Di perkembangan sastra, para pengarang pernah bikin “onar” dengan penulisan piuisi-puisi cap “mbeling”. Konon, mereka sedang mengadakan perlawanan atas sastra “mapan” dan kekuasaan. Puisi-puisi dimunculkan berbarengan kegirangan para pembaca menikmati novel-novel pop. Situasi itu turut berpengaruh dalam babak awal pembentukan dan penguatan rezim Orde Baru. Di impian terbesar pembangunan nasional, suguhan teks sastra atau puisi “mbeling” cukup mengganggu dan menjewer.
Pada 1972, Remy Sylado menggubah puisi berjudul Seorang Prajurit Memulai Korupsi Dengan Sumpritan Seharga Rp200. Kita berimajinasi masa lalu saat publik lazim memberi sebutan: prajurit atau tentara. Pada masa 1970-an, para tentara sudah berperan besar dalam arus kekuasaan dan bisnis. Mereka tak sekadar bersenjata. Gereget para penentu Orde Baru direkam oleh Remy Sylado: satu prit/ jigo// empat prit/ cepek// delapan prit/ kembali pokok. Kita berimajinasi benda dan uang. Puisi pendek meminta tawa menautkan kejadian dan pemaknaan merujuk militer masa lalu.
Puisi digubah Remy Sylado pada 1984 teringat saat militer menjadi berita besar di Timor Timur. Rezim Soeharto menempatkan militer di sana atas nama integrasi. Gegeran sulit rampung tapi tentara terus membuktikan tanggung jawab. Militerisme makin membesar di Indonesia. Remy Sylado melalui puisi berjudul Komandan Jawa Batak Manado mengajak kita tertawa dan prihatin.
Puisi menguak persaingan atas nama persatuan dan kesatuan di naungan Orde Baru. Kita membaca sambil belajar “keragaman” merasuk dalam militer. Remy Sylado mengisahkan: Sebelum berangkat ke Timor Timur/ tiga orang komandan berbeda suku/ memuji prajurit sukunya paling patuh/ paling sapta marga paling Pancasila. Konon, pengiriman tentara ke Timor Timur demi kehormatan Indonesia di mata dunia. Soeharto ingin memastikan Timor Timur itu bagian Indonesia dan masuk peta Indonesia.
Pembaca tak terlalu kaget: Komandan Jawa menyuruth prajurit Jawa/ “Ayo terjun ke dalam aspal mendidih itu”/ Prajurit Jawa langsung tegak memberi hormat/ “Siap komandan, dilaksanakan”/ Prajurit Jawa memuji sikap prajuritnya/ “Nah, lihatlah prajurit Jawa itu/ paling patuh pada perintah atasan.” Kita lekas mengingat masa Orde Baru bertajuk kepatuhan dan ketertiban. Di kalangan tentara, patuh itu dibuktikan meski berakibat mati. Kepatuhan mutlak di militer mirip dengan tatanan politik bertuan Soeharto.
Perbandingan diajukan di bait ketiga: Komandan Batak menyuruh prajurit Batak/ “Ayo terjun ke dalam aspal mendidih itu”/ Prajurit Batak langsung terkejut dan bimbang/ “Yang betul sajalah kau komandan/ apa tak salah perintahmu itu?/ Tapi prajurit Batak terjun juga dan mati/ Komandan Batak memuji sikap prajuritnya/ “Nah, prajuritku patuh dan punya nalar/ masih berusaha mericek perintah komandan.” Pembaca disadarkan perbedaan derajat kepatuhan. Remy Sylado tak sedang berkelakar. Ia “serius” dalam mengamati lakon militer di Indonesia biasa berlanjut di jenjang politik.
Di pengisahan berbeda, Rahardi (1987) menulis tentara di Timor Timur. Ia berbeda corak pengisahan dari Remy Sylado. Timor Timur, tempat adu kepentingan pelbagai negara. Indonesia ingin menang dan terhormat melalui peran para tentara atau ABRI. Perbedaan nasib tokoh-tokoh beda negara: Seorang gadis Portugis menangis/ air matanya tumpah di jalanan/ debu menggumpal/ batu pecah, retak-retak dan berdarah// Seorang wartawan Australia tertawa/ kameranya batuk-batuk/ meludah dan pingsan di halaman gereja// Seorang tentara Indonesia measuk angin/ lalu mencret dan muntah-muntah/ bedil-bedil yang dipeluknya/ menggigil, pusing/ dan ikut memuntahkan pelurunya. Kita berimajinasi Timor Timur itu kematian dan kerumitan politik mendapat perhatian dunia.
Di Syair Sang Lapar, Rahardi (1975) mengisahkan tentara dalam gejolak-gejolak politik. Para mahasiswa biasa menggelar demonstrasi dan mengadakan gugatan atas kekuasaan. Soeharto memberi perintah agar tentara melakukan penertiban. Tentara dalam keramaian politik. Rahardi menulis: para mahasiswa gaduh/ para tentara tertib barisannya/ para mahasiwa keluar dari kampus/ dan tentara-tentara pergi dari tangsi. Situasi dilematis melanda Indonesia, Tentara kadang akrab atau renggang dengan mahasiswa berdasarkan situasi politik.
