Dark
Light
Dark
Light

Amplop di Indonesia: Surat dari Neraka

Amplop di Indonesia: Surat dari Neraka

Kita membaca puisi bukan untuk menemukan kebenaran-kebenaran tak tergugat. Kemauan menikmati puisi justru menjadi pemicu mengerti melalui imajinasi. Di situ, ada bujukan meraih kebenaran meski secuil atau penggalan. Puisi tak bertugas membawakan kebenaran saja. Puisi berhak menghibur dan “mengelabui” agar penemuan kebenaran tak seperti menghadapi teks-teks suci, resmi, dan konstitusi.

Di hadapan puisi gubahan F Rahardi (1989) berjudul “Surat Dari Neraka”, kita mudah tertawa dan termenung. Puisi itu imajinasi tapi memudahkan pembaca mengerti kebenaran-kebenaran terselip dari pengisahan dan pengakuan. Puisi menggunakan model surat. Pembaca puisi bisa berperan sebagai pembaca surat. Surat ditulis istri. Penerima surat itu suami. Mereka di tempat berbeda.

Surat datang dari neraka. Kita tak mengetahui pasti surat tiba di dunia menggunakan jalur kantor pos atau jasa titipan kilat. Surat datang berupa lembaran-lembaran kertas atau dimasukkan dalam amplop? Pembaca sudah termangu dan bingung mengimajinasikan penghuni neraka memiliki waktu menulis surat. Apa penghuni neraka memiliki hak-hak mengabarkan kepada orang-orang masih di dunia? Kita sedang menghadapi puisi, bukan firman atau pengisahan bersumber kitab suci.

Kita ikut membaca: 
mas, neraka itu ternyata tidak panas/ tapi sangat mengecewakan/ aku kecewa/ kecewa sekali// dulu ketika kita masih pacaran/ kubayangkan neraka itu tempat/ yang hiruk pikuk/ penuh dengan setan, roh-roh jahat dan sukma/ yang disiksa/ ditusuk, dibacok, digebuk dan dibakar/ dulu kubayangkan neraka itu sangat ramai/ penuh dengan teriakan, jeritan/ itu lho seperti pada film-film horor/ yang sering kita tonton/ aku senang dengan keributan, kobaran api/ dan sadisme. 

 

Kita membaca surat sambil merenung kebenaran akhirat merujuk ajaran agama terkandung dalam kitab suci dan disampaikan para pendakwah. Surat itu tak boleh lekas dituduh “sesat”. Di situ, kita perlahan menemukan “kebenaran” memberi kesadaran agar pembaca ingat neraka dan surga.   

Surat justru mengandung “lelucon” meski tetap membuat pembaca sadar di dunia itu fana. Penulis surat dari neraka mengungkapkan: 

lupakan saja surat ini/ juga jangan kau ingat-ingat lagi/ diri saya/ kawinlah segera dengan teman sekantormu/ atau dengan tetangga sebelah yang/ ditinggal pergi/ suaminya itu/ dan tolong jangan katakan pada anak-anak/ bahwa aku berada di neraka/ katakan pada mereka/ bahwa ibunya naik surga/ dikawal para malaikat.

Surat diakhiri dengan penantian: “sampai jumpa di sana nanti.” Kita mengimajinasikan lembaran surat itu dimasukkan dalam amplop. Anak-anak tak perlu penasaran atau melakukan tindakan sembrono dengah membuka amplop. Mereka bukan diminta sebagai pembaca.  

Puisi berbeda dengan ceramah. Pada akhir 2024, Menteri Agama Nasarudin Umar berceramah mengandung masalah amplop dan neraka. Ajakan disampaikan kepada pejabat dan pegawai: “menghilangkan tradisi amplop”. Nasarudin Umar paham kebiasaan memberi dan meminta amplop di lingkungan kerja. Ia minta kebiasaan itu dihilangkan dan diharamkan. Amplop dimengerti dalam nalar dan alur korupsi. Tindakan merugikan negara dan mengantar orang berjalan ke neraka. Pembersihan terjadi di neraka. Di sana, penerima amplop tak mendapat kesempatan menulis surat untuk penghuni dunia seperti puisi gubahan Rahardi.

Nasarudin Umar bilang mendingan menggunakan gaji untuk pemenuhan kebutuhan, bukan “amplop-amplop” menandai khianat atas amanah bekerja dan merugikan negara. Ia sedang berceramah tentang korupsi tapi berulang menggunakan istilah amplop. Kita diingatkan amplop bukan berisi lembaran-lembaran surat tapi lembaran-lembaran uang menggiurkan dalam kepentingan naik jabatan, “komitmen”, dan kepalsuan tata krama birokrasi.

Ajakan dan nasihat dari Nasarudin Umar disampaikan dalam kepentingan membersihkan kementerian agama dari amplop-amplop mengisahkan korupsi dan lakon hidup bergelimang haram. Kita sekadar berharap keinginan Nasarudin Umar terwujus meski kita sempat kepikiran amplop-amplop mungkin telah berlaku sejak masa lalu. Kita sulit membantak lakon Orde Baru telah “membenarkan” dan menjadikan amplop melanda Indonesia.

Pada 1993, KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) sudah mengingatkan meski bukan dalam posisi sebagai pejabat atau menteri agama. Gus Mus tetap menjadi ulama dan seniman, berhak memberi peringatan dan nasihat. Puisi disodorkan agar terbaca dengan beragam tafsir ketimbang ceramah di mimbar. Gus Mus menggubah puisi untuk dokumentasi keamburadulan Indonesia. Amplop menimbulkan rusak dan hancur tapi “dimaklumi” dan dianggap “tradisi”.  

Gus Mus menulis:

Amplop-amplop di negeri amplop/ Mengatur dengan teratur/ Hal-hal yang tak teratur menjadi teratur/ Hal-hal yang teratur menjadi tak teratur/ Memutuskan putusan yang tak putus/ Membatalkan putusan yang sudah putus/ Amplop-amplop menguasai penguasa/ Dan mengendalikan orang-orang biasa/ Amplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan/ Mencairkan dan membekukan/ Orang bicara bisa bisu/ Orang mendengar bisa tuli/ Orang alim bisa nafsu/ Orang sakti bisa mati.

Larik-larik itu reprensentasi Orde Baru. Kita bisa mengecap Orde Baru itu “orde amplop”. Tradisi terus lestari meski rezim Orde Baru telah ambruk (1998). Kini, kita mengerti kehendak Nasarudin Umar agar “amplop-amplop” jangan menodai kerja dan pengabdian di kementerian agama.

Pada masa lalu, puisi itu mengandung keberanian. Gus Mus sedih dan muak dengan “pesta amplop” tergelar di Indonesia. Amplop menentukan lakon kekuasaan dan mengecoh gagasan negara kesejahteraan. Indonesia membusuk dengan amplop-amplop. Kita mengetahui isi amplop itu uang, bukan surat asmara. Di akhir puisi, Gus Mus mengingatkan: Di negeri amplop/ Amplop-amplop mengamplopi/ apa saja dan siapa saja.

Kita tetap bisa menempatkan puisi gubahan Gus Mus dalam birokrasi Indonesia mutakhir. Amplop belum sirna. Kita berharap Nasarudin Umar dapat membuktikan “kebersihan” amplop di kementerian agama. Bukti itu bisa menulis ke pelbagai kementerian atau tebar pengaruh sampai DPR, MK, Kejaksaan Agung, Polri, TNI, dan lain-lain. Di pengertian berbeda, “amplop” kadang bukan benda kasat mata berupa kertas berwarna putih atau coklat. Tata cara berbeda bisa dilakukan dengan tajuk transfer di rekening tapi merujuk tradisi “amplop” telah tercipta sejak lama di Indonesia. Begitu.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo