Dark
Light
Dark
Light

Khotimah Komunitas Teman Tuli Jombang: Toleransi Menerima Mereka yang Punya Keistimewaan

Khotimah Komunitas Teman Tuli Jombang: Toleransi Menerima Mereka yang Punya Keistimewaan

Sebagai insan ciptaan Tuhan, teman tuli setara dengan teman dengar. Namun, stigma terhadap tuli sebagai kelompok minoritas masih ditemukan. 

Kehidupan teman tuli di Jombang tidak atau belum baik-baik saja. Mereka belum mendapatkan hak, pekerjaan, dan hak untuk pendidikan yang layak. 

Tidak mau menyerah pada keadaan, Khotimah mengajak teman tuli di Jombang untuk berjuang. Ia menginisiasi wadah bernama Koratul—sebuah komunitas yang terdiri dari 90 persen anggota tuli mengkampanyekan bahasa isyarat menyatukan perbedaan.

Pada 2016, di sudut kota Jombang, Jawa Timur, tepatnya di Desa Watugaluh Kecamatan Diwek, Khotimah (45) memulai mengumpulkan teman tuli. Mengajak beberapa kawan nya untuk menyuarakan kesetaraan dan memperjuangkan hak-hak teman tuli.

Sebagai pendamping komunitas tuli, ia menjadi perantara antara teman tuli dengan orang biasa yang tidak memahami komunikasi dengan mereka (teman tuli). 

Awal komunikasi dengan Teman Tuli, ia mengaku cukup kesulitan lantaran tak pernah menempuh pendidikan bahasa isyarat. Ia mempelajarinya secara otodidak melalui interaksi sehari-hari yang dilakukan teman-teman tuli. 

“Di Jombang, berbeda dengan daerah lain. Kita punya bahasa isyarat yang menjadi kesepakatan bersama,” ujar Khotim, sapaan akrabnya.

Komunitas Koratul, terbuka bagi umum tanpa membedakan  latar belakang agama atau keyakinan. Komunitas ini bukan hanya wadah bagi mereka yang tuli saja tetapi juga platform untuk bersama mempelajari bahasa isyarat dan mengadvokasi hak-hak teman disabilitas.

“Kami welcome untuk siapa saja, kami tidak mendiskriminasi tentang keyakinan,” ujar Khotimah. 

Sebagai penghubung antara komunitas tuli dan masyarakat umum, Khotimah tak henti-hentinya memperjuangkan aksesibilitas bagi teman-teman tuli, terutama dalam hal layanan publik. 

“Kapan hari kami dihubungi teman yang sedang melakukan penelitian untuk tesisnya tentang hukum bagaimana teman tuli melakukan ijab kabul. Itu kan harus ada bahasa isyaratnya sementara instansi pemerintah di Jombang belum menyediakan. Jadi kami membantu mereka dengan menghadirkan teman-teman tuli dari komunitas di Jombang,” kata Dia. 

Khotim menyayangkan banyak layanan publik yang belum ramah disabilitas. Misalnya pengguna jalan trotoar yang harusnya untuk akses jalan teman disabilitas justru dipenuhi para pedagang kaki lima.

"Waktu itu teman disabilitas bilang 'Iya sudah enggak papa, mereka kan juga sedang mencari rezeki." Aku terpukul mendengar jawaban teman disabilitas. Mereka bisa tolerir tapi kita yang normal tidak bisa," kata Khotim.

Ia pun bersama teman komunitasnya pernah meminta agar pelayanan di Masjid Agung Jombang, ramah disabilitas. Setelah advokasi yang panjang, akhirnya masjid tersebut mulai menyediakan fasilitas bagi teman-teman tuli.

Inisiatif itu berawal ketika dirinya bersama Teman Tuli menghadiri kegiatan Gusdurian yang di dalamnya melibatkan teman Tuli untuk aktif berinteraksi lewat bahasa isyarat.

Khotim kagum lantaran hal itu  masih jarang ditemukan di berbagai institusi di Jombang. “Tidak semua instansi ada bahasa isyaratnya padahal teman-teman tuli butuh. Itu sebabnya kami terus mengadvokasi hak-hak mereka kepada pemerintah,” tuturnya. 

Khotimah menyadari perjuangan advokasi tidak berhenti pada hak mengakses ruang publik tetapi perlu mendobrak prasangka sosial yang  beranggapan teman tuli  tidak bisa berkontribusi. 

“Sebenarnya teman tuli punya potensi luar biasa  makanya ketika saya menjadi relawan saya suarakan itu. Ketika saya ikut acara fatayat NU, saya bawa dan kenalkan teman-teman tuli,” kata dia. 

Khotim dalam berbagai forum selalu mengajak agar tidak melihat perbedaan agama atau kemampuan fisik seseorang dalam berinteraksi.

Katanya "Toleransi bukan hanya pada mereka yang beda agama, tetapi juga tentang penerimaan pada mereka yang memiliki keistimewaan."

Ia tidak hanya fokus pada sosialisasi bahasa isyarat tetapi juga memperjuangkan hak-hak teman-teman disabilitas mulai dari perlindungan dari kekerasan seksual, pendampingan terhadap korban.

Dengan menggandeng lembaga seperti WCC (Women Crisis Center), Khotimah berusaha memberikan dukungan yang mereka butuhkan. 

Komunitas Koratul yang ia dirikan berkembang lebih dari sekadar sosialisasi bahasa isyarat. Setiap Sabtu malam Koratul mengadakan kegiatan rutin, seperti bermain angklung. Meski tidak mendengar, teman-teman tuli menguasai alat musik yang menggunakan bambu itu.

Khotimah juga kerap tampil membacakan puisi bersama para penyair di Jombang. Menurutnya “Kami bersuara lewat karya, mengimplementasikan ilmu dan kesenangan lewat komunitas,” ucap Khotimah, yang percaya bahwa berbagi ilmu adalah salah satu cara terbaik untuk tetap bermanfaat bagi sesama.

Khotimah berharap, ketika ia tidak lagi ada di dunia, banyak orang yang akan mengingat dan mendoakannya. “Saya ingin bermanfaat untuk sekeliling saya,” ujarnya. 

Melalui berbagai komunitas dan upayanya, Khotimah telah menjadi sosok inspiratif yang berjuang untuk kesetaraan dan hak-hak  disabilitas di Jombang. Selain itu, Khotim juga menggerakan literasi melalui  Waru Squad, wadah literasi anak-anak di desanya.

 

=============   
Liputan ini terbit atas kerja sama Arina.id dengan LTN PBNU dan Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTKI) Kementerian Agama.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo