dijadikan penentu keinsafan dan “pengembalian”.

 Puisi memuat repetisi, berharap pembaca makin peka dan mau melakukan pendalaman atas tubuh. Pesan-pesan Lebaran digunakan dalam pemenuhan kebenaran tubuh untuk menunaikan hidup tanpa tersesat, khilaf, sembrono, dan kehinaan. Kita terbiasa dengan ucapan “mohon maaf lahir dan batin” bakal berjarak jika memasuki puisi gubahan Gus Mus. Kita mengandaikan maaf berurusan dengan orang lain. Gus Mus justru mengurusi maaf dalam pembenahan diri.

Pembaca boleh berharap puisi itu dibacakan dalam khotbah Lebaran menggenapi ajakan-ajakan raihan kemenangan dan meralat diri. Di Indonesia, kehadiran puisi belum lazim dalam khotbah. Pengutipan untuk sekian larik atau bait pun sulit terjadi.

Puisi belum laris dalam dakwah meski kita mengetaui buku-buku keagamaan klasik dari pelbagai negeri sering memuat atau mengutip puisi. Buku-buku agama ditulis oleh orang-orang Indonesia masih jarang bercitarasa sastra atau memiliki kandungan sastra. Kita juga tak perlu iri saat umat Islam memiliki ingatan kuat atas lagu ketimbang puisi dalam pengisahan Lebaran.

Lebaran itu cerita mungkin bernasib sama dengan puisi. Pada 2008, terbit buku berjudul Sebelas Colen di Malam Lebaran, berisi cerita-cerita Betawi gubahan Chairil Gibran Ramadhan. Buku bakal merasuk saat terbaca di hari-hari menjelang Lebaran. Di hadapan pembaca, segala cerita berlaku dengan selera Betawi tapi memberi rujukan mengenai ulah, pembahasaan, dan pemaknaan Lebaran.

Kita disuguhi rekaman Lebaran bersuasana mutakhir: “Malam takbiran jatuh malam ini. Maka, sejak lepas maghrib, anak-anak dan pemuda di kampung tempat Mahmud dan istrinya tinggal sudah mulai keluar dari ruman-rumah mereka. Beduk dan tambur dinaikkan ke mobil-mobil bak terbuka; motor-motor dengan dua-tiga orang tanpa helm mengisi penuh tangki; mobil-mobil pribadi dipenuhi suami-istri, anak, keponakan, pembantu, dan sopir. Orang-orang yang kurang beruntung cukup menuju ujung-ujung depan jalan sekadar untuk melihat keramaian. Hawa nafsu tetap meraja. Setan-setan menari dan bersorak lantaran pengikutnya tak berkurang.” Petikan dari cerita berjudul Laron.

Chairil Gibran Ramadhan beranggapan keramaian saat malam itu “berlebihan”, “sia-sia”, dan menimbulkan dosa meski orang-orang mengaku bersukacita untuk Lebaran. Kritik telak diajukan tentang kejadian berkebalikan dengan raihan pahala: “Setan-setan menari dan bersorak lantaran pengikutnya tak berkurang.” Kita mengingat seruan dalam khotbah jika setan-setan dibelenggu selama Ramadhan. Manusia tetap memilih mengikuti godaan setan ketimbang menghindar atau berlindung dengan amal-amal kebaikan.

Di cerita berjudul Perut, pengarang memberi peringatan atas hasrat makan mumpung Lebaran, Cerita mengenai selera dan perut mengingatkan kita dengan renungan Gus Mus terhadap raga dengan segala peran. Raga tetap menjadi perhatian merujuk Lebaran. Chairil Gibran Ramadhan berani memberi tanda seru atas tradisi dan perubahan-perubahan terjadi di Indonesia saat Lebaran.

Kutipan cukup menimbulkan “malu” dan “ralat” agar Lebaran tetap bermakna: “Selama berumahtangga, setiap menyambut Lebaran, Satriyo dan istrinya memang tak pernah membuat kue dan makanan apa-apa. Mereka tak ingin repot-repot. Semua mereka beli jadi di supermarket: nastar, kue salju, kue lidah kucing, biskuit-biskuit. Tak istimewa memang karena semua buatan pabrikan. Maka, di rumah orangtuanyalah ia menemukan keistimewaan itu: kue-kue, makanan-makanan dan masakan-masakan.”

Kita paham Lebaran dijadikan dalil bagi orang-orang berbelanja atau mengesahkan konsumsi. Lebaran mencipta keuntungan besar bagi pabrik dan toko. Rekaman itu berbeda dari kebiasaan orang-orang lama mau repot menggerakkan raga dalam memasak dan mengadakan beragam makanan dicap “tradisional”. Konsumsi berlaku tapi tak seironis kapitalisme hari keagamaan di Indonesia abad XXI.

Puisi gubahan Gus Mus dan cerita-cerita buatan Chairil Gibran Ramadhan itu terbaca oleh sedikit orang menjelang Lebaran. Sastra masih teringat meski kita susah mengukur dampak-dampak sastra dalam Lebaran, dari masa ke masa. Para pembaca puisi dan cerita berhak menentukan sikap saat mengalami Lebaran setelah menemukan ralat dan kritik. Sastra mungkin berdampak “kecil” tapi memberi rujuan agar Lebaran tak berlebihan atau kebablasan menjadi dosa-dosa. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo