Dark
Light
Dark
Light

Sepakbola di antara Novel dan Munajat Malam Lebaran

Sepakbola di antara Novel dan Munajat Malam Lebaran

Pada dini hari, suara takbir masih terdengar dari masjid. Takbiran dengan pengeras suara. Dini hari tak sepi. Orang-orang tidur berpengharapan bangun menjelang subuh. Sekian orang masih takbiran. Dini hari mengesahkan “hari kemenangan” atau Idulfitri: 10 April 2024.

Televisi-televisi hidup. Orang-orang di depan televisi sedang “beribadah” sepakbola. Mereka melek untuk Liga Champions (Eropa). Kaum balbalan berlebaran dengan “doa-doa” agar klub-klub jagoan menang: Arsenal, Bayern Munchen, Real Madrid, dan Manchester City. Dini hari berisik gara-gara siaran pertandingan sepakbola. Takbiran beriringan balbalan. 

Di Indonesia, para penonton itu mengerti menit-menit menjelang subuh. Mereka pun berharap kemenangan. Duduk di depan televisi, mereka berdebar, berteriak, melongo, bingung, dan bimbang. Kaum balbalan ingin bahagia sebelum shalat subuh dan bergerak ke lapangan untuk turut shalat Idulfitri. 

Pada “hari kemenangan”, para penonton justru menjadik saksi imbang. Dua pertandingan imbang: Arsenal (2)-Bayern Munchen (2) dan Real Madrid (3)-Manchester City (3). Mereka belajar memahami “menang” dan “imbang”. Menang dalam pengertian religius setelah menunaikan ibadah berpuasa selama Ramadhan. Imbang itu membikin sebal dan memperpanjang pengharapan. Usaha belajar “menang” dan “imbang” sebelum matahari terbit.

Belajar belum selesai. Kita ingin mengenang sepakbola (lagi) dengan membaca novel lama. Pada “hari kemenangan”, orang itu membuka novel berjudul Sengsara Membawa Nikmat (1929) gubahan Tulis St Sati. Kaum lawasan pernah menikmati sinetron diangkat dari novel. Mereka mengingat tokoh bernama Midun.

Novel merekam balbalan atau sepakraga. Pada masa berbeda, kita menerima sebutan sepakbola. Di halaman-halaman awal, suasana dan kejadian dimunculkan hampir berbarengan. Kita membaca: “Dalam sebuah surau, di tepi sungai yang melalui kampung itu, kedengaran orang berkasidah. Suaranya amat merdu, turun-naik dengan beraturan. Apalagi karena suara itu dirintangi bunyi air sungai yang mengalir, makin enak dan sedap pada pendengaran. Seakan-akan dari dalam sungai suara itu datangnya. Hilang-hilang timbul antara ada dengan tiada.” Latar waktu: petang cerah.

Petang itu memiliki kejadian ramai di pasar. Tulis St Sati mengisahkan: “Orang sudah banyak di pasar, di sana-sini kelihatan orang duduk berkelompok-kelompok. Orang yang akan menonton permainan sepakraga pun sudah banyak pula datang. Anak-anak sudah berlarian ke sana kemari, mencari tempat yang baik untuk menonton…” Suasana berbeda dari surau saat petang cerah.

Kegembiraan dan kemenangan ingin dibuktikan dengan pertandingan sepakraga. Petikan dari novel mengingatkan sepakraga sudah digemari sejak seabad silam. Kita berimajinasi permainan itu disempurnakan sorak, doa, tawa, dan lain-lain. Adegan dalam novel: “Ketika bola tinggi melambung, ia memandang ke atas serta menganjur langkah ke belakang. Maksudnya akan mencari alamat, dan hendak melompat sambil menyepak raga, tetapi celaka! Ketika ia akan menyepak, kakinya yang sebelah kiri tergelincir lalu…” Pertandingan biasa menimbulkan hiburan dan ketegangan. Pasar itu makin seru.

Balbalan atau sepakraga dalam novel. Kita berhadapan dengan kalimat-kalimat, berbeda pengalaman atau kesan saat menonton siaran pertandingan sepakbola di televisi: Real Madrid-Manchester City. Enam gol dalam pertandingan penuh gairah. Dua klub itu ingin memang. Selama pertandingan adegan keras dan menghibur bergantian. Di stadion, para penonton terbiasa bertepuk tangan dan bersenandung. Di novel gubahan Tulis St Sati, balbalan menjadi pembuka cerita agar pembaca bisa “merasakan” sengsara dan nikmat untuk urusan-urusan serius dalam hidup.

Pada saat Idulfitri, orang membaca Sengsara Membawa Nikmat mungkin salah pilih buku. Pembaca bakal mudah bersedih dan menangis. Novel lawas mengajukan imajinasi asmara dan adat mengajak kecengengan. Pembaca beruntung masih mendapat cuilan mengenai sepakraga meski mengharuskan berimajinasi jauh ke belakang. 

Novel susah dibaca kaum muda abad XX. Novel bercap jauh dari selera asmara mutakhir. Kita masih beruntung mendapatkan novel dari masa 1920-an. Novel sebagai rekaman zaman. Kita sekadar mengingat sepakraga sudah memikat dalam lakon kehidupan di tanah jajahan. Dulu, orang-orang bermain dan menonton tanpa “teater kemegahan” seperti masa sekarang.

Sepakraga mengawali pengisahan asmara dalam novel lama. Pada masa berbeda, kita membaca puisi berjudul “Sepakbola” gubahan Acep Zamzam Noor (2005). Kita membaca mencampur haru dan kagum. Imajinasi sepakbola dalam puisi itu berbeda citarasa dari novel lama. Acep Zamzam Noor menulis: Di usianya yang ke-45, kata-kata yang pernah dirangkainya/ Terus bergema di rongga dada, memukul-mukul iga/ Di antara batuk dan asma: “Aku mencitaimu/ Seperti mencintai Inne Ratu, dulu/ Ketika merasa tak ada masalah dengan waktu.” Kita merasa sedang memasuki alam-batin asmara. 

Pada bait terakhir, kita justru menuju sepakbola itu sepi. Asmara, waktu, dan tempat berkaitan sepakbola. Kita membaca: Waktu adalah gelanggang olahraga, nampaknya:/ Banyak lapangan, banyak permainan, tapi selalu berujung/ Pada kalah dan menang. Kemudian lelaki itu berjalan, sendiri/ Ke arah stadion, melewati jalan yang remang/ Ia bermain sepakbola melawan sepi. Akhir itu mengejutkan dengan kutukan sepi. Sepakbola bukan keramaian. Sepakbola justru pergolakan perasaan. 

Novel lama dan puisi itu mengesankan sepak bola dan kaum lelaki. Pada 1983, kita disuguhi puisi menghadirkan (sepak) bola dalam pandangan perempuan. Puisi itu berjudul “Bola” gubahan Ida Ayu Galuhpethak (1983). Puisi mengandung protes dan kelucuan. Kita mengutip: Aku tertawa terpingkal-pingkal/ ketika kubaca selembar koran/ Kaumku sedang bermain bola/ padahal aku benci bola/ Karena bola selalu menggelinding/ dari satu kaki laki-laki ke satu kaki laki-laki lain. Kita dibujuk mengartikan sepakbola dalam jalinan lelaki dan perempuan. Bola bisa menjadi simbol atau referensi untuk mengetahui kemenangan dan kekalahan ditanggungkan perempuan di hadapan lelaki. 

Kaum balbalan mungkin menghindari protes-protes dalam puisi berjudul “Bola”. Mereka memilih untuk terus menonton sepakbola di lapangan atau stadion. Di depan televisi, mereka pun menjadi penonton tapi terbatasi ukuran dan kenikmatan. Pada “hari kemenangan” mereka menjadi penonton di depan televisi. Kabar kemenangan tak ada. Imbang memberi penantian sekian hari lagi untuk memastikan kemenangan bakal diraih Arsenal, Bayern Munchen, Real Madrid, atau Manchester City. Kita menanti untuk pertandingan seru sambil membuka lagi novel dan puisi pernah dipersembahkan para pengarang di Indonesia, dari masa ke masa. Begitu. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo