Malam ini kudengar takbir menggema di mana-mana. Ini malam iduladha. Di kampung-kampung, desa, dan di kota orang bersiap berhari raya. Tapi di sana—ribuan kilometer dari sini—di Makkah, jutaan jamaah haji bergerak dari kota sucii menuju padang tandus Arafah, sekitar 21 kilometer dari Ka'bah. Inilah inti dari seluruh rangkaian haji. Puncak ibadah itu justru terjadi di luar Ka'bah.
Sejak kita kecil Ka'bah ditanamkan sebagai pusat suci. Di sana kiblat ditetapkan. Di sana Ibrahim menancapkan fondasi ketaatan, dan Nabi Muhammad SAW memulai risalahnya. Kita mencium Hajar Aswad, bertawaf, menatapnya dengan linangan air mata. Rangkaian haji seperti thawaf, sa'i, dan umrah dilakukan di sekitar Ka'bah. Semua khidmat sakral karena Ka'bah pusat suci, kiblat, rumah Tuhan. Tak salah bila mengira puncak inti haji di sekitar Ka'bah.
Tapi setelah itu justru perintah-Nya tak terduga. Jamaah diminta meninggalkan Ka'bah menuju Arafah. "Al-ḥajju ‘Arafah," sabda Nabi. Haji itu Arafah.
Yang juga menakjubkanku, Arafah bukan hanya nilai spiritualnya tetapi menjadi saksi eksodus terbesar manusia.
Arafah tadinya padang sunyi. Dalam hitungan jam menjadi lautan manusia—jutaan jiwa berkumpul di satu titik, dalam satu waktu, memanggil satu nama. Empat jam kemudian kembali sunyi. Tak ada jejak keramaian. Hanya angin dan debu.
Ini lebih dahsyat dari eksodus Musa membawa Yahudi, yang oleh sejarah disebut eksodus terbesar manusia. Tapi Arafah melampauinya tanpa tongkat, tanpa laut terbelah, hanya oleh komitmen waktu dan kesadaran bersama.
Mungkin, di situlah rahasianya.
Di Ka’bah manusia menemukan kiblat. Tapi di Arafah, manusia kehilangan segalanya kecuali harapan. Di sana Tuhan seolah berbisik: ‘Masihkah kau mencinta-Ku saat tak ada lagi yang bisa kau genggam kecuali Aku?’”
Tidak ada bangunan. Tak ada keramaian kota, hanya pasir dan langit. Tidak ada peninggalan Ibrahim. Tidak ada jejak panjang Nabi. Tidak ada mihrab. Tidak ada sumur ajaib, tidak pula bukit Safa Marwa yang membangkitkan naluri keibuan. Arafah juga bukan pusat peradaban Islam.
Tapi justru di tempat seperti itulah—kosong dan sunyi—manusia diminta berdiri, menengadah, dan menangis. Di sana simbol runtuh. Yang tersisa hanya engkau dan Tuhanmu.
Menjauhi Ka'bah bukan meninggalkan kesucian, tapi melampaui bentuk menuju hakikat. Tuhan bukan hanya di antara tembok suci, tapi juga di lembah sunyi. Bahkan justru di tempat seperti itulah kehadiran-Nya paling terasa, karena tak ada lagi yang bisa disandari selain Dia.
Dan ketika kembali ke Ka'bah sedari Arafah, jamaah haji telah menjadi pribadi lain. Bukan sebagai peziarah yang terpukau bentuk tapi hamba yang merasakan kehadiran-Nya di balik bentuk.
Mungkin memang begitu cara Tuhan mendidik kita. Mula-mula dengan arah, kemudian merasa terarah, dan tiba-tiba kehilangan arah. Terbanting jatuh bangun hingga lenyap ego dan kesombongan, agar saat bertemu dengan-Nya yang tersisa hanya satu: ketundukan total.
Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM.
Editor: Fajar WH


