24 Februari 2022, Rusia resmi menyerang Ukraina. Perang terbuka antarkedua negara pun tidak bisa dihindari. Negara barat, para anggota NATO mengecam Rusia atas tindakannya tersebut. Mereka menyebut tingkah Rusia sebagai invasi. Sedangkan Rusia mengatakan bahwa aksi yang mereka lakukan bukanlah invasi, melainkan operasi militer. Apa pun istilah yang dipakai, faktanya serbuan Rusia ke Ukraina telah memantik perang fisik terbesar di Eropa pasca Perang Dunia II.
Tindakan Rusia yang menyerbu Ukraina memantik badai hujatan dan sanksi dari berbagai negara. Amerika Serikat dan sekutunya misalnya, mereka menjatuhkan sanksi ekonomi yang membuat perekonomian Rusia terganggu. Mereka juga melarang penerbangan seluruh maskapai Rusia melintasi langit mereka. Indonesia pun termasuk yang mengecam aksi Rusia di Ukraina.
Selain disanksi dan dihujat banyak negara, Rusia juga dihukum oleh berbagai lembaga dunia non-negara, seperti induk sepakbola dunia (FIFA) dan induk sepakbola Eropa (UEFA). Keduanya mencoret Rusia dari seluruh kompetisi yang melibatkan mereka di dalamnya. Hal demikian dimaksudkan sebagai bentuk solidaritas terhadap krisis kemanusiaan di Ukraina. Tindakan FIFA dan UEFA diikuti pula oleh sebagian besar pemain dan klub-klub di Eropa. Mereka secara terbuka menyatakan dukungan terhadap Ukraina. Salah satu bentuk dukungan terhadap Ukraina ini terlihat di beberapa liga besar Eropa, seperti La Liga Spanyol dan Premier League Inggris, dengan memasang bendera Ukraina di layar kaca selama pertandingan berlangsung.
Sikap demikian tentu saja sesuatu yang terpuji. Mengutuk perang memang perlu dilakukan karena yang paling terdampak perang adalah orang-orang yang tidak bersalah. Namun sayangnya, sikap negara-negara barat dan para lembaga dunia ini tidak berlaku dalam konteks perang Israel-Palestina baru-baru ini. Jangankan memberi sanksi ekonomi kepada Israel, kecaman terhadap Israel pun tidak keluar dari mulut pemimpin negara-negara barat. Mereka malah mengecam milisi Palestina karena dianggap menyerang Israel secara brutal. Negara-negara barat lupa bahwa selama ini Israel juga sering menyerbu Palestina dengan brutal hingga mengorbankan penduduk sipil. Tindakan brutal Israel tidak pernah dikutuk apalagi membuat Israel disanksi oleh barat. Negara-negara barat justru mendukung Israel dan menganggap milisi Palestina sebagai teroris.
FIFA dan UEFA yang di konflik Rusia-Ukraina juga agresif merespons keadaan, tidak menjatuhkan sanksi apa pun kepada Israel yang beberapa waktu terakhir membombardir Gaza. Klub-klub di Eropa pun sebagian besarnya tidak merilis kecaman terhadap konflik yang sedang berlangsung. Solidaritas terhadap keadaan di Palestina justru malah muncul di kalangan supporter beberapa klub besar Eropa. Hal ini terlihat dari aksi pendukung Glasgow Celtic yang mengibarkan bendera Palestina ketika pertandingan menghadapi Kilmarnock (7/10/23), atau fans Liverpool yang membentangkan bendera Palestina dalam pertandingan melawan Everton (21/10/23), walaupun akhirnya harus diturunkan oleh steward.
Solidaritas terhadap Palestina juga tidak muncul secara masif di kalangan para pemain. Hal ini berbeda ketika konflik Rusia-Ukraina meletus. Kala itu, banyak pemain sepakbola yang menunjukkan keprihatinannya terhadap situasi Ukraina di media sosial. Tapi kini untuk kasus Palestina, keadaan tersebut malah bertolak belakang. Tidak banyak pemain yang speak up mengenai keberpihakannya terkait perang Israel-Palestina. Mereka yang secara terbuka bersikap atas perang tersebut justru malah dipecat oleh klubnya, seperti yang terjadi pada pemain asal Maroko, Anwar El Ghazi yang bermain untuk klub Jerman Mainz 05. El Ghazi dipecat setelah menyebut Israel melakukan genosida lewat postingan di akun media sosialnya.
