Ratusan artikel menyanjung novel yang genap berusia lima puluh tahun di tahun 2024 ini: Momo, gubahan Michael Ende, penulis asal Jerman. Buku ini diselesaikan pada tahun 1972 dan mendapat penghargaan Deutsche Jugend Literatur Eis pada tahun 1974. Kini, diterbitkan kembali oleh Gramedia. Novel berkisah keajaiban seorang gadis cilik tunawisma bernama Momo yang memiliki bakat khusus, masalah apa pun jika diceritakan pada Momo, seketika akan muncul jalan keluar terbaik.
Mungkin kita akan berpikir bahwa Momo punya segudang solusi pada setiap masalah yang diceritakan padanya, sehingga orang-orang banyak datang untuk bercerita. Yang terjadi justru sebaliknya. Ia tidak bersuara, melainkan hanya diam, tapi melakukannya dengan lebih baik dibandingkan siapa pun, yaitu: mendengarkan.
Barangkali, menurut sebagian orang hal tersebut bukan sesuatu yang istimewa. Tapi, pendapat itu sepertinya keliru. Tidak banyak orang sanggup mendengarkan dengan sungguh-sungguh seperti yang dilakukan oleh Momo. Begitu pandainya gadis cilik itu mendengarkan orang lain, hingga orang bodoh pun mendadak bisa mendapatkan ide gemilang.
Momo tidak mengatakan atau menanyakan sesuatu yang bisa mengarahkan pikiran orang lain, ia hanya duduk mendengarkan orang itu dengan segenap perhatian dan sepenuh hati. Ia akan menatap orang tersebut dengan matanya yang besar dan berwarna gelap, dan orang yang bersangkutan akan merasa kebanjiran ide yang tak pernah disangka-sangka bermunculan tanpa henti.
Begitu banyak kekaguman dipersembahkan pada Momo, sang tokoh utama. Kita boleh memberi perhatian pada tokoh lain. Kali ini, kita akan menyelami sosok pendukung dalam cerita: Beppo Tukang Sapu Jalanan. Tokoh ini tidak kalah menarik dari Momo. Jika momo spesial karena mampu mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian, Beppo spesial karena mampu menahan diri untuk bicara, berhati-hati dalam memilih kalimat untuk diucapkan.
Diceritakan, sebagian orang menganggap Beppo tidak sepenuhnya waras karena ia jarang menjawab jika ditanya dan lebih banyak hanya tersenyum ramah. Jika ia merasa tidak perlu menjawab, biasanya akan diam saja. Tapi, kalau merasa perlu menjawab, ia akan memikirkan jawaban paling tepat. Kadang-kadang membutuhkan waktu dua jam, kadang-kadang seharian penuh. Beppo perlu waktu agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak benar. Sebab menurut Beppo, seluruh kemalangan di dunia ini disebabkan oleh banyaknya kebohongan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, yang timbul semata-mata karena orang terburu-buru atau kurang teliti.
*
Di era modern saat ini, bicara tidak lagi diartikan berkomunikasi secara lisan atau langsung. Suara digantikan oleh peradaban klik yang memungkinkan siapa pun bisa mengirim, menyebarkan, dan mengunduh informasi. Dunia dipenuhi berbagai bunyi dari yang memang memiliki kepakaran hingga sebaliknya. Internet, buah modernisme memungkinakan siapa saja bisa merasa memiliki prestasi intelektual dan terjangkit sindrom ilusi kepakaran karena ketersediaan sumber informasi tanpa batas digenggaman.
Untuk beberapa hal, internet mempermudah kita dalam mengumpulkan informasi. Tapi, anugerah itu hanya berlaku untuk orang-orang yang sudah terlatih ataupun bagi mereka yang tahu apa sedang dicari. Internet menjadi sebuah masalah bagi pengguna yang belum mengetahui cara menilai sumber informasi. Mengapa demikian? Untuk menemukan sebuah informasi yang benar, pengguna harus berjalan di tengah terpaan badai informasi tak berguna yang dipasang oleh beragam orang, mulai dari anak-anak hingga nenek-nenek yang berniat iseng. Orang-orang pintar dan bodoh terpisah hanya lewat sentuhan jari.
Barangkali, kita boleh setuju dengan ungkapan Tom Nichols dalam bukunya Matinya Kepakaran (2018): “Pengguna internet telah menciptakan banyak hukum menarik untuk menggambarkan distraksi di dunia elektronik… Pandangan pengguna internet yang biasanya berakar kuat dan tidak dapat diubah adalah landasan Hukum Pommer, yaitu internet hanya dapat mengubah pikiran seseorang dari “tidak memiliki pendapat” menjadi “memiliki pendapat yang salah”.” Upaya pemerolehan ilmu yang melibatkan gerak, perenungan, dialektika terpotong dalam cepatnya arus komunikasi.
Kini, dunia dipenuhi perebutan posisi untuk bicara. Semua orang merasa perlu dan harus bicara. Di sisi lain, kita kehilangan orang-orang seperti Momo, seseorang yang mampu mendengarkan dan memahami suara orang lain dengan khidmat. Lalu orang-orang seperti Beppo yang mampu menahan lidahnya untuk tidak bicara apa yang tidak diketahui.
Beragam masalah muncul karena tidak menempatkan diri pada kemampuannya. Kita teringat pada kasus tahun 2020, terkait wawancara Anji dan Hadi Pranoto mengenai Covid-19 yang dianggap dapat menyesatkan publik. Video berujung pada kegaduhan dan penjara. Yang terbaru, publik dibuat riuh atas berita komersialisasi guru besar. Tempo (7/7/2024) mengabarkan bahwa sejumlah dosen dan pesohor mendapat gelar guru besar dengan memanipulasi jurnal penelitian lalu bermain mata dengan asesor di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Dari waktu ke waktu hal demikian berulang. Orang tidak mendengarkan yang semestinya, bicara yang seharusnya dan berujung pada mengambil bagian yang bukan haknya.
Bersikap diam memang dibutuhkan manusia dalam banyak kondisi. Bahkan, sikap ini dianjurkan oleh agama bagi masyarakat umum. Apalagi, saat kontroversi dan kegaduhan kerap terjadi di media sosial. Bertambah bisingnya suara justru kerap tidak menyelesaikan masalah, tapi malah memperuncing. Seperti yang dikatakan Prof Quraish Shihab dalam NU Online (22/5/2020): "Karena itu bila Anda berbicara jangan bertele-tele. Hanya sekali orang menyesal karena diam. Tapi siapa yang banyak bicara, menyesal berkali-kali.”
Editor: Kendi Setiawan


