Bulan Rabi’ul Awal atau orang Jawa menyebutnya dengan Mulud, boleh saja berakhir, berganti bulan Rabi’ul Akhir. Namun, jika diamati, di beberapa tempat dan komunitas, masih dapat kita lihat semarak bulan tersebut dalam memperingati bulan kelahiran Nabi Muhammad saw, sosok yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi karena akhlaknya yang mulia, membuat banyak orang ingin menyanjung dan memujinya.
Menariknya, bentuk pujian dan apresiasi tersebut diwujudkan dalam karya sastra, seperti syair-syair Burdah yang disusun oleh Imam Bushiri, Al-Barzanji yang ditulis oleh Sayyid Ja’far, Simtuddurar oleh Habib Ali Al-Habsyi dan lain sebagainya.
Di Indonesia, kegiatan serupa kemudian dimodifikasi dalam bungkus budaya lokal. Di Solo, Jawa Tengah, ada acara Sekaten yang menggabungkan (akulturasi) unsur Islam-Jawa. Kemudian juga ada kegiatan bersalawat secara berjemaah yang diprakarsai oleh Jama’ah Muji Rasul (Jamuro). Sementara di daerah lain, Demak misalnya, terdapat acara Grebeg Maulud.
Acara-acara tersebut pada hakikatnya—di samping menjadi simbol kecintaan dan penghormatan kepada Nabi—mengandung unsur penguatan dan semakin memperkaya ragam budaya lokal. Akulturasi yang terjadi dalam Sekaten, antara unsur budaya Jawa-Islam misalnya, semakin memperkaya khazanah kebudayaan yang ada di Indonesia.
Agama dan budaya adalah dua unsur penting dalam masyarakat yang saling mempengaruhi. Ketika ajaran agama masuk dalam sebuah komunitas yang berbudaya, akan terjadi tarik menarik antara kepentingan agama di satu sisi dengan kepentingan budaya di sisi lain. Atas dasar inilah, pemikiran akulturasi Islam dengan budaya lokal dan relasi ajaran agama (Islam) dengan nilai-nilai lokal muncul termasuk di Indonesia.
Ajaran ini juga selaras dengan prinsip kaidah dalam ushul fiqih: al-muhafadhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah. Kaidah yang terdapat dalam kitab Asybah wa al-Nazhair karya Imam Jalaluddin al-Suyuthi ini berarti memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. (Jamal M. Asmani, 2007).
Paradigma ini berpijak pada nilai-nilai keislaman universal yang tumbuh dan berakar kuat dalam tradisi keilmuan seluruh umat Islam tradisionalis, khususnya dalam proses Islamisasi awal di Nusantara yang telah dirintis oleh Walisongo. Dakwah yang dikembangkan oleh para Walisongo menjadi sebuah contoh, bagaimana metode dakwah juga bisa dikemas melalui pendekatan budaya lokal.
Sebagai contoh, Sunan Kalijaga, putra Bupati Tuban, seorang wali yang dapat mendengar desir hati dan lantunan jiwa masyarakatnya. Dalam berdakwah ia menggunakan media wayang purwa yang sangat disukai oleh masyarakat Jawa. Selain itu juga ada Sunan Bonang yang kerap menggunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati masyarakat, antara lain dengan seperangkat gamelan Bonang. Keselarasan budaya dalam agama ternyata juga bisa dibungkus menjadi sesuatu yang menarik.
Islam Indonesia
Proses akulturasi tak lepas dari penyesuaian-penyesuaian (sikap akomodatif) yang dicontohkan oleh ajaran dakwah Walisongo. Ajaran inilah yang kemudian menjadi salah satu inti dari konsep Islam-Indonesia.
Terminologi Islam-Indonesia ini hanyalah sebuah istilah, sebagaimana gagasan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang “Pribumisasi Islam”. Kata Gus Dur, "Arabisasi atau proses mengidentifikasi diri dengan budaya Timur Tengah adalah tercabutnya dari akar budaya kita sendiri. Lebih dari itu, Arabisasi belum tentu cocok dengan kebutuhan..." (Islam Pribumi, 2003).
Konsep ini mengarah pada pembentukan pribadi seorang muslim, yang tidak kehilangan jati-dirinya sebagai bangsa Indonesia. Dalam konsep yang lebih universal, setiap pemeluk agama apa pun, meskipun masing-masing memiliki keyakinan tersendiri, namun agar tidak melupakan fakta bahwa ia adalah bagian dari bangsa Indonesia. Dengan Konsep ini pula, agama Islam tidak hanya sebatas dimaknai pada pemakaian budaya tertentu, dalam hal ini Arab yang menjadi tempat diturunkannya Islam.
Sebagaimana yang disampaikan Ahmad Musthofa Bisri (2014), dalam konsep berpakaian misalnya, Islam tidak mesti identik dengan pakaian jubah. Ini menegaskan bahwa Kanjeng Nabi sangat menghormati tradisi tempat tinggalnya, dengan memakai pakaian Arab. Nabi tidak membikin pakaian sendiri untuk menunjukkan bahwa dia Rasulullah. Lebih lanjut dikatakan oleh kiai yang akrab dengan sapaan Gus Mus itu:
"Seandainya, ini seandainya, kalau Rasulullah itu lahir di Texas, mungkin pake jeans. Makanya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), saya, make pakaian sini (Jawa); pake batik. Ini, ittiba’ Kanjeng Nabi. Ya begini ini, bukan (hanya) pake serban, berjenggot. Itu ittiba’ Abu Jahal juga bisa. Tergantung mukanya. Kalau ingin iitiba’ Kanjeng Nabi, pake serban pake jubah, wajah harus tersenyum."
Fakta lain, yang tak bisa dipungkiri, bahwa kehadiran Islam tersebut dalam setiap konteks tertentu; tak nihil dari muatan-muatan lokal yang mendahului kehadiran Islam. Dalam ungkapan lain, Islam tidak datang ke sebuah tempat, dan di suatu masa yang hampa budaya. Dalam ranah ini, hubungan antara Islam dengan anasis-anasir lokal mengikuti model keberlangsungan (al-namudzat al-tawashuli), ibarat manusia yang turun-temurun lintas generasi, demikian juga hubungan antara Islam dengan muatan-muatan lokal.
Masjid Demak adalah contoh konkrit dari hubungan tersebut. Ranggon atau atap yang berlapis pada masa tersebut diambil dari konsep ‘Meru’ dari masa pra-Islam (Hindu-Budha) yang terdiri dari sembilan susun. Sunan Kalijaga memotongnya menjadi tiga susun saja, hal ini melambangkan tiga tahap keberagamaan seorang muslim; iman, Islam dan ihsan. Pada mulanya, orang baru beriman saja kemudian ia melaksanakan Islam ketika telah menyadari pentingnya syariat. Barulah ia memasuki tingkat yang lebih tinggi lagi (ihsan) dengan jalan mendalami tasawuf, hakikat dan makrifat.
Pada akhirnya, kita bisa menilai tentang indahnya konsep Islam-Indonesia. Islam yang ramah dan tidak merusak tradisi (baik) yang sudah ada. Melalui konsep ini pula kita dapat menjadi seorang muslim yang taat dan santun, tanpa kehilangan identitas kita sebagai bangsa Indonesia.
=============
Liputan ini terbit atas kerja sama Arina.id dengan LTN PBNU dan Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTKI) Kementerian Agama RI.
M Ajie Najmuddin
Pengaji Sejarah NU
Editor: Kendi Setiawan