Pemecatan semacam ini tidak dialami pemain Ukraina yang kini memperkuat Arsenal Oleksandr Zinchenko. Ketika awal konflik Rusia-Ukraina mengemuka, Zinchenko secara terbuka mengekspresikan kecamannya terhadap Rusia di media sosial. Tindakan Zinchenko bukannya melahirkan pemecatan seperti El Ghazi, tapi justru memantik simpati dan dukungan. Padahal, keduanya sama-sama mengungkapkan pendapat yang topiknya serupa, yaitu kecaman terhadap perang dan perilaku anti kemanusiaan. Tapi mengapa nasib keduanya berbeda?
Standar Ganda Barat
Perbedaan nasib yang dialami El Ghazi dan Zinchenko menggambarkan bagaimana standar ganda barat terhadap konflik Israel-Palestina bekerja. Standar ganda semacam ini sudah berlangsung sejak lama. Salah satu contoh bagaimana standar ganda negara barat terwujud nyata terlihat ketika perang Rusia-Ukraina berlangsung. Dalam perang tersebut, negara-negara barat mengecam keras. Mereka mengutuk Rusia karena menyerbu Ukraina. Namun anehnya, kecaman ini tidak mereka lakukan saat Amerika menginvasi Irak hanya demi tuduhan yang tidak terbukti 2003 lalu. Amerika menuduh Irak memiliki senjata pemusnah massal. Tuduhan ini sampai nanti pasukan Amerika ditarik dari Irak tidak pernah terbukti. Senjata pemusnah massal yang diyakini Amerika ada di Irak ternyata tidak pernah ditemukan. Amerika tidak memberi pertanggungjawaban apa pun kepada masyarakat Irak yang negerinya hancur dan hidupnya menjadi sengsara. Amerika bersikukuh menganggap tindakannya menyerang Irak sebagai sesuatu yang benar.
Negara-negara yang mengecam Rusia tidak pernah memberi sanksi ekonomi atas tindakan Amerika di Irak. Mereka juga tidak melarang maskapai penerbangan Amerika untuk wira-wiri di langit mereka. FIFA dan CONCACAF (Federasi Sepakbola Amerika Tengah dan Utara) pun tidak pernah mencoret Amerika dalam seluruh kejuaraan yang mereka ikuti. Barat diam seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Tapi, ketika Rusia menyerbu Ukraina, negara barat berlomba-lomba mengecam dan memberi sanksi. Padahal dulu mereka diam saja ketika Amerika menyerbu Irak.
Noam Chomsky dalam Pirates and Emperors (2017), menggambarkan sebuah ilustrasi yang dapat dipakai untuk melihat bagaimana standar ganda barat bekerja untuk konflik Rusia-Ukraina. Chomsky mengutip cerita Santo Agustinus tentang seorang bajak laut yang ditangkap oleh Kaisar Alexander Agung. Menurut cerita, ketika si bajak laut ditangkap, Sang Kaisar mengajukan pertanyaan, “Kenapa kamu mengganggu keamanan di perairan ini?” Bajak laut yang marah menjawab pertanyaan itu, “Hanya karena menyerang dengan kapal kecil, saya disebut perompak, sementara kamu yang mengobarkan perang dengan armada laut yang hebat disebut sebagai kaisar.”
Kisah ini menggambarkan dengan tepat apa yang dilakukan negara barat dan berbagai lembaga dunia lain terhadap konflik Rusia-Ukraina. Hanya karena Rusia menyerbu Ukraina, Rusia dihujat dan dianggap sebagai teroris. Sedangkan negara barat yang selama ini mengobarkan perang di Asia dan Afrika malah dianggap bak pahlawan.
Negara-negara barat lupa bahwa rekam jejak mereka selama ini sebenarnya sama saja dengan Rusia yang mereka hujat itu. Mereka berlagak seperti kaisar yang tiba-tiba kehilangan daya ingat bahwa bajak laut terbesar di lautan sebenarnya adalah dirinya sendiri. Namun dengan tanpa rasa malu, mereka mencerca Rusia atas serangannya ke Ukraina, seakan-akan Rusia adalah pihak yang paling salah dan berdosa. Inilah wajah peradaban barat yang penuh standar ganda.
Kini standar ganda kembali terjadi untuk konflik Israel-Palestina. Negara-negara yang sebelumnya mengutuk Rusia diam terhadap kekejaman Israel di Palestina. Mereka justru malah mendukung tindakan Israel. Dukungan ini kalau ditelusuri memang sudah terjalin lama. Sejak dulu negara barat sebagian besarnya selalu mendukung Israel dalam konfliknya dengan Palestina. Itulah sebabnya mengapa dukungan moril maupun materil dari negara-negara barat kepada Israel dalam perang melawan Palestina selalu mengalir. Sebrutal dan sekeji apapun tindakan Israel di Palestina, negara-negara barat pasti selalu punya alasan untuk membenarkan tindakan tersebut, entah dengan tuduhan bahwa yang diserang Israel adalah teroris, atau aksi yang dilakukan Israel sebagai upaya bela diri karena diserang terlebih dahulu oleh Palestina.
Dari situ tidak aneh jika ketika konflik Rusia-Ukraina negara barat dan berbagai lembaga dunia hampir seluruhnya bersolidaritas, tapi untuk konflik Israel-Palestina mereka malah diam seribu bahasa. Negara barat memainkan standar ganda untuk dirinya sendiri. Untuk kasus Rusia-Ukraina, standar yang dipakai adalah kekejaman perang. Tapi untuk konflik Israel-Palestina, narasi yang digunakan ialah perang terhadap kriminal dan teroris. Narasi demikianlah yang mewarnai sebagian besar media massa barat dalam melihat perang Israel-Palestina beberapa waktu terakhir.
Benturan Peradaban
Standar ganda barat tidak muncul begitu saja dari langit. Hal itu muncul sebagai hasil dialektika peradaban barat dengan peradaban lain, seperti timur dan Islam. Peradaban barat menganggap dirinya sebagai peradaban yang unggul daripada dua peradaban ini. Perasaan unggul itu kemudian melahirkan perasaan superior dihadapan peradaban di luar barat. Superioritas tersebut nantinya mendorong munculnya stereotyping terhadap berbagai peradaban di luar barat yang nilai-nilainya dianggap berbeda.
Samuel Huntington dalam Benturan antar Peradaban (1996), menyebut kalau peradaban timur dan Islam memiliki nilai-nilai yang bertentangan dengan semangat universal peradaban barat, seperti demokrasi, kebebasan, dan HAM. Karena dianggap bertentangan, Huntington memprediksi bahwa perbedaan nilai tersebut bakal melahirkan benturan peradaban. Kondisi ini tidak bisa dihindarkan karena setelah Uni Soviet runtuh sebagai kekuatan komunis dunia, saingan peradaban barat bagi Huntington adalah timur yang diwakili oleh China dan Islam.
Huntington memprediksi bahwa timur dan Islam ke depannya akan menyaingi sekaligus mengancam eksistensi barat sebagai peradaban. Prediksi Huntington ini pada kenyataannya kini mulai terbukti. China sebagai salah satu representasi peradaban timur sukses menjadi kekuatan ekonomi dan politik dominan di dunia. China merupakan kompetitor utama negara-negara barat dalam perang dagang sekaligus perang pengaruh di seluruh dunia. Selain itu, dugaan bahwa Islam akan berbenturan dengan barat juga sedikit ada benarnya walaupun hal itu masih problematis. Pasalnya, pasca Uni Soviet runtuh justru pecah berbagai konflik fisik antara dunia Islam dengan barat seperti yang terjadi di Timur Tengah. Barat menganggap peradaban Islam sebagai peradaban tertinggal yang nilai-nilainya bersebrangan dengan barat. Peradaban Islam dinilai tidak kompatibel dengan semangat kebebasan, kesetaraan, demokrasi, atau keadilan yang menjadi pondasi peradaban barat.
Anggapan semacam ini diakui atau tidak berdampak pada bagaimana barat bersikap terhadap timur dan Islam. Pembelaan negara-negara barat atas tindakan keji Israel di Palestina menunjukkan keadaan tersebut. Israel tetap dibela meskipun bukti-bukti telah sangat gamblang memperlihatkan bagaimana aksi Israel yang telah keluar dari batas kemanusiaan di Palestina. Pembelaan terhadap Israel lahir selain karena faktor kepentingan politik, juga dipengaruhi oleh penilaian sepihak barat terhadap dunia Islam yang dianggap tertinggal dan terbelakang. Itulah sebabnya mengapa barat selalu menuduh pejuang Palestina sebagai teroris tiap ada upaya perlawanan balik terhadap Israel. Barat tidak akan peduli dengan latar sejarah dan kondisi obyektif yang melatarbelakangi perang Israel-Palestina. Selama konflik Israel-Palestina belum berakhir, selama itu pula barat akan menganggap Palestina sebagai kelompok yang salah.
Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).
Editor: Muhammad Zunus


