Kita masih menantikan pembuatan dan penerbitan buku mungkin diberi judul “Kitab Omong”. Buku memuat omongan-omongan Gus Dur dalam berita, wawancara, atau diskusi. Ratusan kutipan bisa diperoleh untuk disusun beragam topik atau berdasarkan waktu.
Tulisan-tulisan Gus Dur sudah sering terbit dengan beragam judul. Kita ingin mendapat dokumentasi bersumber lisan atau salinan dari omongan dituliskan di koran dan majalah. Di hadapan buku masih ditunggu, kita merasa kata-kata terdengar meski terbaca. Susunan kata atau pembuatan kalimat tak harus sesuai kaidah dan tata bahasa baku.
Di majalah Tempo, 8 Desember 1984, dimuat berita berjudul “NU: Menuju Islam Indonesia”. Berita mengenai Muktamar NU di Situbondo. Di situ, kita menemukan kutipan dari omongan Cak Dur atau Gus Dur: “… kami juga akan memproses lebih jauh formulasi keislaman di Indonesia yang seharusnya kayak apa. Dalam hal ini, agama memiliki fungsi transformator yang harus diletakkan dalam konteks integrasi nasional. Dengan kata lain, NU akan lebih menekankan Islam yang keindonesiaan. Islam yang lebih menekankan pada integrasi nasional.”
Ia mengomongkan NU tapi sadar bersentuhan situasi politik di Indonesia. Pada masa 1980-an, orang-orang melihat hubungan “tegang” antara Soeharto dan NU atau Soeharto dan Abdurrahman Wahid. Omongan mengenai NU, Islam, dan Indonesia itu perlu dimasukkan dalam buku diangankan terbit berjudul “Kitab Omong”.
Kita kadang membaca ragu gara-gara wartawan tak menulis omongan secara tepat dalam tulisan. Kalimat itu bernada tapi di hadapan kita huruf-huruf cetak. Pembaca mengandaikan berada di dekat pemberi omongan. Kalimat itu pasti berkaitan tampilan wajah, gerak mulut, posisi tubuh, pilihan busana, situasi, dan lain-lain. Kalimat di Tempo kita imajinasikan diomongkan secara santai.
Perbedaan tampak bila kita membuka majalah Tiara, 3 Juli 1994. Pemuatan hasil wawancara dengan Gus Dur dilengkapi sekian foto hitam-putih. Kita cukup ikut “hadir” menikmati jawaban atau omongan Gus Dur. Kita mengutip kalimat dari wartawan: “Sampai hari ini nama Anda tetap disebut sebagai calon Ketua Umum PPP.” Gus Dur memberi jawab enteng: “Saya nggak kepingin. Karena apa? Karena tugas saya di NU lebih menarik.” Kita menafsir: NU itu penting ketimbang PPP. Kita wajib mengingat latar Orde Baru.
Wartawan itu berucap lagi: “Bukan karena sudah telanjur menjadi kader Golkar?” Kalimat cukup memberi sulit bagi penjawab. Gus Dur tampak memberi omongan (agak) serius: “Nggak! Golkar saya itu Golkar gitu-gitu aja. Ya karena semuanya Golkar, ya Golkarlah. Golkar! Golongan fungsional itu lho waktu saya jadi anggotanya, ada Cak Nur.”
Omongan-omongan Gus Dur itu belum terlalu mengejutkan. Kita beruntung masih bertemu halaman-halaman di majalah Tiara. Ada kata-kata tercantum hasil dari wawancara memberi ingatan mengejutkan mengenai Gus Dur. Wartawan itu mengatakan penuh godaan: “Kalau diisukan seperti dulu, anda dicalonkan sebagai presiden, bagaimana?”
Jawaban wajib masuk “Kitab Omong” bila ada tim mengumpulkan dan menebitkan. Gus Dur mengatakan: “Siapa? Saya? (Gus Dur menunjuk dirinya) Presiden? Ya, President Taxi-lah! Orang kayak saya kok masih ada yang mau mencalonkan sebagai presiden. Ketawa saya.” Gus Dur memberi lelucon mengenai keinginan pihak-pihak mencalonkan ia sebagai presiden. Dua kata di akhir mungkin doa meski menghibur: “Ketawa saya”. Pada suatu masa, orang-orang “ketawa” gara-gara takjub membuktikan Gus Dur sebagai presiden.
Kita tentu tak meninggalkan omongan-omongan mencipta tawa hebat. Wartawan terus memberi bujukan mengerikan: “Maksudnya, Gus Dur orang Jawa, Islam, bisa diterima kanan-kiri, atas-bawah dan tengah?” Kita menagandaikan wawancara tak sekadar direkam dalam kaset pita tapi ada gambar-gambar bergerak.
Omongan Gus Dur menghasilkan tawa: “Ya, kalau begitu yang paling bagus adalah Tarsan.” Ia diajak omong politik tapi malah menggeser ke dunia lawak. “Tarsan mana?” kata wartawan. Gus Dur berucap gamblang: “Ya, Tarsan anggota Srimulat. Asmuni itu bisa. Kan diterima kanan-kiri.” Wartawan itu tak membiarkan kalimat sekadar kalimat dari mulut. Ia memberi deskripsi: “Tawa berderai-derai dari mulut Gus Dur pun meledaklah.
Kita tinggalkan dua majalah lama memuat kutipan omongan Gus Dur. Omongan-omongan memicu tawa. Omongan bukan sembarangan dan picisan. Kita menganggap omongan itu turut dalam menggerakkan sejarah (politik) di Indonesia. Kita membuka buku berjudul Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman (1999). Jakob Oetama memberi pengantar, berbagi pengalaman: “Tiga minggu lalu, saya menemui Gus Dur di kantor PBNU di Jalan Kramat Raya. Kali ini saya dipersilakan masuk langsung ke ruang kerjanya. Suasana sepi tamu karena kebetulan hari Minggu. Gus Dur, kini, Yang Mulia Presiden Republik Indonesia, ditemani seorang muda yang oleh tuan rumah diperkenalkan sebagai kiai.” Perjumpaan itu pasti disempurnakan tertawa. Kita sulit berimajinasi “bos besar” di Kompas itu omong-omong dan tertawa.
Kesaksian diberikan oleh Jakob Oetama, sosok santun dan bergairah membesarkan pers di Indonesia: “Bersama kiai muda itu, Gus Dur makan kacang rebus dari kantong koran bekas. Pasti kacang itu dibeli di tepi jalan, seperti jajanan rakyat umumnya. Saya spontan berkomentar: ‘Kalau anda menjadi Presiden, sikap dan gaya kerakyatan itu, agar dipertahankan’.” Jakob Oetama tak memberi keterangan nama koran untuk bungkus kacang rebus. Kita iri dengan mereka dalam obrolan ditemani kacang rebus dan diselingi tawa. Kita belum beruntung. Jakob Oetama mengutip omongan sendiri, belum mengutip omongan Gus Dur.
Kita masih harus melacak majalah dan koran lama agar menemukan kutipan dari omongan-omongan Gus Dur beragam tema. Melacak sambil bernostalgia tentang Indonesia dan tertawa. Kita kangen Indonesia tertawa, bukan Indonesia berisi orang-orang mengumbar kata untuk saling menghina, menghancurkan, dan memfitnah. Orang-orang mungkin tak lagi terlalu tegang bila ada pihak mau membuat dan menerbitkan “Kitab Omong” untuk kembali mencari kebijaksanaan dan hiburan bersumber Gus Dur. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


