Di lembah pegunungan beratap dingin, tiga agama—Hindu, Kristen, dan Islam—hidup harmonis. Lembah itu berada di Desa Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Di sana, di kaki Gunung Lawu itu, tiga tempat ibadah agama ini saling menempel dalam satu petak tanah yang sempit.
Di sebelah barat ada Masjid Al-Mu’min, berdiri sekitar tahun 1980. Gereja Sidang Jamaat Allah (GSJA) Pancaran Berkat berada tepat di sebelah timur, berdiri sepuluh tahun kemudian. Sedangkan si bungsu Pura Argha Bhadra Dharma—didirikan pada 2013, tepat berada di sisi utara. Ada satu lagi sebenarnya, yakni tempat ibadah kepercayaan lokal, Punden. Di tengah empat tempat agama itu berdiri bangunan kantor Desa Ngargoyoso.
Kepala Desa saat itu, Sri Hartato adalah sosok yang memiliki ide untuk membangun kompleks tempat ibadah tersebut. Tujuannya adalah untuk mengakomodasi kepentingan umat beragama di sana. Setelah semua tempat agama berdiri, hidup rukun juga terpatri dalam diri masyarakat di sana.
Adapun motor penggerak kerukunan adalah tiga perempuan. Mereka adalah Endang dari pihak Hindu; Parsi dari pihak Kristen, dan Sulami dari Islam. Menurut Endang, kehidupan sosial dan keagamaan di Ngargoyoso telah lama terjalin damai. "Di sini meski agamanya beda-beda tetap aman, tetap damai. Tidak ada permusuhan," kata Endang sambil menikmati secangkir teh hangat.
Bagi masyarakat di sana, kehidupan keagamaan milik masing-masing pribadi. Namun, untuk kehidupan sosial adalah milik semua agama. Katakanlah seperti perayaan ulang tahun desa, acara pernikahan, kebersihan lingkungan, dan acara hari besar nasional. Saat itu mereka berbaur. Tak ada lagi sekat perbedaan agama di antara mereka.
Di saat lain pun, mereka kerap berkumpul bersama. Salah satunya bermain gamelan. "Hiburan gamelan ini cara kami untuk merekatkan hubungan antar pemuda, antar agama,” katanya. Saat bertemu dengan Endang, halaman rumahnya memang dipenuhi banyak orang. Sebuah panggung yang dihiasi dengan asri, berdiri disana. Di bagian dalam rumah menyebar wangi-wangian dupa.
Endang adalah tokoh pengayom perempuan Hindu. Setiap ada acara keagamaan, dia selalu tampil. Perempuan ini juga yang mengorkestrasi, membuat konsep untuk acara-acara keagamaan dan juga dalam pencarian dana. Dia jugalah yang memediasi ketika ada masalah-masalah.
Meski menjadi tokoh Hindu namun anak dan cucunya justru beragama Islam. Di rumahnya hanya dia dan suaminya yang memeluk agama hindu. Endang memang memberi keleluasaan kepada keluarganya untuk memilih jalan sendiri dalam berkeyakinan.
"Anak-anakku beragama Islam. Meski aku neneknya ini Hindu, tapi aku nggak jadi masalah. Yang penting dalam rumah tangga itu hidupnya rukun. Ini cucuku Islam, namanya Ganesa,” sahutnya sambil menggendong Ganesha. Nama itu diberikan dengan harapan cucunya hidup dalam kebijaksanaan.
Kisah Bu Endang ini menggambarkan kedewasaan dalam beragama. "Di dalam agama saya diajarkan, ‘Tat Twam Asi’ dan ‘Tri Hita Karana’, yaitu mengajarkan kehidupan untuk saling menciptakan keamanan, kenyamanan, serta hidup sejahtera antara sesama manusia,” terangnya.
Kompak Menjaga Kerukunan
Cerita Endang tak berbeda jauh dengan Parsi--Srikandi lain di Ngargoyoso. Salah satu pengurus atau tokoh agama Kristen Protestan di Ngargoyoso ini merasakan indahnya sebuah toleransi di kampung halamannya itu. Bersama Sulami, istri kepala desa, langkah kaki keduanya menjadi ringan untuk menghadirkan merawat keharmonisan sosial di Ngargoyoso.
Sebagai contoh, ketika ada longsor, mereka sama-sama gerak cepat memobilisasi umatnya untuk bergotong royong membantu membereskan longsoran. Mereka yang memastikan bahwa longsor betul-betul bisa diatasi.
Endang dengan FORHIN (Forum Remaja Hindu Ngargoyoso) bersama 135 kepala keluarga pemeluk Hindu diajak untuk senantiasa memaksimalkan membantu sesama. Begitu juga Parsi, bersama 34 jemaat Kristen, serta Bu Sulami dengan komunitas muslimnya saling gotong royong.
Bersama Tiga Srikandi ini pula warga Ngargoyoso kompak menjaga dan berbagi kerukunan. Misalnya ketika perayaan Jum’at Agung, jemaat Kristen menggeser perayaan pada pagi hari. Ini dilakukan demi toleransi kepada Muslim untuk salat Jumat. “Menggeser waktu seperti ini hal mudah bagi kami. Ini sudah ada kesepakatan sejak dulu,” ujar Parsi.
Sementara pemeluk Hindu sering menggelar sembahyang di waktu malam. "Kami biasa berbagi waktu, kayak ibadah Galungan, Saraswati, Nyepi, biasa kami lakukan ketika malam. Biar sama-sama enak,” ungkap Endang.
Sedangkan umat Islam, selalu memberi ruang hangat untuk agama Hindu dan Kristen dalam segala lini. Di semua peribadahan Hindu dan Kristen, umat Islam menyertai dan membantu. Tak terkecuali berbagi tempat untuk acara keagamaan.
“Islam kan mayoritas. Sudah sepantasnya saling toleran dan merangkul. Kami diajarkan untuk saling menjaga satu sama lain. Semuanya sudah menjadi keluarga,” kata Sulami.
Sampai sekarang tiga perempuan ini terus menebar harmoni di Ngargoyoso. Mereka tak henti berkomunikasi dan menjembatani untuk hal-hal penting seperti kerukunan dan toleransi di sana. Termasuk dengan membangun komunikasi lintas kelompok dan lintas iman, seperti dengan Sekar Ayu, Janur Lawu, dan Komunitas Rotan di Ngargoyoso.
Saat meyelenggarakan acara besar keagamaan, mereka saling mengundang sehingga tercipta suasana kompak, guyub, dan rukun. Hasilnya, bibit kerukunan yang mereka rawat membuat bunga toleransi bermekaran di Ngargoyoso. Mereka menjaganya sepenuh hati. Menyuburkannya dengan tindakan tali kasih dan saling menghormati.
Sejak duhulu hingga kini Desa Ngargoyoso tidak ada catatan konflik dalam pengelolaan keagamaan dalam tiga agama tersebut. Kementerian Agama pun menganugerahi Ngargoyoso sebagai Desa Sadar Kerukunan.
=============
Liputan ini terbit atas kerja sama Arina.id dengan LTN PBNU dan Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTKI) Kementerian Agama RI.
Agus Wedi
Penikmat kajian sosial dan Keagamaan
Editor: Kendi Setiawan