Rahardi memberi ingatan tentang tentara tak selalu bernasib baik dan panen keuntungan. Prihatin pun milik tentara. Rahardi mengungkapkan: mahasiswa-mahasiswa melarat, tentara-tentara/ tidak berpangkat/ konon/ mahasiswa-mahasiswa melarat dan/ tentara-tentara yang tidak berpangkat/ sama-sama ribut dan gugup/ tatkala terlibat dan berurusan dengan/ sang lapar. Nasib tak untung dimiliki bersama tapi posisi mereka berbeda. Mahasiswa mengaku memiliki hak berpendapat dan menginginkan kebebasan dalam demokrasi. Para tentara menunaikan misi-misi berdasarkan perintah penguasa. Mereka biasa berhadapan tapi lapar mengesahkan hidup di negara belum sejahtera.
Pada masa Soeharto berkuasa, ketakutan-ketakutan diciptakan agar orang-orang sugkan menggugat atau melawan. Rezim itu ditakuti meski perlawanan-perlawanan tetap terjadi demi demokratisasi. Siasat mencipta tertib dan patuh kadang berbalik dengan menimbulkan ketakutan ditanggungkan pemerintah. Ketakutan itu sering bersumber kaum komunis merujuk malapetaka 1965.
Di puisi berjudul Dalang, Rahardi (1989) berani mendokumentasi ketakutan rezim Orde Baru terhadap gerakan-gerakan perlawanan. Bencana (alam) saja membuat penguasa takut dan mengadakan pemberantasan melalui ABRI. Ketakutan “berlebihan” memicu pembuatan ketakutan-ketakutan dialami publik. Rahardi menulis: Gempa dahsyat ini pasti sudah berhasil disusupi/ ekstrim kiri maupun kanan dan/ sudah merupakan sebuah/ tindakan subversif/ angkatan bersenjata berjanji akan segera/ mengambil langkah-langkah tegas/ untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Senjata ikut membuat Indonesia “stabil” dan gerakan “pembersihan” diwujudkan secara cepat.
Kita terus mengingat lakon tentara masa Orde Baru dengan menghadirkan puisi berjudul “Abriku” gubahan KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus (1995). Kita makin mengerti para pengarang rajin mengisahkan tentara. Puisi-puisi itu rekaman bagi kita saat ingin turut berpendapat lakon tentara dalam rezim Prabowo-Gibran. Kini, debat atau gegeran bertema tentara terus membesar memungkinkan kemunculan puisi-puisi baru.
Pada masa Orde Baru, dwifungsi ABRI menjadi perhatian dengan segala pujian dan cacian. Harold Crouch menjelaskan: “Istilah dwifungsi ABRI baru digunakan secara luas sejak berdirinya Orde Baru. Sebelum 1966, istilah itu tidak atau jarang terdengar.” Kita diingatkan dengan kemunculan dan dampak istilah. Pada 1990-an, dampak makin besar meski ikut bermasalah dalam keruntuhan rezim Orde Baru (1998).
Di lakon pembesaran Orde Baru, dwifungsi ABRI dianggap penting atas nama pembangunan nasional. Harold Crouch mencatat siasat rezim Orde Baru: “Dalam usahanya untuk melegitimasikan suatu sistena agar para perwira militer memainkan peran yang dominan, ABRI pun mengemukakan doktrin dwifungsi. Ditegaskan bahwa tentara Indonesia berbeda dengan tentara di negara-negara lain karena di Indonesia tentara mempunyai misi khusus.” Kita mash ingat tanggung jawab tentara di bidang militer. Pada masa Orde Baru, mereka pun dalam roman besar bertajuk partisipasi di bidang ipoleksosbud.
Puisi dari Gus Mus bisa menjadi referensi bertanda seru bagi kita. Gus Mus mengingatkan: Abriku bukanlah hantu berwajah seram/ untuk menakut-nakuti anak nakal/ yang tak mau diam/ Abriku bukanlah cowboy/ yang suka menghabiskan peluru/ dan menembakkan tuduhan-tuduhan/ agar orang ketakutan… Abriku bukanlah serdadu/ yang hanya bangga dengan senjata di bahu/ dan kegagahan yang kaku. Gus Mus melakukan pengamatan, dituliskan dalam larik-larik.
Ia tak sanggup merekam semua. Pengalaman dan pengakuan publik dalam amatan tentant tentara menjadi asupan untuk mengerti nasib Indonesia. Gus Mus berseru: Abriku bukanlah tukang pukul/ yang disewa pihak yang menang/ agar aman berbuat sewenang-wenang. Kita mengandaikan larik-larik Gus Mus pernah dibaca para tentara. Seruan agar terjadi pembuktian pengabdian dan tanggung jawab dalam militer, tak perlu kebablasan ikut dalam politik dan kerja-kerja lain.
Di tatanan politik menekan dan mencipta ketakutan-ketakutan, Gus Mus berharap para tentara menentukan sikap manusiawi. Kegagahan mereka bisa berdampak baik saat mengutamakan kemanusiaan. Pesan dari Gus Mus: Abriku adalah/ saudara yang tak pernah lupa menyapa/ ketika banyak yang lain seperti tak peduli/ terhadap keterasingan sesamanya/ yang siap mengulurkan tangan tanpa diminta. Gus Mus berusaha agar opini publik tak selalu mencatat dan mengingat kerja-kerja tentara itu negatif atau bernafsu politik.
Puisi-puisi mengisahkan tentara itu berlatar masa Orde Baru. Pada masa sekarang, kita mungkin menemukan persamaan dan perbedaan meski jalinan militer dan politik tampak makin menguat. Protes bermunculan meski belum mengikutkan puisi-puisi. Penjelasan-penjelasan resmi dari TNI, DPR, dan pemerintah masih belum genap dan kokoh dalam argumentasi. Kita menanti terang sambil menikmati puisi-puisi lama bertokoh tentara. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan


