Arina.id —Namanya, Wardoyo. Orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Pak Badut. Sebagai koster atau pelayan, setiap harinya dia membersihkan tiap jengkal gereja. Tak ada yang terlewat. Lain waktu, dia juga menyiapkan makanan dan minuman untuk jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Pedan, Banaran.
Namun saat adzan berkumandang, dia segera bergegas menuju Masjid Al-Muslim, yang letaknya hanya sepelemparan batu dari gereja itu. Setelah salat dia pun kembali ke gereja untuk menuntaskan pekerjaannya.
Rutinitas itu pula yang kemudian membuat orang mencandainya. “Anda kan kerja di gereja, mengapa tidak pergi (ritual) ke gereja saja?” Jawaban Pak Badut? “Saya kan sudah setiap hari masuk gereja. Lha, Anda yang Kristen malah pergi ke gereja hanya seminggu sekali,” ujarnya sambil terkekeh.
Gelak tawa pun pecah. Semua pun tahu itu hanya candaan juga sekaligus menunjukkan potret kedekatan antar umat beragama yang terjaga secara alami. Perbedaan keyakinan tidak menjadikan interaksi sosial berhenti justru menjadi penguat untuk saling gotong royong dalam kerja-kerja kemanusiaan seperti dicontohkan Pak Badut. Dia telah membantu memakmurkan gereja, tempat saudaranya beribadah.
Potret kehangatan lain dicontohkan oleh Pendeta Krisapndaru. Dia selalu melakukan dialog lintas agama dengan masyarakat, baik di tempat-tempat seminar atau di tempat makan seperti di warung angkringan.
Sambil menikmati hangatnya kopi dan teh, nasi bandeng, nasi bakar, sate usus ayam, sate telur puyuh, sate koyor, kepala ayam, tahu-tempe bacem, bakwan dan berbagai makanan kecil lain, bersama warga dia berbaur. Di saat lain, sang pendeta pun ikut berjaga malam dan bergabung dengan warga di pos ronda. Guyub, tanpa sekat.
Seperti itulah keberagaman yang terjadi di Banaran, Klaten, Jawa Tengah. Kehangatan antar umat beragama yang sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Hal itu bisa dilihat dengan berdirinya dua tempat ibadah di sana, yakni Masjid Al-Islam berdiri sekitar 1840 dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Pedan berdiri sekitar 1932.
Sejak dibangunnya dua tempat ibadah tersebut tidak ada gesekan konflik. Warga desa berkomitmen saling menjaga persaudaraan di antara mereka. Kehidupan agama dan sosial warga Banaran berjalan harmonis.
Masyarakat muslim tetap rutin menjalankan ibadah di Masjid Al-Islam. Sedangkan jemaat Kristen juga menjalankan ibadahnya seperti biasanya. Mereka beribadah sesuai keyakinan masing-masing secara nyaman dan khusuk.
Semisalnya terjadi perayaan yang waktu bersamaan, misalnya ketika hari besar Islam (Idulfitri dan Iduladha) jatuh pada hari Minggu, kegiatan kebaktian di gereja diundur. Warga Banaran menempatkan perbedaan bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai perekat untuk saling menghormati dan memahami.
Laku toleransi lain tergambar dalam aksi kemanusiaan para pemuda. Berkali-kali remaja masjid dan gereja melakukan bakti sosial dan gelaran donor darah. Bagi pemuda Banaran perbedaan keyakinan bukanlah penghambat untuk menciptakan keharmonisan sosial.
Rifai, 30 tahun, salah satu pemuda setempat, menuturkan bahwa aksi kemanuisaan dan fenomena masjid dan gereja berdampingan adalah sebuah manifestasi toleransi nyata antarumat beragama di kampung halamannya. Menurutnya, perbedaan keyakinan dirayakan secara damai dan dirawat bersama.
“Yang saya rasakan toleransi di sini adalah adanya kerukunan sosial yang tinggi karena warga masyarakat saling menghormati dan mau hidup rukun satu sama lain. Tiap momen lebaran misalnya masyarakat mengadakan posko mudik lintas agama,” jelasnya.
Semua itu adalah buah dari perjalanan anak-anak muda yang sudah akrab dalam perbedaan. Mereka bersekolah di sekolah yang sama, yakni SMK Kristen yang berdiri pada 1969. Di sekolah itu banyak murid yang beragama Islam. Saat Dzuhur, mereka menjalankan ibadah shalat di masjid Al-Islam. Toleransi sangat kuat terbangun pada anak muda.
Di Banaran, toleransi dirawat bersama. Kehangatan di antara mereka menyajikan sebuah keteduhan dan kedamaian yang terus terjaga. Di kampung ini, secara alami toleransi dirayakan sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur dalam masyarakat yang menginginkan kedamaian, kesetaraan, dan kemanusiaan.
Agus Wedi
Penikmat kajian sosial dan Keagamaan
Editor: Fajar WH


