Dark
Light
Dark
Light

Ziarah ke Makam Kartini; Perjalanan dan Kenangan

Ziarah ke Makam Kartini; Perjalanan dan Kenangan

Saya dan Satrio, sahabat saya melakukan perjalanan paling tidak masuk akal sepanjang hidup. Kami mengendarai sepeda motor kurang lebih 300 kilometer dalam waktu 18 jam.

Tujuan ekspedisi panjang itu kami khususkan untuk mengunjungi makam RA Kartini yang berada di Rembanag. Keberangkatan dimulai Senin 12 Agustus 2024 pukul 06.00 dan berakhir Selasa 13 Agustus 2024 pukul 13 01.30 WIB. Tercatat beberapa daerah yang kami lewati: Surakarta, Karanganyar, Sragen, Blora, Rembang, Pati, Kudus, Demak, Semarang, Salatiga, Boyolali, dan Sukoharjo.

Pinggang rasanya mau copot dan badan seperti hampir mati kedinginan bertarung dengan angin malam. Tidak terpikirkan sebelumnya bahwa perjalanan itu akan begitu melelahkan.

Tapi, meski memakan banyak tenaga, saya tidak menyesal sama sekali. Capek terbayar lunas ketika melihat makam RA Kartini dengan tatapan langsung. Perasaan bahagia, haru, dan bangga rasanya membanjiri tubuh, mengusir segala rasa letih. Tentu, juga karena  sahabat yang membersamai yang selalu punya stok guyonan tak terbatas.

Kartini, bagi saya adalah sosok spesial. Lama sekali saya menantikan kunjungan ke makamnya. 'Pertemuan' kami bermula ketika saya membaca kumpulan suratnya dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang untuk tugas penelitian akhir. Saya merasa menemukan sosoknya lewat teks. Perempuan cerdas, teguh, pengasih, penyayang, humoris, dan spiritualis itu membuat saya kagum tidak berkesudahan. Kartini, perempuan yang hidup dalam cengkraman kolonialisme, budaya patriarki, dan feodalisme itu mengajarkan arti perjuangan dalam situasi sulit.

Kebahagiaan terasa berlipat, setelah keesokan harinya, saya mengenang perjalanan kemarin. Ziarah ke makam Kartini, sepertinya tidak hanya membawa saya pada romantika kerinduan, tapi juga pada banyak kisah.

Pagi hari, di awal keberangkatan kemarin, saya melihat rombongan anak-anak sekolah memenuhi jalan. Mereka berpakaian rapi dari atas kepala hingga kaki, persis seperti militer. Saya jadi teringat pada buku Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela (1981) gubahan Tetsuko Kuroyanagi.

Dalam buku itu dikisahkan sekolah Tomoe Gsayaen tidak memperbolehkan para murid memakai seragam apalagi pakaian bagus. Mr Kobayashi, kepala sekolah tersebut, justru membuat kebijakan anak-anak mesti mengenakan pakaian yang sudah lusuh ketika pergi ke sekolah. Baginya, seragam hanya akan mempersulit gerak anak untuk melsayakan banyak eksplorasi dengan lingkungannya. Saya pikir ada benarnya. Mungkin desain baju seperti kemeja dan celana dasar, lalu topi, dasi, tali pinggang, kaos kaki, dan Sepatu itu membuat anak justru lebih pasif untuk bergerak.

Sore hari, banyak daerah di kota dan desa terlewati. Saya menatap banyak sekolah dan rumah. Saya temukan kontras yang cukup mencolok. Di wilayah perkotaan, sekolah menjulang begitu tinggi dan berwarna-warni berhiaskan banyak ornamen. Di desa, saya jumpai bangunan sekolah yang usang dengan cat terkelupas digenapi lapangan tanah. Saya menduga, perbedaan itu menginformasikan jurang kualitas pendidikan yang diterima anak-anak. Saya pikir, pengambil kebijakan masih menganaktirikan kebutuhan desa. Kota masih  dijadikan anak emas. Akses pendidikan bagi masyarakat desa masih menyentuh batas pesimis.

Tatapan akan sekolah antara desa dan kota memilukan. Tapi, dalam bayangan rumah, desa lebih sedap untuk dipandang. Di kota, rumah bersemen dan berpagar. Saya jarang menemukan pintu-pintu terbuka. Orang-orang hidup seperti menuju budaya individualis. Di desa, rumah tanpa pagar, pintu terbuka, dan terhampar halaman. Anak-anak bermain di sisi rumah, para ibu duduk bersama saling bercakap sekaligus bekerja, merajut benang sekaligus kebudayaan. Berjalan di Novel (2024) gubahan Kabut juga merekam pengertian rumah dalam desa: "Di sini tak ada rumah terkunci pintunya, siang ataupun malam. Di sini pintu bukanlah untuk menolak manusia, tapi menahan angin." Cerita soal rumah dalam naungan desa lebih kaya ketimbang kota.

Malam harinya, kami berhenti sejenak untuk istirahat. Sebuah gubuk di pinggir jalan menjadi pilihan. Kami memesan nasi lele dua porsi. Penjualnya seorang ibudengan dua anak kecil. Di depan meja kami, di sebuah kursi cukup besar, dua anak itu tertidur pulas berselimut tumpukan kain. Ibu itu bolak-balik membetulkan selimut anak-anaknya diselingi melayani pembeli. Belakangan, ketika akan pergi, saya baru sadar kalau ia sedang hamil besar. Di mana suami ibu ini? Kenapa anak-anaknya harus dibawa kerja di pinggir jalan yang dingin dan bising seperti ini? Beragam pertanyaan menari di dalam kepalsaya.

Sejenak pikiran saya kembali pada Kartini. Cita-citanya untuk mendorong perempuan Indonesia menjadi cerdas dan berdaya justru saya temukan dalam sosok ibu tersebut. Ia tidak hanya menunjukkan pada saya soal keberdayaan secara ekonomi tetapi juga eksistensi untuk dirinya dan anak-anak. Mungkin bisa saja ibu tersebut duduk diam di rumah atau meminta belas kasihan orang lain terlepas apa yang melatar belakanginya, tapi tidak ia lakukkan. Yang kulihat, ia cekatan, percaya diri, dan menjalani hidupnya dengan penuh semangat.

Pada akhirnya, perjalanan menuju peristirahatan Kartini mengantarkan pada beragam realitas. Memang, tulisan ini tidak mungkin bisa disandingkan dengan Perjalanan Arya Purwalelana Mengelilingi Jawa (1860-1875) (2024) gubahan R.M.A.A. Chandranegara V, paman Kartini, yang penuh dengan detail juga segudang cerita. Tapi, setidaknya tulisan ini bisa menjadi penyambung ingatan sekaligus memori rasa lelah yang membahagiakan. Mata dan tubuh dihadapkan pada kenyataan yang nyata dan manusiawi.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo