Dark
Light
Dark
Light

Komunitas Cadar Garis Lucu, Melawan Stigma Lewat Narasi Digital

Komunitas Cadar Garis Lucu, Melawan Stigma Lewat Narasi Digital

“Cadar saya adalah pakaian kemerdekaan saya”  

—Ainun Jamilah—

Cadar kerap diidentikkan dengan teroris, sifat intoleran dan antikeberagaman. Keterlibatan perempuan bercadar dalam beberapa teror bom makin mempertebal stigma tersebut. Padahal, realitasnya tidak demikian. Fenomena dan keyakinan mengenakan cadar tidaklah tunggal.

Sejak 2021, Ainun Jamilah, perempuan asal Makassar yang kini tengah menempuh S2 di UIN Yogyakarta dengan fokus Islam dan kajian gender itu mempelopori gerakan Cadar Garis Lucu.

Melalui komunitas tersebut, perempuan yang sehari-hari menggunakan cadar dipadupadankan bersama gamis renda favoritnya itu menyuarakan isu Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) melalui media sosial.

Pernah suatu kali, ia terlibat dalam demo mengecam bom Makassar bersama para aktivis dari berbagai latar belakang untuk mengikis stigma perempuan bercadar usai peristiwa teror bom di Makassar pada 4 April 2021.

Cadar Garis Lucu terbentuk pada awal 2021 sebagai respons terhadap stigma yang melekat pada perempuan bercadar. Ainun dan teman-temannya menyadari bahwa mereka tidak sepenuhnya diterima di komunitas bercadar yang lebih konservatif, namun juga merasa sulit diterima oleh kalangan moderat karena penampilannya yang tertutup.

“Karena kebingungan ini, akhirnya kami menciptakan rumah kami sendiri dan jadilah Cadar Garis Lucu,” ujar Ainun.  

Meskipun dinamakan "Cadar Garis Lucu", komunitas ini terbuka untuk semua kalangan, tidak hanya perempuan bercadar. 

“Siapa pun bebas mengampanyekan isu kebebasan beragama dan hak asasi manusia,” ucapnya.

Ainun menekankan bahwa komunitas ini adalah platform advokasi digital, bukan komunitas dengan keanggotaan formal. Fokus utama mereka adalah menciptakan narasi yang lebih inklusif tentang perempuan bercadar dan identitas perempuan lainnya melalui media sosial.

Ainun mengakui bahwa menyuarakan isu-isu ini di media sosial tidaklah mudah. Ia acap kali diserang, baik secara langsung maupun melalui platform digital, namun Ainun dan teman-temannya tetap konsisten pada misi mereka. 

Mereka berhati-hati dalam membuat konten dan selalu berupaya untuk tidak memperburuk situasi, terutama ketika membahas isu-isu sensitif.

Ia juga gemas bagaimana media dan masyarakat belum sepenuhnya adil dalam melihat keragaman perempuan bercadar. 

“Media dan masyarakat kebanyakan hanya menyoroti pada tindakan-tindakan negatif yang dilakukan oleh perempuan bercadar yang pada akhirnya menjadi kekerasan simbolik terhadap perempuan bercadar yang semakin memperkuat stigma sebagai simbol keagaaman yang ekstrim, dianggap radikal, dan sebagainya.  Bahwa memang ada perempuan bercadar seperti itu, iya,  tetapi tidak semua identitas perempuan bercadar seperti itu,” kata Ainun.

Cadar garis lucu punya sisi lain, kata Ainun. Perempuan bercadar bisa melakukan aktivitas di ruang-ruang publik, melakukan kegiatan-kegiatan sosial selama ekspresi keagamaan tidak mengganggu keamanan dan kenyamanan orang lain, sah saja karena negara demokrasi. 

“Jadi standing poin standar Cadar Garis Lucu itu di situ, kita tidak kemudian membuat seolah yang tidak di cadar garis lucu itu perempuan bercadar yang keliru, tidak sama sekali, kita hanya ingin memperlihatkan bahwa ekspresi perempuan bercadar itu sangat beragam, kompleks, tidak bisa digeneralisasi seperti yang diberitakan di media-media selama ini” tuturnya.

Advokasi untuk toleransi yang lebih luas 

Selain menyuarakan kebebasan beragama, Ainun juga mendorong agar toleransi mencakup kelompok marginal di luar isu agama, seperti disabilitas dan ragam gender serta seksualitas. 

Dalam Konferensi KBB 2024, yang dihadiri oleh Cadar Garis Lucu, isu interseksionalitas menjadi salah satu pilar yang dibahas, dan menurut Ainun, ini adalah langkah maju dalam mempromosikan toleransi.

Ainun sendiri berpandangan bahwa toleransi tidak hanya berhenti pada keragaman agama, toleransi harus bisa sampai menyentuh kelompok marginal yang kebanyakan masih dianggap sebagai sesuatu yang di luar dari pada isu agama seperti disabilitas, ragam gender, seksualitas dan sebagainya.

“Saya aktif menyuarakan isu interseksionalitas di akun pribadi. Menurut saya, ini langkah maju yang sudah dilakukan oleh teman-teman di isu toleransi, bagaimana kita melihat landscape tentang toleransi lebih luas dan lebih menyentuh kepada kelompok yang selama ini masih ditinggalkan,” kata Ainun.

Ainun memandang selama ini narasi agama seolah-olah meninggalkan isu disabilitas, ragam gender dan seksualitas, padahal agama juga menaungi mereka. Agama tidak pernah meninggalkan satu identitas apa pun.

“Jadi kalau menurut saya, ini satu langkah yang baik yang bisa kita upayakan untuk melihat, menarik isu toleransi pada sesuatu yang lebih besar dan lebih luas lagi dampaknya,” tuturnya.

Melalui jaringannya, Cadar Garis Lucu telah bekerja sama dengan berbagai komunitas lintas iman, termasuk Gusdurian. Ainun dan timnya juga kerap mengunjungi tempat-tempat ibadah agama lain seperti gereja dan vihara untuk mendorong dialog antaragama. 

Ainun meyakini bahwa toleransi agama sudah harus melibatkan kelompok-kelompok yang selama ini terpinggirkan.

Cadar Garis Lucu hadir untuk memastikan bahwa perempuan memiliki kebebasan dalam memilih, termasuk dalam hal pakaian. Tidak ada paksaan untuk mengenakan cadar, jilbab, atau pakaian agama lainnya, dan setiap perempuan harus diberi kebebasan untuk mengekspresikan identitasnya dengan cara yang mereka pilih. 

“Misalnya kasus pemaksaan jilbab, pelarangan jilbab di institusi maupun lembaga pendidikan itu tidak kami setujui, bahkan pemaksaan jilbab sama sekali, kami berdiri bersama hak- setiap individu untuk memilih, tidak karena kami beracadar kemudian kami setuju de ngan adanya pemaksaan jilbab apalagi pemaksaan cadar,” ujarnya. 

“Perempuan itu merdeka memilih, identitas berpakaian yang nyaman ia kenakan. Di dalam kita memilih berjilbab atau tidak itu tidak boleh ada paksaan sebab ketika ada pemaksaan bagi kami itu tetap kekerasan,” imbuhnya.

Lewat platform digitalnya, Ainun Jamilah dan komunitas Cadar Garis Lucu terus menyuarakan narasi inklusif bahwa perempuan bercadar juga memiliki keragaman identitas dan peran dalam masyarakat yang jauh dari stereotipe negatif yang sering kali dilekatkan pada mereka.

 

=============    
Liputan ini terbit atas kerja sama Arina.id dengan LTN PBNU dan Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTKI) Kementerian Agama
 


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo