Pada masa lalu, murid-murid di sekolah mengenal nama turut menentukan kesusastraan di Nusantara. Nama itu diajarkan sebelum murid-murid mengikuti kesusastraan abad XX. Nama tenar gara-gara gurindam: Raji Ali Haji (1808-1873). Di kalangan sastra Indonesia, nama itu berpengaruh dan biasa dikutip bila mengacu kesusastraan silam. Ia dikenang dengan ajaran-ajaran dalam gurindam tapi jarang terakrabi biografi atau warisan-warisan lain.
Nama itu biasa dimengerti berbarengan mengungkap situasi kesusastraan Melayu. Ingatan masa lalu itu dipengaruhi kehadiran orang-orang dan keilmuan Barat. Amin Sweeney (1991) menerangkan: "Pada cendekiawan Barat abad XIX dan XX mengira – malah tanpa memikirkan kemungkinan lain, mereka jelas menganggap – bahwa dalam dunia Melayu akan terdapat pembagian-pembagian bidang ilmu pengetahuan yang mirip dengan pembagian ilmu pengetahuan mereka sendiri dengan cabang-cabang ilmu.” Kita sejenak mengenali Raja Ali Haji itu mahir dalam ilmu bahasa dan kesusastraan.
Eropa pun hadir dan berpengaruh di Nusantara atau Melayu, sejak sekian abad lalu. Para pejabat dan sarjana menilai Nusantara atau Melayu dengan “kepongahan” pengetahuan bawaan mereka untuk ditaruh dalam lokalitas berbeda. Kita mengutip pendapat Amin Sweeney (1987) setelah melakukan riset panjang: “Dalam pendekatan praktisnya, para sarjana Belanda dan Inggris yang telah mengkaji alam Melayu agak berbeda: orang Inggris cenderung ‘sastrawi’, orang Belanda lebih ‘ilmiah’, walau tak ada yang memonopoli. Namun keduanya memakai anggapan dan pengandaian yang sama – ciri utama rangka pikiran mereka ialah penerimaan mutlak penelitian diakronik sebagai satu-satunya pendekatan yang sahih.” Kita sengaja mengutip kesilaman dan peran Eropa itu agar makin mengenali Raja Ali Haji.
Sosok sedang kita ingat dan perhatikan memiliki jalinan erat dengan intelektual Eropa. Kita mengetahui dalam buku berjudul Dalam Berkekalan Persahabatan: Surat-Surat Raja Ali Haji Kepada Von de Wall (2007) susunan Jan van der Putten dan Al Azhar. Buku mendokumentasi pelbagai hal meski belum lazim digunakan dalam pengajaran di sekolah dan univeritas di Indonesia. Pengenalan baku tetap saja Raja Ali Haji itu gurindam. Keterangan: “Penerbitan surat-surat ini sudah barang tentu tidak dapat dianggap telah menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan pribadi Raja Ali Haji, tetapi bisa kiranya memberi sekadar sumbangan pengetahuan yang lebih baik tentang keseharian dan gagasan tokoh ini.”
Para pembaca mungkin terkejut. Pengenalan sosok Raja Ali Haji melalui buku-buku pelajaran atau tuturan bisa berubah bila membaca surat-surat. Ia memang berseru Islam tapi kesadaran modernitas membuat pemahaman atas agama dan peradaban menjadi lentur, tak ada pengecapan mutlak. Raja Ali Haji rajin belajar agama tapi mengikuti hasrat pengetahuan modern melalui pergaulan dengan pejabat dan sarjana kolonial. Ia penasaran dan mengerti Eropa itu sumber.
Kita membaca surat-surat berlatar bulan Ramadhan saja. Di surat bertanggal 9 Ramadhan 1286 atau 13 Desember 1869, Raja Ali Haji mengabarkan kepada Von de Wall: “Dan jikalau ada saya minta mentega sedikit barang berapa suka tuan memberi, janganlah banyak, karena mentega di pasar tiada baik amat adanya.” Kita diingatkan keinginan Raja Ali Haji bisa menikmati mentega. Surat diajukan saat Ramadhan. Umat Islam biasa memiliki menu penting Ramadhan itu kurma. Raja Ali Haji justru berpikiran mentega mengingatkan cara dan selera Eropa dalam masalah makanan. Raja Ali Haji mengerti tata kehidupan modern dipengaruhi Eropa. Di surat, ia tak sekadar mengabarkan “permintaan” mentega tapi meminta bantuan dalam urusan naskah.
Masalah itu tercantum dalam surat sebelum memasalahkan mentega. Kita mengutip dari surat bertanggal 5 Ramadhan 1286 atau 9 Desember 1869: “Adalah kita maklumkan, hal kamus adalah naskahnya yang kita surat sendiri sudah banyak, hampir habis bab al-Pa. Akan tetapi mana-mana yang tersurat kepada kertas paduka sahabat, inilah kita kirimkan dahulu supaya boleh segera paduka sahabat mutaalah dan memeriksanya, mana-mana kurang tertinggal.” Pada abad XIX, Raja Ali Haji sibuk dalam perkara kitab bahasa dan perkamusan. Selama bulan Ramadhan, ia menunaikan puasa tapi tetap tekun dalam raihan dan persembahan pengetahuan.
Ramadhan, bulan penuh berkah. Raja Ali Haji memiliki beragam masalah, termasuk nafkah. Di sepucuk surat, 20 Ramadhan 1286 atau 24 Desember 1869, ia gamblang mengungkapkan: “Syahdan inilah kita maklumkan satu rahasia, jika mudah-mudahan boleh paduka sahabat kita tambahi wang pertolongan itu sepuluh ringgit lagi. Itupun jika paduka sahabat kita dengan suka serta ikhlas. Sebab pun kita minta tambahi itu sebab kita sekarang sudah tiada lagi daripada mendapat lain-lain, tiada seperti sehari-hari lagi.”
Surat-surat itu menguak ketekunan dalam pengetahuan, erat pergaulan, dan masalah-masalah hidup keseharian. Kita memerlukan beragam keterangan untuk mengetahui kesibukan selama Ramadhan. Sekian pengamat memang kagum dengan capaian pengetahuan kebahasaan dan perkamusan Raja Ali Haji. Ia ingin memberi persembahan bermutu tapi ada naskah-naskah tak bisa dirampungkan.
Ramadhan itu bulan pengetahuan. Raja Ali Haji berpikir dalam mengurusi naskah-naskah. Ia meminta pertimbangan dan nasihat dari intelektual Eropa biasa mendapat sebutan penuh pujian: Von de Wall. Kita sempat terkejut saat mengetahui Raja Ali Haji pun mementingkan mentega. Semula, jalinan itu mengacu pengetahuan. Kita perlahan disadarkan tentang makanan dan nafkah berlatar Ramadhan. Surat-surat telat terbaca sebagai warisan dari abad XIX.
Kita lanjutkan dengan membaca buku berjudul Dari Raja Ali Haji Hingga Hamka: Indonesia dan Masa Lalunya (1983) susunan Anthony Reid dan David Marr. Di situ, kita membaca artikel Barbara Watson Andaya dan Virginia Matheson mengenai Raja Ali Haji, sosok penting dan berpengaruh. Pendapat mula-mula: “Raja Ali Haji di atas segalanya merupakan produk zamannya, sangat memperhatikan akibat perubahan sosial-politik yang dialami dunia Melayu pada abad XVIII dan XIX.” Ia memang tenar dengan kemahiran dalam agama, sejarah, kesusastraan, kebahasaan, dan hukum.
Biografi tokoh itu dipengaruhi Barat, tak sekadar Islam atau adat. Penjelasan disampaikan berkaitan latar: “Masuknya Barat dalam masyarakat Melayu pada abad XIX memperkenalkan pemikiran-pemikiran perubahan dan kemajuan dan pandangan bahwa umat manusia berjalan pada tujuan yang tak terelakkan pada perbaikan moral dan sosial.” Raja Ali Haji mengalami hidup dalam ketegangan saat mengetahui guncangan-guncangan terjadi: agama, politik, kebahasaan, dan identitas. Ia menanggapi zaman dengan membuat tulisan-tulisan, membuat pergaulan-pergaulan pengetahuan.
Sekian tulisan dibuat memberi pengaruh-pengaruh dan terwariskan sampai sekarang. Pujian lagi: “Ia adalah seorang guru, teolog, dan seseorang dengan komitmen memelihara nilai-nilai tertentu dan cita-cita, dengan rasa tanggung jawab yang dalam terhadap masyarakatnya.” Kita sudah mengenali kembali dan membaca petikan-petikan surat Raja Ali Haji. Sosok tetap “mewangi” bagi kita memuliakan persembahan teks sastra, kebahasaan, dan perkamusan dari masa lalu. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan


